spot_img
Rabu, Januari 28, 2026
spot_img
spot_img

Belanda  Melarang Orang – Orang Cina Menyewa Dan Membeli Tanah Pertanian

Oleh :  Sutoyo Abadi 

KNews.id – Jakarta  “Manusia yang kehilangan kesadaran sejarah pada dasarnya tidak berbeda dengan pasien di rumah sakit jiwa” (Sartono Martodirdjo).

- Advertisement -

“Di tengah kebohongan, kebenaran menjadi tindakan revolusioner.”( George Orwell  ).

Sejarah terus berlanjut, dari satu masa ke masa, hasrat Cina untuk menguasai Jawa ( Nusantara ) seperti yang pernah di coba oleh Khubilai Khan tidak pernah surut.

- Advertisement -

Sepanjang jaman orang – orang Cina datang ke Nusantara, pada masa kolonial mereka mereka memanfaatkan orang Eropa sebagai mitra untuk menguasai Nusantara.

Dalam hubungan dagang awalnya Belanda hanya sekedar menyewa gudang gudang saudagar Cina, lambat laun dengan alasan keamanan, mereka mempersenjatai penjaga gudang menjadi pasukan kecil.

Dari koloni kecil perlahan tapi pasti berubah menjadi sebuah wilayah jajahan. Belanda membuat aturan saling menguntungkan dengan pedagang Cina untuk memandu kaum pribumi sebagai buruh dan tenaga kasar.

Belanda juga memberlakukan aturan larangan penyewaan dan penjualan tanah pertanian di Jawa kepada orang-orang Cina. Belanda sangat sadar dan mengetahui bahayanya kalau pedagang ( Saudagar Cinta ) sampai menguasai tanah kaum pribumi.

Pedagang Cina, lihai untuk melakukan penyuapan dengan berbagai cara. Menyuap pegawai kompeni sangat beragam antara lain dengan minuman keras hingga memberikan “recognitiegeld” ( uang bayar setiap tahun sebagai pengakuan atas hak ).

Dari pemasukan judi dan candu sebesar 45 ribu Rijksdealders ( Rds) /tahun, perwira Belanda mendapat 15 ribu Rds/tahun.

- Advertisement -

Pada hakekatnya Belanja tidak akan mampu menguasai Nusantara selama 350 tahun tanpa peran serta mereka, karena merekalah kepanjangan tangan Belanda, bahkan faktanya para opsir Cina itulah sebenarnya yang melaksanakan order penindasan.

Pada era perjuangan kemerdekaan Indonesia, perilaku dan tabiat mereka tidak berubah Ideologinya adalah Angpao.  Pada saat pra kemerdekaan ekonomi Indonesia sebenarnya sudah di kuasai pedagang etnis Cina.

Penghianat demi penghianatan terus menerus mereka lakukan, namun dalam buku sejarah sangat rapi disembunyikan. Sampai kini urat nadi perekonomian Indonesia dalam kendalinya.

Presiden Sukarno dan Suharto yang sangat paham sejarah dan kondisi ekonomi yang sudah di kuasai etnis Cina melakukan pengendalian gerak gerik perdagangan etnis Cina dengan ketat.

Sejak era reformasi adalah sebuah era perjuangan gombal dan tolol, tidak sadar akan digiring merusak Indonesia. Benar terjadi ahirnya Indonesia menyerah menjual kedaulatan negara kepada etnis Cina dan kekuatan asing lainnya

Puncaknya diera Presiden Jokowi yang buta sejarah etnis Cina total bukan hanya menguasai ekonomi bahkan mereka sudah masuk urat nadi politik negara.

Berlanjut sampai sekarang, di era Presiden Prabowo lunglai mendapati kenyataan aspek ekonomi dan politik sudah dalam kendali Cina.

Penjarahan tanah rakyat  ( sejak tahun 1812 ) etnis Cina sudah di cegah dan di cegat pemerintah kolonial Belanda, karena tahu bahayanya saudagar Cina kalau sampai menguasai tanah kaum pribumi, bisa mengancam kekuasaan kolonial Belanda.

Saat ini penguasa negara begitu bodoh justru ikut membantu etnis Cina menjarah tanah rakyat ( kaum pribumi  ), kondisi Indonesia sangat mengerikan dan menyedihkan.

Suka atau tidak, setuju atau tidak, sepakat atau tidak,  untuk mengembalikan kedaulatan negara hanya ada satu – satunya jalan REVOLUSI SOSIAL.

“Di negara kita, penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala yang baru, tidak kita jumpai pada masa revolusi” ( M. Natsir ).

(FHD/NRS)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini