KNews.id – Jakarta – Manusia terus mencari kebahagiaan. Namun, banyak di antara mereka yang tersesat dari jalan menuju kebahagiaan yang sejati. Mereka berlari mengejar fatamorgana yang tidak memiliki hakikat.
وأعوذ بك من مال يكون عليَّ عذابًا
“Aku berlindung kepada-Mu dari harta yang menjadi sebab azab bagiku.”
Betapa banyak orang yang justru disiksa oleh hartanya sendiri.
Di antara ilusi lainnya adalah anggapan bahwa kebahagiaan dapat diraih melalui ketenaran, baik di dunia olahraga, seni, maupun hiburan.
Padahal ketenaran yang tidak dibangun di atas ketakwaan kepada Allah bukanlah kebahagiaan, melainkan sumber kesengsaraan.
Popularitas sejatinya tidak memiliki nilai yang hakiki apabila tidak diiringi ketakwaan. Bahkan orang yang benar-benar bertakwa tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan hidupnya.
Sebab, ketenaran yang tidak dibangun di atas landasan yang benar akan cepat sirna. Ketika ketenaran itu hilang, pemiliknya sering kali terjerumus dalam kesedihan dan penderitaan.
Banyak orang mengira bahwa para atlet adalah orang-orang yang paling bahagia. Padahal kenyataannya, sebagian besar dari mereka menjalani hidup yang penuh tekanan.
Mereka berpindah dari satu pertandingan ke pertandingan lain, dari satu perjalanan ke perjalanan berikutnya. Waktu bersama diri sendiri dan keluarga sangat sedikit.
Belum lagi tekanan mental menjelang setiap pertandingan, kesedihan setiap kali mengalami kekalahan, serta cedera yang selalu mengintai dari berbagai arah. Ditambah lagi rasa takut terhadap penilaian publik ketika performa mereka menurun.
Semua itu membuat mereka hidup dalam tekanan yang berkepanjangan. Setelah pensiun, masyarakat perlahan melupakan mereka, sehingga rasa kehilangan dan kesedihan pun semakin bertambah.
Karena itu, kebahagiaan tidak terletak pada dunia olahraga, meskipun banyak orang mengiranya demikian. Demikian pula kebahagiaan tidak terdapat pada dunia tarik suara, hiburan, maupun seni peran.
Tidak sedikit pelaku dunia hiburan yang justru menjalani kehidupan yang penuh kegagalan, keretakan rumah tangga, terjerumus ke dalam narkoba, kerusakan moral, hilangnya rasa malu, dan pudarnya nilai-nilai kebajikan.
Sebagian orang juga mengira bahwa kebahagiaan terletak pada banyaknya anak dan pengikut yang akan membela, menguatkan, serta meneruskan nama baik seseorang.
Namun kenyataannya, tidak sedikit anak yang justru membangkang kepada orang tuanya, bahkan berubah menjadi musuh terbesar bagi mereka dan menjadi penyebab penderitaan hidupnya.
Lalu, di manakah kebahagiaan sejati jika bukan pada semua kenikmatan dunia itu? Alquran memberikan jawaban yang sangat jelas:
وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ
“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).” (QS Saba’: 37).
Alquran juga mengajak manusia merenung melalui firman Allah:
أَفَرَأَيْتَ إِنْ مَتَّعْنَاهُمْ سِنِينَ ثُمَّ جَاءَهُمْ مَا كَانُوا يُوعَدُونَ مَا أَغْنَى عَنْهُمْ مَا كَانُوا يُمَتَّعُونَ
“Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (QS Asy-Syu’ara: 205–207).
Itulah hakikat kebahagiaan semu yang sering disangka manusia sebagai kebahagiaan sejati.
Banyak orang yang dari luar tampak bahagia, padahal dalam kenyataannya mereka menelan kepahitan hidup, penderitaan, dan penyesalan setiap hari.
Salah satu contoh paling nyata dari kebahagiaan semu dapat dilihat pada sebagian negara yang sangat kaya, baik dari sisi kekayaan negara maupun pendapatan per kapitanya. Namun ironisnya, negara-negara tersebut justru mencatat angka bunuh diri yang sangat tinggi.
