spot_img
Jumat, Juli 19, 2024
spot_img

Anggota DPR Fraksi PDIP Usul Pembentukan Mahkamah Pancasila

KNews.id – Anggota Komisi II DPR Fraksi PDIP Heru Sudjatmoko mengusulkan pembentukan Mahkamah Pancasila. Usulan itu muncul setelah dirinya melamun.
Ia menyampaikan usulan itu dalam rapat antara Komisi II dengan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Sekretaris Kabinet (Seskab), Kantor Staf Presiden (KSP), dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di kompleks parlemen.

“Saya melamun, jangan-jangan perlu ada Mahkamah Pancasila. Saya ditertawakan enggak apa, ya, tapi dengan segala hormat saya ingin sampaikan pikiran ini,” kata Heru dalam rapat.

- Advertisement -

Heru menyampaikan Mahkamah Pancasila itu nantinya bisa berfungsi menjaga etika dan perilaku para pejabat. Ia mengatakan bentuknya pun bukanlah pengadilan seperti MA dan MK.

“Barangkali tentu bukan untuk mengadili seperti di Mahkamah Konstitusi atau Mahkamah Agung, tapi paling tidak BPIP bisa mengonsolidasi,” ucap dia.

Sikap Resmi BPIP: Larangan Salam Lintas Agama Mengancam Pancasila
Heru pun mencontohkan misalnya para tokoh bijak dikumpulkan untuk kemudian bersama-sama menulis pandangannya soal kebangsaan. Ia mengajak seluruh pihak untuk merefleksi diri, apakah perilaku selama ini telah sejalan dengan nilai Pancasila.

“Setidak-tidaknya perlu diingatkan, walau dalam pengertian tidak diadili, ini masalah perilaku dan etika yang sumbernya filsafat negara,” ujarnya.

- Advertisement -

Sebelumnya, BPIP menanggapi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang melarang salam lintas agama. BPIP menyatakan fatwa MUI tersebut telah mengancam eksistensi Pancasila.

“Secara sosiologis, hasil ijtima tentang pelarangan ucapan salam lintas agama dan selamat hari raya keagamaan mengancam eksistensi Pancasila dan keutuhan hidup berbangsa yang sejak dahulu kala telah terkristalisasi menjadi sebuah kearifan lokal,” kata BPIP dalam keterangan resminya. Anggota Dewan Pengarah BPIP Muhammad Amin Abdullah telah membenarkan pernyataan BPIP ini.

BPIP menilai toleransi antarumat beragama telah menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Baginya, tradisi ini menjadi bagian yang diwariskan sejak ratusan tahun lalu oleh pendahulu bangsa. Karena itu, BPIP menilai seharusnya masyarakat memperkuat semangat toleransi dan keberagaman, bukan merusak sendi-sendi persatuan.

Sementara fatwa MUI ini menyatakan pengucapan salam merupakan doa yang bersifat ‘ubudiyah. Oleh karena itu, harus mengikuti ketentuan syariat Islam dan tidak boleh dicampuradukkan dengan ucapan salam dari agama lain.

(Zs/cnn)

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti

Terpopuler

Terkini