Bukan TNI AL, Justru USS Carl Vinson yang Berani Melabrak Kapal Perang RRC di Natuna Utara

KNews.id- Kehadiran Kapal perang China Type 052D Luyang III class Destroyer di Natuna Utara jelas jadi peringatan. Natuna Utara tak bisa lagi dipandang sebelah mata karena China hendak menancapkan hegemoninya ke sana dengan mendatangkan kapal-kapal perangnya. TNI AL sebagai garda laut Indonesia sebenarnya sudah berada di Natuna Utara sejak bertahun-tahun lalu untuk mengamankan wilayah di sana.

Namun pernyataan dari Sekretaris Utama Bakamla Laksamana Muda S. Irawan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi 1 DPR RI pada 13 September lalu patut dicermati. Pasalnya kapal-kapal Indonesia keterbatasan bahan bakar untuk melaut.

“Ini mohon sebagai gambaran ataupun sebagai nantinya mohon bantuan dari yang terhormat komisi I ini dan sampai saat ini pun bahan bakar kita tidak ada.

Kapal kita siap untuk berlayar dan patroli tapi bahan bakar tidak ada, jadi kita mengandalkan TNI Angkatan Laut yang juga terbatas dengan bahan bakar,” ujar Irawan. Bahkan Irawan menyebut saat itu ada kapal induk US Navy yang berjarak 50 nautical mile dari pulau Natuna.

“Dan ini ada berita terbaru bahwa, kurang lebih jarak 50 nautical mil dari Natuna, itu sudah ada kapal Induk Amerika di sana dan mendekati kapal survei China,” kata Irawan.

Setelah ditelusuri ternyata kapal induk US Navy itu merupakan CVN-70 yakni USS Carl Vinson.

Dikutip dari rfa.org, dalam rilisannya Komandan Carrier Strike Group Carl Vinson, Laksamana Muda Dan Martin menjelaskan jika memang armadanya berada di 50 nautical mile di ZEE Indonesia di Natuna pada pekan ini.

Di sana ia ditugasi dari komando atas US Navy agar memastikan terjaminnya kebebasan semua negara untuk bernavigasi di perairan internasional. USS Carl Vinson saat itu memepet kapal survei China Haiyang Dizhi 10 yang dikawal destroyer Luyang III class yang mondar-mandir di Natuna Utara.

Baca Juga   SBK: Jangan Hanya Turunkan Baliho HRS, TNI Harus Berani Melawan Kapal Perang RRC di Laut Natuna

“Operasi kami di kawasan ini benar-benar merupakan ekspresi dari kesediaan kami untuk membela kepentingan kami dan kebebasan yang diabadikan dalam internasional. hukum,” kata Dan Martin.

USS Carl Vinson tak sendirian, ia dikawal tiga kapal perang lainnya saat melakukan operasi melabrak kapal-kapal China itu. China sendiri sebelumnya pernah menegaskan bila semua kapal niaga maupun kapal perang yang berlayar di Laut China Selatan harus melapor ke Beijing yang mengklaim wilayah itu. Jelas itu adalah tindakan sepihak dan sewenang-wenang China dan US Navy harus ambil tindakan.

“Setiap undang-undang atau peraturan negara pantai tidak boleh melanggar hak navigasi dan penerbangan yang dinikmati oleh semua negara di bawah hukum internasional.

Klaim maritim yang melanggar hukum dan luas termasuk di Laut China Selatan menimbulkan ancaman signifikan terhadap kebebasan laut, termasuk kebebasan navigasi, penerbangan, dan perdagangan yang sah.

Kami tidak akan terpaksa atau dipaksa untuk menyerahkan norma-norma internasional,” kata Dan Martin dimana armadanya sudah siap tempur lawan China.

Sementara itu dikutip dari Global Times, pengerahan USS Carl Vinson di Asia merupakan langkah provokatif.

“China sepenuhnya mampu dan percaya diri dalam menghadapi provokasi semacam itu,” ujar Global Times.

rfa.org melaporkan jika kapal survei Haiyang Dizhi beroperasi di ZEE Indonesia di Natuna Utara.

Namun Juru Bicara Bakamla Wisnu Pramandita pada 31 Agustus 2021 lalu menjelaskan tidak ada pelanggaran yang dilakukan Haiyang Dizhi.

“Saya tidak tahu persis berapa lama. Tapi itu AIS (automatic identification system)-nya aktif dan bisa dipantau. Tidak ada laporan gangguan dari rig. Itu mungkin jalur normal,” kata Wisnu seperti dikutip dari rfa.org.

Yang pasti Natuna Utara saat ini sedang jadi ajang pertunjukan kekuatan-kekuatan tempur World Class Navy dari China dan AS. (Ade/pkrkt)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Contact me
email