spot_img
Rabu, April 17, 2024
spot_img

Deskripsi Para Tokoh Seragam, Kebijakan Jokowi dari Sisi Moralitas Buruk Rupa

Oleh : Damai Hari Lubis, S.H., M.H.
Ketua Bidang Hukum & HAM DPP- KWRI ( Komite Wartawan Reformasi Indonesia).

KNews.id – Amatan terhadap tanggapan publik umumnya, atas dasar suguhan tontonan video youtube dan narasi dari berbagai diskusi atau bincang-bincang diskusi publik dari berbagai sumber bacaan yang termuat dibanyak media konvensional dan mainstream serta media online (NB. Termasuk penampakan aktifitas dari ruang WhatsApp).

- Advertisement -

Rata-rata statemen hukum, sosial ekonomi dan sikap politik, sesuai temuan dari berbagai pernyataan atau tanggapan para tokoh masyarakat bangsa (nasional) yang terdiri dari Para Tokoh Pergerakan, Akademisi, Rohaniawan Lintas Agama, Tokoh Jurnalis, termasuk Tokoh Aktivis dan Para Tokoh Demonstran, serta Purnawirawan TNI. melulu rata – rata = (sama dengan).

Bahwa Jokowi bukan sosok negarawan yang berdiri, bertindak dan mengayomi kepada semua golongan, namun Jokowi berlaku spesial terhadap sebuah golongan atau kelompok tertentu, sehingga disimpulkan oleh para tokoh, Jokowi sebagai seorang kepala negara merupakan representatif “wajah kepemimpinan yang buruk rupa”, dikarenakan banyak kinerja kepresidenannya, yang berupa implementasi diskresi politik, ekonomi dan hukum yang sungsang atau overlap.

- Advertisement -

Berikut inventarisir daftar nama dan cakupan konsentrasi dari para figur individu – individu dan atau kelompok yang konsisten pada gerak giat perjuangan, yang melakukan perlawanan dalam bentuk kritisi, protes keras, berbagai statemen, terhadap dinamika dan realitas pola pikir sungsang dari para pemimpin publik, dengan klasifikasi kategori kepakaran dan berdasarkan temuan paparan ilmiah mereka diruang giat diskusi, termasuk ulasan buah pikir dan statemen para tokoh dimaksud diberbagai media publik:

A. Kategori Hukum & Sosbud/ Sosial-Budaya- Politik

- Advertisement -

1. Eggi Sudjana dengan identitas TPUA / Tim Pembela Ulama & Aktivis serta komponen juang linear lainnya.
2. Marwan Batubara melalui kelompok Petisi 100
3. Ahmad Yani, Syahganda Nainggolan, M. Hatta Taliwang, Herman Kadir, Isra (Presidium 1000 Tim Relawan) dan kawan – kawan.

B. Akademisi

1. Rocky Gerung
2. Refly Harun
3. Prof. Dr. Suteki
4. Dr. M. Choir
5. Dr. Muhammad Taufik

C. Gerakan Suara Buruh dan Aktivis Demonstran

1. Mohammad Jumhur Hidayat

2. F.G.Nicholas Silalahi dan Para Sahabat Praktisi lapangan dan Aktivis Medsos.

D. Ulama dan Rohaniawan

1. Ulama Besar Asset Muslim Dunia, Imam Besar Tanah Air, Dr. Habib M.Rizieq Shihab, DPMSS. Berikut Para Ulama Pengikut dan Simpatisannya serta sayap juangnya.
2. Dr. Amin Rais dan para Cendikiawan PB. Muhammadiyah
3. Dr. Shamsi Ali ( Ulama Besar di USA ) asal Tanah Air.
4. Romo Frans Magnis Suseno.

E. Pakar dan Praktisi Politik Ekonomi, Ichsanuddin Noorsy dan Faisal Basri.

F. Jurnalis & Kritikus Sosial dan Kebijakan Publik (Sosial Politik).

Najwa Shihab, Faizal Assegaf, Harsubeno Arief, Edy Mulyadi, dan Rahma Sarita serta Saeful Zaman.

