spot_img
Rabu, Maret 11, 2026
spot_img
spot_img

Dampak Banjir Bandang, Pembalakan Liar Telah Membuat Tanah Kehilangan Kemampuan Menyerap Air

KNews.id – Jakarta, Banjir bandang menerjang sejumlah wilayah di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025. Bencana tersebut dilaporkan telah merusak ribuan bangunan serta infrastruktur publik.

Banjir bahkan telah merenggut banyak korban jiwa. Terbaru, korban meninggal dilaporkan sudah mencapai 753 orang meninggal dunia, sementara 650 orang lainnya masih hilang.

- Advertisement -

Lantas, mengapa banjir di Sumatera kali ini menimbulkan korban begitu banyak?

Manajer Kampanye Tata Ruang dan Infrastruktur Walhi, Dwi Sawung, mengatakan banyaknya korban jiwa tidak lepas dari kondisi ekosistem yang telah rusak parah. “Korban terbanyak di awal akibat longsor dan banjir bandang yang membawa kayu dan lumpur. Ini tanda-tanda kalau DAS-nya sudah rusak,” ujarnya.

- Advertisement -

Ia menjelaskan, kerusakan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) terjadi karena maraknya aktivitas tambang serta perkebunan, baik yang legal maupun ilegal.

Sawung juga menyoroti lemahnya mitigasi bencana oleh pemerintah daerah, padahal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah memberikan peringatan dini terkait Siklon Tropis Senyar jauh sebelum bencana terjadi.

“BMKG sebenarnya sudah melakukan peringatan dini. Yang lainnya bagaimana tindakannya itu yang beda-beda,” tuturnya. Menurut dia, peringatan dari lembaga-lembaga independen juga masih kerap diabaikan. Ia menambahkan, korban seharusnya dapat ditekan jika pemerintah setempat segera mengevakuasi warga setelah menerima peringatan cuaca ekstrem.

“Bisa begitu, jika sudah siap mitigasinya. Punya tempat evakuasi dan sudah ada peta kerentanannya,” kata Sawung. Kelemahan mitigasi lain juga terlihat pada kurangnya kesiapan logistik dan sarana angkutan untuk evakuasi.

Sawung menilai, peringatan dini melalui layanan SMS pun hingga kini belum berfungsi optimal. “Malah seperti SMS daruratnya dipakai untuk iklan. Ini harusnya Kominfo evaluasi. Waktu saya di Filipina, ada SMS peringatan akan ada badai,” ujarnya.

Terpisah, Koordinator Program Indonesia untuk Centre for Environment and Population Health, Febi Dwirahmadi, menyatakan selain perubahan iklim, faktor lokal sangat berperan besar dalam memperparah dampak banjir di Indonesia.

- Advertisement -

“Perubahan iklim memang membuat intensitas hujan meningkat. Tetapi faktor lokal seperti deforestasi dan perubahan penggunaan lahan juga sangat menentukan tingkat keparahan dampaknya,” jelas Febi, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (2/12/2025).

Menurutnya, pembalakan liar telah membuat tanah kehilangan kemampuan menyerap air.

“Dalam kasus Indonesia, tanah yang rusak oleh penebangan ilegal kehilangan kemampuan menyerap air. Akibatnya, hujan lebat dengan cepat berubah menjadi aliran permukaan yang berbahaya,” ujar Febi.

(FHD/Kmp)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini