KNews.id – Jakarta – Sholawat Qiyam, atau lebih dikenal dengan istilah Mahallul Qiyam, merupakan tradisi unik dalam pembacaan kitab maulid Nabi Muhammad SAW, terutama dalam kitab-kitab seperti Barzanji, Diba’i, dan Syaraf al-Anam. Oleh karena itu, umat Islam perlu mengetahui bacaan sholawat qiyam, makna dan hikmahnya.
Merujuk Analisis Al-Munada dalam Syair Mahallul Qiyam (Kitab Majmu’atul Mawwalid), oleh Rahmawati, Mahallul Qiyam berasal dari kata Arab مَحَلُّ الْقِيَامِ yang secara harfiah berarti “tempat berdiri”. Dalam konteks tradisi Islam, khususnya Ahlussunnah, Mahallul Qiyam merujuk pada ritual berdiri bersama-sama saat pembacaan sholawat yang mengiringi kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat membaca bait-bait sholawat tertentu, terutama saat disebutkan frasa “Yā Nabī Salām ‘Alaika, Yā Rasūl Salām ‘Alaika” (Wahai Nabi, salam sejahtera bagimu, Wahai Rasul, salam sejahtera bagimu).
Berikut ini adalah ulasan lengkap tentang bacaan sholawat qiyam, makna Mahallul Qiyam dalam tradisi Indonesia, alasan keberadaannya dalam pembacaan sholawat, serta hikmah yang terkandung di dalamnya.
Bacaan Sholawat Qiyam
Berikut ini adalah bacaan mahalul qiyam lengkap beserta dengan tulisan latin dan artinya:
صَلَّى اللهُ عَلى مُحَمَّدْ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ
مَرْحَبًا يَا مَرْحَبًا يَا مَرْحَبًا، مَرْحَبًا جَدَّ الحُسَيْنِ مَرْحَبًا
Latin: Shallallāhu ‘alā Muhammad, shāllallāhu ‘alayhi wasallam
Marhaban yā marhaban yā marhaban, marhaban jaddal Husaini marhaban.
Artinya: Allah bershalawat untuk Nabi Muhammad saw, Allah bershalawat dan mengucap salam sejahtera untuknya.
Selamat datang, selamat datang, selamat datang, selamat datang kakek dari Husain, selamat datang.
يَا نَبِى سَلَامْ عَلَيْكَ، يَا رَسُوْلْ سَلَامْ عَلَيْكَ
يَا حَبِيْبْ سَلَامْ عَلَيْكَ، صَلَوَاتُ اللهْ عَلَيْكَ
Latin: Yā nabī salām ‘alayka, yā rasūl salām ‘alayka, Yā habīb salām ‘alayka, shalawātullāh ‘alayka
Artinya: Wahai Nabi, salam sejahtera untukmu, wahai Rasul salam sejahtera untukmu, Wahai Kekasih, salam sejahtera untukmu, shalawat (rahmat) Allah untukmu
اَشْرَقَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا، فَاخْتَفَتْ مِنْهُ الْبُدُوْرُ
مِثْلَ حُسْنِكْ مَا رَأَيْنَا، قَطُّ يَا وَجْهَ السُّرُوْرِ
Latin: Asyraqal badru ‘alayna, fakhtafat minhul budūru, Mitsla husnik mā ra’aynā, qaththu yā wajhus surūri
Artinya: Satu purnama telah terbit di atas kami, pudarlah jutaan purnama lain karenanya, Belum pernah kulihat seperti keelokanmu, wahai wajah yang gembira
اَنْتَ شَمْسٌ اَنْتَ بَدْرٌ، اَنْتَ نُوْرٌ فَوْقَ نُوْر
اَنْتَ اِكْسِيْرٌ وَّغَالِى، اَنْتَ مِصْبَاحُ الصُّدُوْرِ
Latin: Anta syamsun anta badrun, anta nūrun fawqa nūri, Anta iksīruw wa ghālī, anta mishbāhus shudūri
Artinya: Kau bak mentari, kau juga laksana purnama, kau cahaya di atas cahaya, Kau laksana obat segala guna (elixir) lagi mahal, kau adalah lentera hati
يَاحَبِيْبِيْ يَامُحَمَّدْ، يَا عَرُوْسَ الخَافِقَيْنِ
يَا مُؤَيَّدْ يَا مُمَجَّدْ، يَا اِمَامَ القِبْلَتَيْنِ
Latin: Yā habībi yā Muhammad, yā ‘arūsal khāfiqayni, Yā mu’ayyad yā mumajjad, yā imāmal qiblatayni
Artinya: Wahai Kekasih, wahai Muhammad saw, wahai pengantin Timur dan Barat, Wahai Rasul yang diperkuat (oleh wahyu), wahai Nabi yang agung, wahai imam dua kiblat
مَنْ رَآى وَجْهَكَ يَسْعَدْ، يَا كَرِيْمَ الوَالِدَيْنِ
حَوْضُكَ الصَّافِى الْمُبَرَّدْ، وِرْدُنَا يَوْمَ النُّشُوْرِ
Latin: Man ra’ā wajhaka yas‘ad, yā karīmal wālidayni, Hawdhukas shāfil mubarrad, wirdunā yawman nusyūri
Artinya: Siapapun yang memandang wajahmu pasti bahagia, wahai manusia yang memiliki orang tua mulia. Telagamu berair jernih dan sejuk, yang kelak kami datangi pada hari kebangkitan
مَا رَأَيْنَا الْعِيْسَ حَنَّتْ، بِالسُّرَى اِلَّا اِلَيْكَ
وَاْلَغَمَامَةْ قَدْ اَظَلَّتْ، وَالْمَلَا صَلُّوْا عَلَيْكَ
Latin: Mā ra’aynal ’īsa hannat, bis surā illā ilayka, Wal ghamāmah qad azhallat, wal malā shallū (shallaw pada sebagian naskah) ‘alayka
Artinya: Belum pernah kami melihat unta peranakan unggul yang bersuara sambil berjalan malam hari, kecuali menuju kepadamu.
