KNews.id – Jakarta – Pengamat pasar modal Budi Frensidy menyoroti dampak demonstrasi besar-besaran di Indonesia terhadap kekhawatiran investor, termasuk investor asing. Sebagaimana diketahui, demo terjadi di sejumlah daerah di Indonesia beberapa hari terakhir, tepatnya sejak 25 Agustus 2025.
Pada hari penutupan perdagangan pekan lalu, 29 Agustus 2025, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat bahwa investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp 1,12 triliun. Sementara di pasar keuangan, Bank Indonesia (BI) mencatat modal asing yang keluar bersih dari pasar keuangan RI selama rentang 25-28 Agustus 2025 mencapai Rp 250 miliar. “Investor mungkin akan tidak jadi atau menahan diri dulu untuk masuk dalam 1-3 bulan ini,” ujar Budi Frensidy.
Meskipun demikian, ia berharap kondisi domestik segera membaik. Dengan demikian, kata Budi, investor mau berinvestasi kembali. “Mudah-mudahan setelah itu, mereka masih bersedia masuk,” ujarnya.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia itu mengatakan ada sejumlah risiko yang mengintai jika gejolak ini terus berlanjut. Apalagi, kondisi fundamental ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja, yang bisa dilihat dari berbagai indikator. “Risikonya rupiah akan terus mengalami depresiasi, pengangguran juga tidak berkurang, daya beli turun, dan ekonomi semakin sulit,” ujarnya.
Ia meminta pemerintah segera mengatasi permasalahan yang terjadi di dalam negeri saat ini, sehingga kondisi menjadi stabil dan bisa meyakinkan investor. Selain itu, BI diminta melakukan tugasnya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. “Yakinkan dengan cepat (bisa) mengatasi para perusuh, sehingga kondisi menjadi stabil. Pastikan BI melaksanakan tugasnya, sehingga rupiah tidak terperosok dalam,” tutur Budi.