Sebagai contoh, Swedia termasuk salah satu negara dengan pendapatan per kapita yang tinggi. Namun negara itu juga dikenal memiliki tingkat bunuh diri yang tinggi.
Sebaliknya, banyak negara Islam yang secara ekonomi tergolong miskin, tetapi justru mencatat angka bunuh diri yang jauh lebih rendah.
Sebagian orang juga mengira bahwa kebahagiaan dapat diperoleh melalui kesombongan, kezaliman, dan sikap sewenang-wenang.
Padahal kezaliman selalu berakhir dengan kebinasaan, dan akibatnya sangat buruk, baik di dunia maupun di akhirat.
Ada pula orang yang menggantungkan kebahagiaannya kepada selain Allah. Misalnya, seseorang yang hatinya begitu terpaut kepada kekasihnya hingga melampaui batas.
Cukuplah kisah Majnun Laila sebagai pelajaran. Demi cintanya, ia hidup terlunta-lunta hingga kehilangan akal sehat dan akhirnya meninggal dalam keadaan tenggelam dalam cintanya.
Betapa banyak orang yang meninggal karena cinta yang berlebihan, menghadap Allah sementara hatinya bergantung kepada selain-Nya. Sungguh itu merupakan kerugian besar, baik di dunia maupun di akhirat.
Sebagian lainnya mengira bahwa kebahagiaan dapat diraih melalui minuman keras dan narkoba. Mereka menggunakannya untuk melarikan diri dari beban hidup, kesedihan, dan berbagai persoalan dunia.
Namun yang mereka dapatkan justru bagaikan orang yang menghindari panas api, tetapi malah terjatuh ke dalam kobaran api yang lebih dahsyat.
Sesungguhnya narkoba hanya mendatangkan kesengsaraan, keputusasaan, kerusakan moral, serta kehancuran individu, keluarga, masyarakat, bahkan bangsa.
Realitas yang kita saksikan pada hari ini sudah lebih dari cukup menjadi bukti akan bahaya tersebut. Maka hendaklah orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan keadaan mereka melalui firman-Nya:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha: 124).
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah kehidupan di dunia. Orang seperti itu tidak akan memperoleh ketenangan hati ataupun kelapangan dada.
Meskipun secara lahiriah ia hidup bergelimang kenikmatan, mengenakan pakaian yang indah, menikmati makanan yang lezat, dan tinggal di tempat yang mewah, selama hatinya belum dipenuhi keyakinan dan petunjuk Allah, ia akan terus hidup dalam kegelisahan, kebimbangan, dan keraguan. Itulah makna kehidupan yang sempit.
Ada pula orang yang beranggapan bahwa kebahagiaan akan datang apabila ia menikah, memiliki anak, atau menjadi kaya. Padahal semua itu justru bisa menjadi ujian yang berat apabila tidak disertai dengan kebaikan.
فعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: كان من دعاء رسول الله صلى الله عليه وسلم: اللهم إني أعوذ بك من جار السوء، ومن زوج تشيبني قبل المشيب، ومن ولد يكون عليَّ ربًا، ومن مال يكون عليَّ عذابًا، ومن خليل ماكر عينه تراني وقلبه يرعاني، إن رأى حسنةً دفنها، وإذا رأى سيئةً أذاعها
Dari Abu Hurairah RA diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk, dari pasangan yang membuatku beruban sebelum waktunya, dari anak yang menjadi penguasa atas diriku, dari harta yang menjadi sebab azab bagiku, serta dari teman yang licik; matanya melihatku, tetapi hatinya mengawasiku. Jika ia melihat kebaikanku, ia menyembunyikannya, dan jika melihat keburukanku, ia menyebarkannya.”
Sesungguhnya manusia terdiri dari jasad dan ruh. Janganlah seseorang mengira bahwa ia telah memperoleh kebahagiaan hanya karena memenuhi kebutuhan jasadnya.
Ia juga harus memperhatikan kebutuhan ruhnya. Kebahagiaan ruh hanya dapat diraih melalui ketaatan kepada Allah, memperbanyak zikir kepada-Nya, istiqamah di atas jalan-Nya, serta menjauhi segala bentuk maksiat dan dosa.