Gumpalan awan menaungimu, semua makhuk mengucapkan shalawat untukmu. Makna Mahallul Qiyam dalam Tradisi Indonesia.
Di Indonesia, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), Mahallul Qiyam bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga ekspresi kecintaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
Beberapa makna yang terkandung dalam tradisi ini adalah:
- Simbol Penyambutan Kelahiran Nabi
Mahallul Qiyam dilakukan saat disebutkan detik-detik kelahiran Nabi ﷺ. Berdiri adalah simbol penyambutan tamu agung, seolah-olah Nabi hadir di tengah majelis.
- Ekspresi Kerinduan (Syauq)
Berdiri sambil melantunkan sholawat menjadi media untuk meluapkan kerinduan kepada Rasulullah ﷺ, sebagaimana diungkapkan dalam syair Mahallul Qiyam:
“Ayyuha asy-syauq al-jazīl…”(Wahai kerinduan yang mendalam…)
- Bentuk Ta’zhim (Penghormatan)
Berdiri dalam Islam juga merupakan bentuk penghormatan (ta’zhim), sebagaimana diajarkan dalam hadis tentang menghormati ulama, orang tua, atau tamu.
- Penghayatan Makna Sholawat
Dengan berdiri, jamaah diajak untuk lebih menghayati makna sholawat yang dilantunkan, sehingga tidak hanya sekadar dibaca, tetapi juga dirasakan kehadirannya dalam hati.
Kenapa Ada Mahallul Qiyam dalam Pembacaan Sholawat Maulid?
Sholawat Barzanji merupakan salah satu kitab maulid yang paling populer di Indonesia. Mahallul Qiyam dalam Barzanji memiliki landasan historis dan teologis yang kuat:
- Menghidupkan Sunah Ta’zhim
Meskipun tidak dilakukan di zaman Nabi, tradisi ini termasuk bid’ah hasanah (inovasi baik) karena sejalan dengan prinsip menghormati Nabi SAW. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ menyatakan bahwa berdiri untuk menghormati orang mulia adalah sesuatu yang dianjurkan.
- Momen Puncak Penghayatan
Bagian Mahallul Qiyam dalam Barzanji adalah puncak emosional dari pembacaan maulid. Saat itulah jamaah diajak untuk merasakan kehadiran ruhani Nabi SAW.
- Memperkuat Kebersamaan (Ukhuwah)
Berdiri bersama dalam satu majelis menciptakan ikatan kebersamaan dan kekhusyukan kolektif, yang sulit dicapai jika hanya duduk.
- Tafsir atas Salam dalam Sholat
Dalam shalat, kita mengucapkan “Assalāmu ‘alaika ayyuhan nabiyyu…” yang menggunakan kata ganti “ka” (kepadamu). Ini menandakan bahwa Nabi SAW dihadirkan secara ruhani untuk menjawab salam kita. Mahallul Qiyam adalah pengejawantahan dari keyakinan tersebut dalam bentuk lahiriah.
Hikmah Mahallul Qiyam
Berdasarkan penelitian dalam skripsi yang dirujuk, serta pandangan ulama, berikut adalah hikmah Mahallul Qiyam:
- Meningkatkan Kekhusyukan
Berdiri membuat jamaah lebih fokus dan khusyuk dalam menghayati makna sholawat.
- Media Istighasah dan Doa
Banyak seruan dalam syair Mahallul Qiyam yang mengandung makna istighasah (minta pertolongan) kepada Nabi ﷺ, seperti:
“Yā Mujīra min Sa’īr…”(Wahai Yang menyelamatkan dari api neraka…)
- Mendidik Sikap Hormat
Tradisi ini mendidik umat untuk memiliki adab dan penghormatan kepada Nabi, yang kemudian terbawa dalam kehidupan sosial.
- Memperkuat Identitas Keislaman
Bagi masyarakat Indonesia, Mahallul Qiyam menjadi bagian dari identitas keislaman yang kultural, yang memadukan antara syariat, akidah, dan tradisi lokal.
- Sarana Tafakkur dan Dzikir
Allah memuji orang-orang yang berdzikir dalam keadaan berdiri, sebagaimana dalam QS. Ali Imran: 191. Mahallul Qiyam adalah bentuk dzikir kolektif yang dilakukan dengan penuh penghayatan.




