spot_img
Rabu, Juli 17, 2024
spot_img

Babak Baru ‘Perang’ AS-China, akan Mengacaukan Harga Saham Nih…

KNews.id- Hubungan Amerika Serikat (AS) dan China kembali memanas. Pemantiknya terjadi saat pemerintahan Presiden AS Donald Trump memblokir pengiriman semikonduktor dari pembuat chip global ke Huawei dan kian memicu naiknya ketegangan hubungan dua negara adidaya ini.

Dalam pengumumannya, Departemen Perdagangan AS menyatakan sudah merevisi aturan ekspor guna mengekang gerak bisnis Huawei sehingga pabrikan ponsel asal Shenzhen itu tak bisa mengakses produk-produk semikonduktor yang merupakan produk dari perangkat lunak (software) dan teknologi dari AS.

“Pengumuman ini mencegah upaya Huawei [mencari celah] untuk melemahkan kontrol ekspor AS,” kata Departemen Perdagangan AS, sebagaimana dilansir CNBC Internasional, Senin (18/5).

Mei tahun lalu, pemerintah Trump memang sudah melarang ekspor teknologi AS ke Huawei, tetapi raksasa teknologi China itu masih dapat membeli semikonduktor yang dibuat di luar AS dengan perangkat lunak dan peralatan AS. Departemen Perdagangan mengatakan revisi aturan baru ini memang dirancang untuk mengatasi celah itu.

- Advertisement -

Namun tampaknya aksi balasan dari China tinggal menunggu realisasi. Dalam sebuah cuitan di Twitter, seorang pemimpin redaksi sebuah surat kabar China yang dikendalikan negara, Global Times, mengatakan Beijing bisa saja mengambil tindakan balasan.

Komentar sang pemred tentang masalah perdagangan AS-China menurut Washington Post sering menjadi indikator yang dapat diandalkan untuk melihat apa yang akan dilakukan Beijing ke depan.

“Berdasarkan apa yang saya ketahui, jika AS lebih lanjut memblokir pasokan teknologi utama ke Huawei, China akan mengaktifkan ‘daftar entitas yang tidak dapat diandalkan’, membatasi atau menginvestigasi perusahaan-perusahaan AS seperti Qualcomm, Cisco dan Apple, dan menunda pembelian pesawat Boeing,” kata Hu Xijin, Editor in Chief di Global Times dalam cuitannya.

Boeing adalah pabrikan pesawat komersial yang berbasis di Chicago, Illinois, AS. Boeing adalah kompetitor utama dari pabrikan pesawat Uni Eropa yang berbasis di Prancis, Airbus.

Akankah bara perang dagang babak kedua ini bakal menghantam saham-saham emiten teknologi di bursa Wall Street naik di New York Stock Exchange (NSYE) dan Bursa Nasdaq?

Berdasarkan data perdagangan Jumat pekan lalu (15/5/2020), saham Apple Inc. berkode AAPL di Bursa Nasdaq ditutup minus 0,59% di level US$ 307,71/saham dan secara tahun berjalan atau ytd (year to date) naik hanya 4,79% dan setahun terakhir mampu melesat 61,17%.

Kapitalisasi pasar saham Apple mencapai US$ 1.333 miliar alias US$ 1,33 triliun di Nasdaq. Apple menjadi perusahaan AS pertama yang memiliki kapitalisasi pasar US$ 1 triliun yang pertama kali disentuh pada Agustus 2018, sempat tergerus menjadi US$ 976 miliar pada pertengahan 2019, lalu naik lagi. Saham Qualcomm Inc berkode QCOM di Nasdaq juga jatuh hingga 5,13% di level US$ 75,77/saham. Secara ytd, saham perusahaan semikonduktor AS ini minus 14,12% dan setahun turun 12,16% dengan kapitalisasi pasar (market cap) US$ 85,2 miliar.

Sementara itu, saham Cisco berkode CSCO ditutup naik 0,96% di level US$ 44,27/saham di Nasdaq. Tapi saham perusahaan sistem dan jaringan ini turun 7,69% secara ytd dan setahun terakhir juga jatuh 15,58%, dengan market cap US$ 187,7 miliar.

Saham pabrikan pesawat AS, Boeng Co, juga ambles 2,06% di level US$ 120/saham. Secara ytd, saham berkode BA di NYSE ini ambruk 63,16%. Setahun terakhir saham Boeing minus 65,28% dengan kapitalisasi pasar US$ 67,7 miliar. (FHD&CNBC)

Berita Lainnya

Direkomendasikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti

Terpopuler

Terkini