KNews.id – Jakarta 5 Januari 2026 – Presiden AS Donald Trump mengakui Amerika Serikat telah melakukan “serangan besar-besaran” terhadap Venezuela pada Sabtu. Ia juga mengatakan pasukan AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
“Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan besar-besaran terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang bersama istrinya, ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri. Operasi ini dilakukan bersama dengan Penegak Hukum AS,” tulis Trump dalam sebuah postingan di Truth Social.
CBS News melaporkan bahwa penangkapan terhadap Maduro dan istrinya dilakukan komando elite AS, Delta Force.
Presiden AS Donald Trump selama berbulan-bulan telah mengancam bahwa ia akan segera memerintahkan serangan terhadap sasaran-sasaran di wilayah Venezuela. AS juga telah menyita kapal tanker minyak yang terkena sanksi di lepas pantai Venezuela.
Trump juga memerintahkan blokade terhadap kapal tanker lain dalam sebuah tindakan yang tampaknya dirancang untuk memberikan tekanan yang lebih ketat pada perekonomian negara Amerika Selatan tersebut.
Militer AS telah menyerang kapal-kapal di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur sejak awal September. Pada hari Jumat, jumlah serangan kapal yang diketahui adalah 35 dan jumlah orang yang tewas setidaknya 115, menurut angka yang diumumkan oleh pemerintahan Trump.
Perkembangan ini juga dibarengi penumpukan besar pasukan Amerika di perairan Amerika Selatan, termasuk kedatangan kapal induk tercanggih di Amerika pada bulan November. Kedatangan kapal itu menambah ribuan tentara lagi yang merupakan kehadiran militer terbesar di wilayah tersebut selama beberapa generasi.
Trump membenarkan penempatan kapal tersebut sebagai tindakan eskalasi yang diperlukan untuk membendung aliran narkoba ke Amerika Serikat dan menegaskan bahwa Amerika terlibat dalam “konflik bersenjata” dengan kartel narkoba.
Presiden Venezuela, Nicolás Maduro sebelumnya mengatakan AS ingin memaksakan perubahan pemerintahan di Venezuela dan mendapatkan akses terhadap cadangan minyak yang besar melalui kampanye tekanan selama berbulan-bulan yang dimulai dengan pengerahan militer besar-besaran ke Laut Karibia pada Agustus.
Dalam beberapa hari terakhir, Venezuela mengindikasikan pihaknya terbuka untuk merundingkan kesepakatan dengan AS untuk memerangi perdagangan narkoba, kata Maduro, bahkan ketika ia tetap bungkam atas laporan serangan yang dipimpin CIA terhadap negaranya pekan lalu.
Setelah serangan pagi ini, Kementerian Luar Negeri Venezuela mengatakan bahwa Presiden Nicolas Maduro telah mengeluarkan dekrit yang menyatakan keadaan darurat di negaranya. Seluruh kekuatan tempur di negara itu juga dikerahkan untuk menghadapi serangan yang terjadi sejak Sabtu dini hari waktu setempat.
Sebagai reaksi pertama terhadap serangan yang menargetkan ibu kota Caracas, Menteri Luar Negeri Venezuela Yván Eduardo Gil Pinto menyatakan bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro telah mengeluarkan keputusan untuk mengumumkan keadaan darurat di negaranya dan beralih ke pertempuran bersenjata. Ia memerintahkan pengerahan segera seluruh pasukan pertahanan populer di seluruh negeri.
Menteri tersebut menambahkan dalam pernyataannya bahwa serangan-serangan tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB dan mengancam perdamaian dan stabilitas internasional, serta memperingatkan bahwa “usaha apa pun untuk mengubah rezim yang berkuasa di negara kita akan gagal, sama seperti semua upaya sebelumnya yang telah gagal.”
Menteri Luar Negeri Venezuela menuduh Amerika Serikat berada di balik serangan baru-baru ini yang menargetkan kawasan pemukiman dan infrastruktur. Dia menambahkan bahwa Venezuela berhak membela rakyat, wilayah, dan kedaulatannya secara sah. Ia menyatakan bahwa tujuan penyerangan adalah untuk merampas sumber daya negara, khususnya minyak dan gas.
Koresponden Aljazirah melaporkan bahwa gambar yang berasal dari kota tersebut menunjukkan gumpalan asap membubung dari berbagai penjuru ibu kota. Saksi mata di Caracas melaporkan mendengar ledakan berulang kali dan suara pesawat di atas, yang menurut laporan awal menunjukkan bahwa serangan tersebut dilakukan melalui serangan udara.
Media Venezuela juga melaporkan ledakan di pelabuhan La Guaira di negara bagian Vargas, pelabuhan terbesar di Venezuela, serta di sepanjang pantai negara itu dan di kota Higueroti. Serangan tersebut juga menargetkan Bandara Higueroti, Pangkalan Udara La Carlota, dan kompleks militer Fort Tiuna.
Reuters melaporkan listrik padam di daerah dekat pangkalan militer di selatan ibu kota, namun belum ada komentar resmi dari pihak berwenang Venezuela. Badan tersebut menambahkan bahwa pesawat, suara keras, dan setidaknya satu kolom asap terdengar dan terlihat di Caracas pada Sabtu dini hari.
Sementara, pihak oposisi Venezuela mengatakan mereka tidak mempunyai komentar resmi mengenai laporan serangan AS terhadap negara tersebut. Juru bicara pihak oposisi mengatakan kepada media bahwa saat ini belum ada tanggapan formal, karena pertanyaan terus berlanjut mengenai laporan ledakan dan dugaan aktivitas militer.
Salah satu tokoh oposisi yang paling menonjol adalah Maria Corina Machado, seorang kritikus sayap kanan Presiden Nicolas Maduro. Machado mendukung bulan peningkatan militer AS dan serangan terhadap apa yang disebut kapal narkotika oleh pemerintahan Trump. Dia menyebut tindakan Trump ‘menentukan’ setelah AS menyita sebuah kapal tanker minyak Venezuela bulan lalu.
Pemerintah Venezuela melarang Machado mencalonkan diri dalam pemilihan presiden, sebuah tindakan yang dikutuk oleh kelompok oposisi dan beberapa aktor internasional. Keberadaannya saat ini masih belum jelas.
Sedangkan Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel Bermúdez mengeluarkan kecaman tajam di media sosial, menuduh Washington melakukan “serangan kriminal” terhadap Venezuela dan menyerukan tanggapan internasional yang mendesak.
Dalam postingannya di X, Díaz-Canel mengatakan bahwa apa yang disebut sebagai “zona perdamaian” di Kuba sedang “diserang secara brutal”, dan menggambarkan tindakan AS sebagai “terorisme negara” yang ditujukan tidak hanya pada rakyat Venezuela tetapi juga pada “Amerika Kita” secara lebih luas.
Ia mengakhiri pernyataannya dengan slogan revolusioner: “Tanah Air atau Mati, Kita Akan Berjaya.”



