Dua Pilihan Untuk Ridwan Kamil, Jabar Atau Jakarta
4 mins read

Dua Pilihan Untuk Ridwan Kamil, Jabar Atau Jakarta

KNews.id – Nama mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK) masuk dalam bursa Pilkada Jakarta dan Jawa Barat 2024. Kader Partai Golkar itu mengantongi surat penugasan dari partainya untuk maju di dua provinsi tersebut.

Golkar lebih condong mendorong RK untuk maju di Jawa Barat karena berpotensi menang.

“Nah, kalau kita lihat hasil survei yang sekarang, kita bandingkan antara Ridwan Kamil di Jawa Barat dengan Ridwan Kamil di Jakarta, itu lebih besar peluangnya di Jawa Barat,” kata Wakil Ketua Umum Golkar Ahmad Doli Kurnia beberapa waktu lalu.

Namun, sejumlah partai besar juga melirik RK untuk maju di Jakarta. Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menyebut RK sendiri yang meminta untuk maju di Jakarta.

“Tetapi silakan dicek bahwa pada waktu itu kan yang minta mau maju Jakarta kan Pak Ridwan Kamil,” kata Dasco.

Ia mengatakan partainya memberikan rekomendasi kepada Ridwan Kamil untuk maju di Pilgub Jakarta 2024 berdasarkan rapat dengan Koalisi Indonesia Maju (KIM). Sementara itu, hingga saat ini, belum ada pernyataan dari RK soal Pilgub.

Pengamat politik Universitas Padjadjaran Idil Akbar menilai RK lebih berpeluang menang jika kembali maju di Pilgub Jabar.  Kans kemenangan itu merujuk hasil survei yang dirilis sejumlah lembaga. Dengan status sebagai petahana, ia mengatakan RK unggul secara popularitas hingga elektabilitas.

Sebaliknya, kerja politik RK akan lebih berat jika maju Pilgub Jakarta. Sebagai ‘pendatang baru’ ia harus menyusun strategi dari awal di Jakarta. Memahami karakter warga ibu kota, dan tantangan politik lain.

“Kalau di Jakarta dia sebagai new comers, orang baru yang harus sosialisasi kembali secara luas, dan saya pikir memang mulai dari awal kembali,” ujar Idil.

Terlepas dari tingkat kesulitan yang lebih tinggi di Jakarta, Idil menilai ada kecenderungan dan harapan RK untuk maju di Pilkada Jakarta. Menurutnya itu terlihat dari gimik-gimik yang diperlihatkan RK. Masalahnya, sebagai kader Golkar, RK tidak mungkin melangkahi keinginan partai jika Golkar ingin dirinya maju di Jawa Barat.

“Sebetulnya, bukan tidak bisa di Jakarta 1. Bisa saja mengikuti apa yang didukung Gerindra atau partai lain, tetapi konsekuensi dia ada dua,” kata Idil.

Pertama, kata dia, maju dengan tetap meminta restu Golkar. Kedua, maju namun keluar dari Golkar. Namun, Idil berpendapat hal itu akan menjadi preseden buruk bagi RK.
Ia menilai keinginan RK untuk maju di Jakarta tidak lepas dari Jakarta yang dinilai masih strategis sebagai batu loncatan untuk tampil di politik nasional.

“Di berbagai kesempatan sebelumnya, DKI menjadi batu loncatan untuk masuk ke kancah nasional. Katakanlah Pak Jokowi, Anies Baswedan. Tentu saja saya membacanya RK berupaya untuk mengarah ke sana,” ucapnya.

Karakteristik pemilih

Pengamat politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wasisto Raharjo menilai peluang menang RK masih cukup berimbang jika maju di Jakarta maupun Jawa Barat. Namun, Wasisto menggarisbawahi soal perbedaan karakteristik pemilih yang bisa menjadi faktor pertimbangan bagi RK.

“Perbedaan karakteristik pemilih Jawa Barat dan Jakarta perlu jadi pertimbangan. Di Jawa Barat relatif homogen secara etnisitas, secara identitas. Kalau Jakarta cenderung heterogen, itu tantangan tersendiri pula,” katanya.

Di sisi lain, menurutnya karakteristik pemilih di Jakarta itu bisa menjadi modal buat RK.
Ia mengatakan di Jakarta, sentimen primordialisme tidak sekencang di daerah lain, sehingga sebagai orang luar Jakarta, itu menjadi modal RK untuk masuk ke Jakarta.

“Misalnya, kita lihat Jakarta ini banyak migran yang memang akan lebih terbuka kalau misal nanti ada calon dari luar Jakarta. Sentimen putra daerah di Jakarta tidak terlalu besar seperti daerah lain, saya pikir itu menjadi pintu masuk RK untuk bisa berkarier di Jakarta, karena sentimen primordialisme tidak sekencang di daerah lain,” katanya.

Namun, Wasisto mengingatkan soal PKS sebagai pemenang pileg di Jakarta. Ia berpendapat segmen pemilih urban muslim punya kecenderungan berbeda dengan segmen pemilih RK.

“Di Jakarta kan yang menang PKS, ini notabene kawasan pemilih urban muslim. Ini kan punya kecenderungan berbeda dengan segmen pemilih RK. RK meskipun ada segmen itu ditangkap, tapi kan lebih variatif. Jadi itu faktor sebaliknya,” katanya.

Sementara itu, jika maju di Jawa Barat, ia juga menilai RK memiliki keunggulan dari rekam jejak dan popularitas. Menurutnya, dengan peluang yang sama besar, keputusan maju bergantung dari keinginan RK ke depan.

“Kalau misalnya dia ingin proyeksi ke nasional, ya menduduki kursi Jakarta atau mungkin jadi penguasa lokal, seperti Bu Khofifah, tidak masalah,” katanya.

(Zs/cnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *