KNews.id – Jakarta 27 Januari 2026 – Ayat Kursi bukan sekadar ayat yang dihafal sejak kecil atau dibaca berulang kali sebagai wirid harian. Ia adalah benteng tauhid yang dibangun dengan kata-kata, mengunci celah ketakutan manusia, dan menegakkan kesadaran bahwa seluruh semesta berada dalam genggaman satu kekuasaan yang tak pernah lengah. Setiap kalimatnya seperti palu yang meruntuhkan ilusi tentang kekuatan selain Allah, sekaligus menenangkan hati yang lelah menghadapi dunia yang rapuh dan berubah-ubah.
Di balik kepopulerannya sebagai ayat perlindungan, tersimpan rahasia makna yang jauh lebih dalam: Ayat Kursi adalah peta akidah, ringkasan keimanan, dan deklarasi kemerdekaan ruhani manusia dari segala bentuk ketergantungan selain Allah. Para ulama tafsir besar menyelaminya bukan hanya sebagai teks suci, tetapi sebagai bangunan makna yang kokoh mengajarkan siapa Allah, siapa manusia, dan di mana posisi alam semesta dalam tatanan Ilahi.
Berikut ini adalah bunyi Ayat Kursi yang merupakan ayat ke-255 Surah al-Baqarah
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ
allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa’u ‘indahū illā bi`iżnih, ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min ‘ilmihī illā bimā syā`, wasi’a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Rahasia Ayat Kursi
Tafsir Mafātīḥ al-Ghaib (Tafsir al-Kabīr) Fakhruddin ar-Razi dan Tafsir ath-Thabari, menjelaskan kandungan ayat kursi sebagai berikut:
Ayat Kursi (QS. al-Baqarah: 255) menempati posisi istimewa dalam Alquran. Ia bukan sekadar ayat tentang keagungan Allah, melainkan ringkasan tauhid dalam bentuk paling padat, paling dalam, dan paling menyeluruh. Para ulama tafsir menyebutnya sebagai sayyidul ayāt—penghulu seluruh ayat—karena kandungannya mencakup fondasi akidah Islam secara utuh.
Asbābun Nuzūl Ayat Kursi
Dalam Tafsir ath-Thabari, diriwayatkan bahwa Ayat Kursi turun sebagai penegasan tauhid murni di tengah tradisi keagamaan yang masih dipenuhi konsep perantara, sesembahan, dan kekuatan kosmik selain Allah. Sebagian ulama menyebutkan bahwa ayat ini turun untuk mematahkan keyakinan Yahudi dan musyrikin Arab yang menganggap malaikat, nabi, atau makhluk tertentu memiliki otoritas ilahi atau kemampuan memberi syafaat tanpa izin Allah.
Ath-Thabari menekankan bahwa konteks turunnya ayat ini berkaitan erat dengan upaya Alquran meluruskan pemahaman tentang rububiyah dan uluhiyah Allah: bahwa kekuasaan, kehidupan, ilmu, dan pemeliharaan alam semesta sepenuhnya berada di tangan-Nya, tanpa celah sedikit pun bagi sekutu.
“Allāhu lā ilāha illā Huwa”
Fakhruddin ar-Razi dalam Mafātīḥ al-Ghaib menjelaskan bahwa kalimat pembuka Ayat Kursi adalah fondasi seluruh bangunan ayat. Penegasan “tidak ada Tuhan selain Dia” bukan sekadar penafian berhala fisik, tetapi juga penafian segala bentuk ketergantungan batin kepada selain Allah—baik kekuasaan, harta, maupun manusia.
Menurut ar-Razi, susunan kalimat ini sengaja diletakkan di awal untuk membersihkan hati sebelum memasuki pembahasan sifat-sifat Allah. Tauhid harus mendahului segala bentuk pengenalan terhadap sifat Ilahi.
Al-Ḥayy dan Al-Qayyūm: Kehidupan dan Penopang Semesta
Dalam tafsirnya, ar-Razi menyebut dua nama ini sebagai inti dari seluruh Asmaul Husna. Al-Ḥayy menunjukkan kehidupan Allah yang azali dan abadi, tidak didahului ketiadaan dan tidak diakhiri kematian. Sedangkan Al-Qayyūm bermakna Dia yang berdiri sendiri dan sekaligus menopang segala yang ada.
