spot_img
Sabtu, Februari 21, 2026
spot_img
spot_img

Dony Oskaria: BUMN Bukan Rugi, Laba 2025 Tembus Rp 332 Triliun

KNews.id – Jakarta – Kepala Badan Pengelola BUMN yang juga COO BPI Danantara Dony Oskaria mengatakan ada salah kutip terkait kinerja BUMN terkini. Menurut Dony, kerap ditulis BUMN rugi padahal faktanya tidak demikian. “Sebetulnya BUMN itu untung!” kata Dony dalam Economic Outlook 2026, Kamis (12/2/2026). “Bahkan tidak ada perusahaan untungnya lebih besar daripada BUMN (akumulasi)” lanjut dia.

Dony memaparkan, pada 2025 laba yang diperoleh BUMN sudah mencapai Rp 332 triliun. Laba sebesar ini disumbang terutama oleh 10 BUMN besar berturut-turut BRI, Pertamina, Bank Mandiri, Mind ID, Telkom, Bank BNI, PLN, BSI, Pelindo, dan Jasa Marga. Tahun ini ia rencana menggenjot keuntungan BUMN itu menjadi Rp 360 triliun. “Dan tahun ini saya targetkan 360 triliun untungnya.”

- Advertisement -

Hal ini, lanjut dia, tercermin juga dari daftar Fortune 500, sebuah daftar perusahaan terbaik yang diterbitkan oleh majalah bergengsi di AS. Di dalam daftar itu, PT Danantara Asset Managemen menyumbangkan 10 perusahaan dengan revenue 110 miliar dolar AS.

Dony mengatakan Danantara yang didalamnya bergabung BUMN-BUMN berkapitalisasi jumbo memiliki total ekuitas sebesar Rp 3.000 triliun dan aset sebesar Rp 14 ribu triliun. “Jadi itu perusahaan yang luar biasa besarnya. Tentu kita ingin ini returnnya harus lebih tinggi lagi. Jadi kalau sekarang untungnya masih Rp 360 triliun tahun ini, diharapkan oleh Bapak Presiden mestinya itu Rp 600 triliun. Nah karena itu makanya kita bekerja keras untuk mewujudkan itu,” kata Dony.

- Advertisement -

Persoalan laba-rugi BUMN sebelum terbentuk Danantara sempat disampaikan Menteri BUMN Erick Thohir pada berbagai kesempatan sejak 2019-2024. Terakhir pada November 2024, Menteri BUMN mengatakan ada tujuh dari 47 perusahaan pelat merah masih memiliki laporan keuangan yang negatif atau belum mendapat untung.

“Beberapa perusahaan BUMN yang cashflow-nya negatif, dari 47 BUMN, sekarang 40 sehat. Ada tujuh yang memang kita harus kerja keras untuk beberapa tahun ke depan,” kata Erick di Jakarta, ketika itu.

Adapun ketujuh BUMN tersebut adalah PT Krakatau Steel (Persero), PT Bio Farma (Persero), PT Wijaya Karya (Persero), PT Waskita Karya (Persero), PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Perumnas dan Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI).

Erick mengatakan Krakatau Steel sebenarnya sudah melakukan restrukturisasi pada 2019. Namun demikian, Perseroan tersebut sempat mengalami kebakaran, sehingga mempengaruhi operasional secara menyeluruh.

Terkait Bio Farma, Erick menyebut, kendala yang dihadapi adalah lantaran korporasi itu mendapat penugasan untuk pengadaan vaksin COVID-19, serta adanya masalah fraud yang dihadapi oleh anak usahanya, PT Indo Farma Tbk.

“Lalu juga ada beberapa penyelesaian Indo Farma, sama kita juga akan cari partner, ada suplay bahan baku lalu diproses di Indo Farma. Indo Farma termasuk kita perbaiki, terlepas isu-isunya, termasuk kita selesaikan kepegawaiannya, tetapi kita mesti scale up sedikit supaya jadi supply chain itu,” kata Erick.

- Advertisement -

Selanjutnya, Wijaya Karya (Wika) telah melakukan restrukturisasi, termasuk pada Wika Realty. Sedangkan Waskita Karya telah terjadi penandatanganan restrukturisasi senilai Rp 26 triliun dengan 21 kreditur.

“Wika dan Waskita ini sedang menunggu surat persetujuan dari Menteri Pekerjaan Umum, bagaimana bisa konsolidasi dari 7 karya jadi 3, sehingga bisa lebih sehat lagi kondisi karya-karya ini,” ucapnya.

Pada Jiwasraya, Erick menyebut bahwa progresnya semakin baik dan menunggu likuidasi.

Terkait Perumnas, Kementerian BUMN akan mengubah model bisnisnya, dari berfokus pada rumah tapak atau landed house menjadi hunian tingkat seperti rumah susun maupun apartemen.

“Terakhir, PNRI ini percetakan, sekarang dengan terbukanya market ini mulai kalah bersaing, ini salah satu yg akan kita restrukturisasi seperti apa mengenai PNRI,” ujar Erick. Ke depan, Kementerian BUMN masih akan melanjutkan rencana memperkecil jumlah perusahaan dari 47 menjadi 30 dan hanya terdapat 11 klaster.

(NS/RPB)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini