KNews.id – Jakarta, Pagi menjadi waktu yang utama bagi setiap Muslim untuk berzikir dan bermunajat kepada Allah SWT. Caranya dapat dengan meniru Baginda Nabi Muhammad SAW.
Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar An-Nawawiyah menyebutkan, zikir pada siang hari (an-nahar) yang paling utama adalah pada waktu pagi usai shalat subuh. Bahkan, di antara doa dan zikir yang dibiasakan Nabi Muhammad SAW ialah pada waktu pagi, di samping juga waktu sore.
Ini menunjukkan bahwa pagi merupakan waktu yang baik. Sebab, inilah momen kita mengawali hari yang baru. Karena itu, sudah sepantasnya dimulai dengan bermunajat kepada Allah. Di antara doa yang dipanjatkan oleh Nabi Muhammad SAW pada waktu pagi adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah.
Dia meriwayatkan bahwa tatkala pagi, Rasulullah SAW berdoa:
أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم كان إذا أصبَح قال: اللَّهمَّ إنِّي أسأَلُكَ عِلمًا نافعًا، ورِزْقًا طيِّبًا، وعمَلًا مُتقَبَّلًا
(Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’an wa rizqan thayyiban wa ‘amalan mutaqobbalan.)
Artinya, “Ya Allah, sungguh aku mohon kepada Engkau ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima” (HR Ibnu Majah).
Doa ini berisi tiga permohonan yang sangat penting digapai oleh setiap Muslim.
- Pertama, ilmu yang bermanfaat (‘ilman nafi’an). Siapa pun kita, terutama yang sedang menuntut ilmu, tentu sangat menginginkan kemanfaatan ilmunya. Ilmu yang bermanfaat tidak sekadar diukur dari seberapa banyak, tetapi lebih dari itu. Pengetahuan yang diperoleh hendaknya dapat memberikan kemanfaatan bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan bangsa dan umat.
Kemanfaatan ilmu itu dapat diukur dengan seberapa besar kebaikan ilmu dapat dirasakan oleh diri dan orang lain. Bukan ilmu yang merusak dan menyengsarakan umat, apa pun dalih dan profesinya.
- Kedua, rezeki yang baik (rizqan thayyiban). Hampir setiap kita, di saat pagi tiba, diawali untuk mencari rezeki. Dan, ajaran Nabi adalah bagaimana kita mencari rezeki yang baik.
Tentu saja, rezeki yang baik adalah yang diambil melalui cara dan proses yang benar dan dibelanjakan dengan jalan yang benar pula. Cara-cara haram, seperti korupsi, hanya akan menjauhkan diri kita dari keberkahan rezeki dan kebaikan nikmat.
- Ketiga, amal perbuatan yang diterima oleh Allah SWT (‘amalan maqbulan). Menurut para ulama, kriteria aktivitas amal kita dapat diterima Allah jika amal perbuatan itu benar (ash-shawab), yakni sesuai dengan tuntunan syariat, dan dilandasi dengan keikhlasan (al-ikhlash). Jika kita menginginkan amal baik diterima oleh Allah, maka kita harus mendasarkan amal kita dengan parameter kebenaran dan keikhlasan.
Semoga hari kita senantiasa dinaungi ilmu, rezeki, dan amal yang baik sebagaimana yang dimunajatkan Nabi SAW pada waktu pagi.