G. Tokoh Purnawirawan.

1. Jend.Gatot Nurmantyo (Purn. TNI)
2. MayJen. Sunarko (Purn.TNI) dan lain-lainya.

Bahwa, muatan kesimpulan narasi, yang dimaknai sebagai representatif “wajah kepemimpinan yang buruk rupa”, merupakan kesimpulan daripada semua pendapat para tokoh publik ini, utamanya dikhususkan kepada Jokowi dan eksistensi dalam konteks Pemilu Pilpres 2024. Serius nampak telanjang serta mengandung banyak kecurangan. Dan perspektif hukum dan politik ini, menyertakan data empirik (data dan fakta) atau tidak sekedar apriori semata. Namun semua temuan publik adalah gejala realitas daripada Pola Praktek Oligarkis (Politik, Moralitas, Hukum dan Diskresi Ekonomi) yang dipertontonkan Joko Widodo selaku Presiden RI.

Sehingga beberapa gelar oleh individu, maupun kelompok publik, pernah disandangkan kepada Jokowi, melalui semantik lewat sarkastik, atau majas tegas, yang deskriptif, bahwa perilaku Jokowi anomali, dalam konteks makna perilaku kepemimpinan atau leadership attitude status (status sikap atau pola kepemimpinan yang eksklusif/ keberpihakan yang negatif), atau kontradiktif dari idealnya karakter seorang kepala negara, menurut para tokoh, Jokowi nihil prestasi, bahkan perilaku dan jiwa kepemimpinannya ” condong abnormal ” dari sisi perspektif sistem hukum yang harus berlaku.

Semua status buruk ini sebagai implikasi dari segenap lalakon perilaku seorang presiden yang banyak ditemukan disfungsi oleh publik atau cacat prestasi, inklud terhadap ketidakmampuan dirinya memenuhi puluhan kontrak politik yang Ia janjikan, bahkan keabnormalan pola kepemimpinannya mengkontaminasi dalam wujud “degradasi moral” dari para pejabat publik dibawah dirinya yang nampak banyak temuan dengan sinyalemen berupa gejala – gejala ” korupsi pemikiran ” dengan pola meng-obstruksi atau mem-barrier nalar sehat ” bangsa ini.

Dan terhadap Jokowi, ada sekelompok kalangan mahasiswa, memberi gelar Jokowi sebagai The King of Lip Service dan gelar negatif tersebut sepertinya justru signifikansi representatif “(termasuk mewakili)” penilaian banyak tokoh publik serta masyarakat bangsa ini, dengan kata lain, Jokowi is King lip service merupakan bahasa sarkas representatif “wajah kepemimpinan yang buruk rupa” atau Jokowi sudah diidentifikasi oleh publik sebagai Presiden RI. yang gagal dan hobi berbohong.

Selanjutnya dengan fenomena politik yang akan bergerak dinamis menuju bergulirnya Hak Angket yang telah diinisiasi oleh Ganjar selaku Capres 03 yang menuduh adanya kecurangan yang TSM yang ditengarai adanya konspirasi antara penyelenggara negara tertinggi Jokowi bersama dengan KPU.RI dan BAWASLU RI dan para oknum – oknum pejabat aparatur publik lainnya yang tidak berlaku Jurdil, yang melenceng daripada UU.

Tentang Pemilu, termasuk pelanggaran terhadap banyak sistim hukum lainnya, dan nampak gendang bersambut oleh Capres 01, serta para relawan dan para kelompok simpatisan masing – masing kubu ( 01 – 03 ), kini tengah bersiap – siap memberi suport full moral terhadap penegakan konstitusi melalui momentum Hak Angket milik para wakil rakyat di parlemen.

Mudah – Mudah tak lama lagi, semoga sinar terang akan didapatkan bangsa dan negara ini, untuk segera meninggalkan sistim model ” bad politics, sistim diskursus politik kontemporer ala machiavelism yang dipertontonkan oleh Jokowi dan kroni “. Pucuk pimpinan yang tak peduli role model sesuai Etika Kehidupan Berbangsa ( TAp MPR Rai. nomor 6 Tahu 2001 serta nyata tak berkemampuan memenuhi teori tujuan berdirinya negara, demi mencapai kehidupan sejahtera seperti yang termaktub didalam pembukaan UUD. 45 Alinea ke Empat.

Pastinya Banyak Rakyat bangsa ini berdoa serta mayoritas penuh harap agar segera dan kapan lagi, ” sosok mirip Raja yang berdiri mengangkang akan terguling dan tumbang ”

(Zs/NRS)

Berita Lainnya

Direkomendasikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti

Terpopuler

Terkini