KNews.id – Jakarta 8 Februari 2026 – Ilmu pengetahuan modern kembali dihadapkan pada sebuah fenomena kosmik yang membuat manusia terdiam kagum. Sebuah tim astrofisika dari Universitas Oregon menemukan pancaran energi luar biasa dari sebuah lubang hitam supermasif: energi yang dalam empat tahun terakhir disebut seratus triliun kali lebih kuat daripada Death Star dalam film Star Wars.
Perbandingan budaya populer itu justru menegaskan betapa dahsyatnya kekuatan alam semesta yang sedang disingkap sains.
Fenomena ini berasal dari sisa-sisa bintang yang hancur ketika terlalu dekat dengan lubang hitam, sebuah peristiwa yang dikenal sebagai gangguan pasang surut. Pancaran jet yang dihasilkan termasuk di antara fenomena paling energik dan paling terang yang pernah diamati, bahkan setara dengan semburan sinar gamma.
“Ini benar-benar luar biasa. Saya hampir tidak bisa memikirkan objek lain yang kecerahannya meningkat dalam jangka waktu yang begitu lama,” kata Yvette Cendes, astrofisikawan Universitas Oregon, yang memimpin pengamatan objek ini, sebagaimana diberitakan Euronews.
Lubang hitam tersebut, yang secara ilmiah dinamai AT2018hyz dan dijuluki Cendes sebagai Jetty McJetface, telah menunjukkan peningkatan energi hingga lima puluh kali lebih terang dibandingkan tahun 2019.
Pancaran itu berbentuk satu jet kuat yang menembus ruang angkasa ke satu arah, sementara wilayah sekitarnya memancarkan cahaya tampak yang sangat redup. Para peneliti bahkan memperkirakan pancaran gelombang radio akan kembali menguat tahun depan dan mencapai puncaknya pada 2027.
Langit dan Yang Datang di Malam Hari
Menariknya, gambaran tentang benda langit yang datang, menembus, dan memancarkan cahaya dahsyat telah lama diabadikan dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:
وَٱلسَّمَآءِ وَٱلطَّارِقِ
Demi langit dan yang datang pada malam hari
وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلطَّارِقُ
Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?
ٱلنَّجْمُ ٱلثَّاقِبُ
(yaitu) bintang yang cahayanya menembus
(QS. At-Thāriq: 1–3)
Dalam Mafātīḥ al-Ghayb, Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa kata ath-thāriq mengandung makna sesuatu yang datang secara tiba-tiba di kegelapan, mengetuk kesadaran manusia, dan menembus apa yang sebelumnya tertutup. Sedangkan an-najmuṡ-ṡāqib dimaknai sebagai bintang dengan cahaya yang menembus kegelapan secara kuat dan tajam, bukan cahaya biasa yang lembut dan statis.
Ar-Razi menegaskan bahwa sumpah Allah dengan fenomena langit bukan sekadar penjelasan astronomi, melainkan isyarat tentang kekuatan kosmik yang melampaui nalar manusia, yang hanya dapat dipahami sebagian kecil saja oleh ilmu pengetahuan.
Ketika sains modern kini menyaksikan jet lubang hitam yang memancar selama bertahun-tahun, menembus ruang angkasa dengan energi yang hampir tak terbayangkan, ayat-ayat ini terasa bukan sekadar puitis, melainkan profetik.
Bintang-Bintang yang Beredar dan Menghilang
Isyarat serupa juga muncul dalam Surah At-Takwir:
فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلْخُنَّسِ
Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang,
ٱلْجَوَارِ ٱلْكُنَّسِ
yang beredar dan terbenam
(QS. At-Takwir: 15–16)
Dalam tafsirnya, Imam ar-Razi menjelaskan bahwa al-khunnas merujuk pada benda-benda langit yang menghilang dari pandangan, sementara al-jawāril-kunnas menggambarkan objek kosmik yang bergerak cepat pada orbitnya lalu seakan tersapu atau lenyap. Sebagian ulama klasik menafsirkannya sebagai bintang, sebagian lainnya sebagai planet, dan ar-Razi sendiri membuka kemungkinan makna yang lebih luas: fenomena langit yang belum sepenuhnya dikenal manusia.
Penjelasan ini menjadi relevan ketika ilmuwan modern berbicara tentang lubang hitam: objek kosmik yang tidak memancarkan cahaya, menghilang dari pandangan, namun dampaknya begitu nyata dan dahsyat. Bintang-bintang yang “lenyap” ketika tersedot gravitasi ekstrem, lalu memancarkan jet energi luar biasa, seakan menjadi tafsir kosmik yang baru tersingkap di zaman ini.
Ilmu Pengetahuan sebagai Jalan Takzim
Menariknya, para ilmuwan sendiri menyadari keterbatasan pengetahuan mereka. Hingga kini, belum ada yang dapat memastikan seberapa besar peningkatan emisi energi dari AT2018hyz. Karena itu, Cendes terus memantau objek tersebut dan bahkan mencari lubang hitam lain yang mungkin menunjukkan perilaku serupa, tetapi belum terdeteksi karena kurangnya perhatian ilmiah.
Badan Antariksa AS (NASA) merilis sebuah gambar yang menakjubkan dari kumpulan bintang-bintang di gugusan bola, yang terletak sekitar 13.000 tahun cahaya dari pusat galaksi Bima Sakti. – (nasa)
Di titik inilah Alquran dan sains bertemu: bukan untuk saling meniadakan, melainkan untuk saling meneguhkan. Ilmu pengetahuan membuka tabir bagaimana alam semesta bekerja, sementara wahyu mengingatkan mengapa semua itu ada—sebagai tanda kekuasaan dan keagungan Sang Pencipta.