Ath-Thabari menegaskan bahwa penyebutan dua nama ini sekaligus membantah keyakinan bahwa alam berjalan dengan sendirinya. Setiap detak kehidupan, setiap gerak kosmos, bergantung sepenuhnya pada kehendak dan pemeliharaan Allah.
“Lā ta’khudzuhū sinatun wa lā naum”
Ar-Razi memberikan penekanan filosofis yang dalam pada frasa ini. Mengantuk dan tidur adalah tanda kelemahan makhluk, kebutuhan tubuh, dan keterbatasan energi. Ketika Allah menafikan dua hal ini dari Diri-Nya, itu berarti menafikan segala bentuk kekurangan secara mutlak.
Ayat ini, menurut ar-Razi, adalah bantahan halus namun tegas terhadap konsep ketuhanan yang menyerupai makhluk—sebagaimana keyakinan sebagian umat terdahulu yang membayangkan Tuhan bisa lelah atau beristirahat.
Kepemilikan Mutlak Langit dan Bumi
Ath-Thabari menafsirkan kalimat lahū mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ sebagai deklarasi kepemilikan total. Tidak ada satu atom pun di langit dan bumi yang berada di luar kekuasaan Allah, baik secara penciptaan, pengaturan, maupun penentuan takdir.
Dengan konsep ini, Alquran mencabut akar kesombongan manusia: bahwa apa pun yang dimiliki manusia pada hakikatnya hanyalah titipan.
Syafaat Hanya dengan Izin-Nya
Dalam Tafsir al-Kabīr, ar-Razi menekankan bahwa ayat ini tidak menolak konsep syafaat, tetapi membersihkannya dari penyimpangan. Syafaat bukan hak makhluk, melainkan anugerah Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.
Ini sekaligus membongkar keyakinan bahwa kedekatan dengan tokoh suci atau makhluk tertentu bisa menjamin keselamatan tanpa hubungan langsung dengan Allah.
Ilmu Allah yang Meliputi Segalanya
Ath-Thabari menjelaskan bahwa pengetahuan Allah mencakup masa lalu, masa kini, dan masa depan tanpa batas. Manusia, betapapun luas ilmunya, hanya memperoleh setitik kecil dari samudra ilmu Allah, dan itu pun semata karena kehendak-Nya.
Kesadaran ini, menurut para mufassir, seharusnya melahirkan kerendahan hati intelektual dan spiritual.
Makna Kursi Allah
Tentang kursi, para ulama berbeda pendapat. Ath-Thabari meriwayatkan pendapat yang menyatakan kursi sebagai makhluk besar yang meliputi langit dan bumi, sementara ‘Arsy berada di atasnya. Ar-Razi, dengan pendekatan rasional-teologis, membuka kemungkinan makna simbolik: kursi sebagai gambaran keluasan kekuasaan dan ilmu Allah.
Namun keduanya sepakat, apa pun penafsirannya, ayat ini bertujuan menanamkan rasa kecilnya alam semesta di hadapan kebesaran Allah.
Penjagaan Tanpa Keletihan
Frasa wa lā ya’ūdūhū ḥifẓuhumā menegaskan bahwa menjaga langit dan bumi tidak sedikit pun memberatkan Allah. Dalam tafsir ar-Razi, ini adalah puncak penafian kelemahan: kekuasaan absolut yang tidak pernah terkuras.
Al-‘Aliyy dan Al-‘Aẓīm
Ayat Kursi ditutup dengan dua nama Allah yang mengangkat kesadaran manusia dari bumi menuju langit makna. Al-‘Aliyy menunjukkan ketinggian Allah di atas segala sesuatu, sementara Al-‘Aẓīm menegaskan kebesaran-Nya yang tak terjangkau akal.
Menurut ar-Razi, penutup ini berfungsi mengikat seluruh isi ayat dalam satu kesadaran tauhid: bahwa Allah Mahatinggi dan Mahabesar dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya.
Ayat Kursi sebagai Perlindungan Spiritual
Karena kandungan tauhidnya yang utuh, para ulama memahami mengapa Ayat Kursi memiliki keutamaan besar dalam perlindungan diri. Ia bukan jimat, melainkan pernyataan iman yang meneguhkan hati bahwa tidak ada kekuatan selain Allah.
Ayat Kursi, dalam tafsir para ulama besar, adalah cermin akidah Islam: jernih, kokoh, dan menenangkan. Membacanya berarti memperbarui ikrar tauhid—bahwa hidup, penjagaan, dan keselamatan sepenuhnya berada dalam genggaman Allah Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus segala sesuatu.




