KNews.id – Kyiv – Badan Antikorupsi Nasional Ukraina (NABU) pada Selasa (11/11/2025) mengumumkan telah menahan lima orang dan mengidentifikasi tujuh tersangka lainnya dalam penyelidikan besar-besaran terkait dugaan suap senilai sekitar USD 100 juta atau Rp1,67 triliun di sektor energi negara tersebut.
Dalam pernyataannya seperti dilansir Associated Press, NABU tidak menyebutkan nama para tersangka, tetapi menyatakan mereka termasuk seorang pengusaha yang diyakini sebagai dalang utama skema ini; mantan penasihat menteri energi; dan seorang eksekutif dari perusahaan energi nuklir nasional Energoatom.
Pernyataan itu muncul sehari setelah lembaga tersebut mengungkap beberapa rincian dari penyelidikan selama 15 bulan terhadap dugaan korupsi di sektor energi, termasuk di Energoatom.
Sejumlah besar dana Ukraina dan asing telah mengalir ke sektor energi untuk memperbaiki infrastruktur yang terus rusak akibat serangan udara Rusia yang tiada henti. Kementerian Energi Ukraina mengatakan pada Selasa bahwa Rusia menyerang infrastruktur energi di wilayah Kharkiv, Odesa, dan Donetsk pada malam sebelumnya dan bahwa pemadaman listrik terjadwal diberlakukan di sebagian besar wilayah Ukraina.
Peran Badan Antikorupsi dan Tanggapan Zelenskyy
NABU bertugas memberantas korupsi yang telah lama mengakar — masalah yang dianggap menghambat upaya Kyiv untuk bergabung dengan Uni Eropa. Lembaga ini menargetkan kasus korupsi tingkat tinggi, terutama yang melibatkan pejabat senior dan perusahaan milik negara.
Sebelumnya, NABU juga melaporkan pengungkapan skema besar yang melibatkan penggelembungan kontrak pengadaan militer dan penggelapan jutaan dolar dana yang dialokasikan untuk pembelian amunisi mortir dalam upaya Ukraina melawan invasi besar-besaran Rusia.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyambut baik penyelidikan terbaru ini. “Setiap tindakan efektif melawan korupsi adalah kebutuhan mendesak,” katanya dalam pidato malamnya pada Senin (10/11).
Ia mendesak para pejabat pemerintah untuk bekerja sama dengan para penyidik.
Zelenskyy sendiri menghadapi ketidakpuasan publik terkait isu korupsi. Bulan lalu, ia dengan cepat membatalkan sebuah undang-undang yang akan membatasi independensi lembaga pengawas antikorupsi setelah terjadi protes besar di jalanan. Pejabat Uni Eropa turut mendesaknya untuk mengubah keputusan tersebut.
Skema Suap di Energoatom
Para penyidik antikorupsi menuduh bahwa para pemasok Energoatom dipaksa membayar suap sebesar 10 hingga 15 persen dari nilai kontrak untuk terus dapat menyediakan barang dan jasa bagi perusahaan tersebut.
Mereka mencurigai pula bahwa sejumlah pejabat tinggi menggunakan koneksi mereka untuk mengendalikan urusan jabatan dan pegawai, proses pengadaan, serta aliran dana demi menjalankan skema suap tersebut.
Energoatom, perusahaan milik negara yang menghasilkan lebih dari separuh pasokan energi Ukraina, mengatakan dalam pernyataannya bahwa penyelidikan ini tidak mengganggu produksi maupun keselamatan operasional.
Serangan Balasan Ukraina ke Fasilitas Energi Rusia
Sementara itu, Komando Militer Ukraina pada Selasa mengklaim bahwa pasukannya menyerang dua kilang minyak dan satu terminal minyak Rusia sebagai bagian dari serangan drone jarak jauh yang bertujuan melemahkan sumber pendapatan utama Moskow bagi upaya perangnya.
Pasukan Ukraina kembali menyerang kilang minyak Saratov di Rusia pada malam hari, serangan kelima dalam beberapa bulan terakhir, yang menurut mereka memicu kebakaran besar. Target lain dalam operasi itu adalah kilang Orsknefteorgsintez, yang memproduksi lebih dari 30 jenis produk minyak bumi dan memasok kebutuhan militer Rusia.
Selain itu, pasukan Ukraina juga menyerang terminal minyak di pelabuhan Feodosia, di wilayah Krimea yang diduduki Rusia. Terminal tersebut digunakan untuk memasok bahan bakar dan pelumas ke semenanjung yang diduduki serta wilayah selatan Ukraina.
Di Moskow, Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) mengklaim pada Selasa bahwa mereka telah menggagalkan rencana intelijen Ukraina untuk merekrut pilot Rusia dan membajak jet tempur MiG-31 yang membawa rudal hipersonik Kinzhal.
FSB kerap mengklaim telah menggagalkan berbagai rencana terhadap Rusia, namun tanpa memberikan bukti apa pun. Pejabat Ukraina belum memberikan komentar langsung terkait klaim tersebut.