Fenomena yang oleh manusia modern dibandingkan dengan Death Star sejatinya hanyalah sebagian kecil dari ciptaan Allah. Jika imajinasi fiksi saja mampu membuat manusia terpana, maka realitas kosmik ciptaan-Nya semestinya membawa manusia pada ketundukan dan ketakziman.
Sebagaimana ditegaskan para ulama tafsir, sumpah-sumpah Allah atas benda-benda langit bukan untuk mengagungkan ciptaan, melainkan untuk mengantar manusia mengenal kebesaran Sang Pencipta. Dan setiap penemuan baru di langit, sejauh apa pun teleskop manusia menembus angkasa, pada akhirnya hanyalah pengulangan dari satu pesan abadi: Langit adalah ayat-ayat Allah yang terbentang.
Lubang Hitam yang Menakjubkan
Lubang hitam atau black hole secara ilmiah didefinisikan sebagai wilayah di ruang angkasa yang memiliki medan gravitasi sangat kuat sehingga tidak ada materi apa pun, bahkan cahaya, yang mampu meloloskan diri darinya. Fenomena ini terjadi ketika sejumlah besar massa terkonsentrasi dalam ruang yang sangat kecil, menciptakan kepadatan yang hampir tak terhingga. Batas luar di mana cahaya tidak lagi bisa kembali disebut sebagai cakrawala peristiwa (event horizon), yang menjadi titik tanpa harapan bagi objek apa pun yang melewatinya.
Struktur dasar lubang hitam terdiri dari dua bagian utama: singulitas di pusatnya dan cakrawala peristiwa di sekelilingnya. Singulitas adalah titik di mana materi runtuh menjadi volume nol dan kepadatan menjadi tak terhingga, menyebabkan hukum fisika konvensional yang kita kenal tidak lagi berlaku. Di sinilah teori relativitas umum Einstein bertemu dengan mekanika kuantum, menciptakan teka-teki ilmiah yang hingga kini masih terus diteliti oleh para fisikawan teoretis di seluruh dunia.
Dunia pertama kali digemparkan pada tahun 2019 ketika proyek Event Horizon Telescope (EHT) merilis foto lubang hitam pertama dalam sejarah manusia dari galaksi M87.
Keberhasilan ini membuat dunia takjub karena untuk pertama kalinya, manusia “melihat” objek yang secara teori tidak bisa dilihat. Visualisasi piringan akresi berupa gas panas yang bersinar oranye di sekitar kegelapan abadi menjadi bukti nyata bahwa imajinasi sains manusia selama satu abad bukan sekadar fiksi, melainkan kenyataan yang mengerikan sekaligus indah.
Ketakjuban dunia kembali mencapai puncaknya pada Mei 2022, saat para ilmuwan merilis foto Sagittarius A* (Sgr A*), lubang hitam supermasif yang berada tepat di jantung galaksi kita, Bimasakti. Penemuan ini jauh lebih menggemparkan bagi penduduk Bumi karena Sgr A* adalah “tetangga” kita sendiri.
Dunia terpana menyadari bahwa di pusat “rumah” galaksi kita, terdapat monster gravitasi bermassa 4 juta kali matahari yang mengatur pergerakan bintang-bintang di sekitar kita. Keberhasilan menangkap gambar Sgr A* yang sangat dinamis dan bergejolak ini dianggap sebagai pencapaian teknis terbesar dalam sejarah pencitraan astronomi.
Kaitan lubang hitam dengan penelitian luar angkasa juga sangat erat dalam studi gelombang gravitasi. Melalui fasilitas seperti LIGO, para peneliti berhasil mendeteksi riak di ruang-waktu yang dihasilkan oleh tabrakan dua lubang hitam di kejauhan. Deteksi ini memberikan cara baru bagi manusia untuk “mendengar” alam semesta, bukan hanya melihatnya, serta memungkinkan kita mempelajari objek yang tidak memancarkan cahaya sama sekali.
Selain itu, lubang hitam memainkan peran krusial dalam evolusi galaksi. Lubang hitam supermasif bertindak sebagai mesin gravitasi yang memengaruhi pembentukan bintang dan stabilitas galaksi tersebut. Dengan meneliti interaksi antara lubang hitam dan materi di sekitarnya, para ilmuwan dapat memahami sejarah panjang bagaimana galaksi terbentuk dan berkembang selama miliaran tahun. Dunia terpesona oleh fakta bahwa kehancuran yang diciptakan lubang hitam di satu sisi, ternyata menjadi motor penggerak terciptanya struktur galaksi di sisi lain.
Fenomena gangguan pasang surut (Tidal Disruption Events), seperti pada penemuan AT2018hyz yang dibahas sebelumnya, memberikan laboratorium alami bagi para peneliti. Ketika sebuah bintang mendekati lubang hitam dan tercabik-cabik melalui proses spaghettification, energi yang dilepaskan memberikan data berharga tentang kekuatan gravitasi ekstrem. Penelitian ini membantu astrofisikawan mengukur massa lubang hitam dan kecepatan putarannya dengan lebih presisi, mengungkap betapa buasnya hukum alam di luar sana.
Akhirnya, lubang hitam memaksa manusia untuk mempertanyakan batas-batas pengetahuan kita tentang ruang dan waktu. Setiap penemuan baru, mulai dari foto M87 hingga Sgr A*: membawa kita satu langkah lebih dekat untuk menemukan “Theory of Everything”. Dunia tidak hanya takjub pada objeknya, tetapi juga pada kemampuan akal manusia yang mampu memetakan sesuatu yang berada jutaan tahun cahaya jauhnya, membuktikan bahwa rasa ingin tahu adalah energi paling kuat yang dimiliki umat manusia.




