KNews.id – Jakarta – Presiden petahana Lula da Silva menjadi sorotan dunia usai menang kali kedua di putaran kedua dalam pemilihan umum Brasil pada Oktober lalu.
Di putaran kedua Brasil, tim kampanye Lula memanfaatkan penuh strategi gerilya media sosial. Salah satu anggota tim yang juga anggota Kongres Andre Janones memanfaatkan kanal Whatsapp dan mengubahnya jadi “Pasukan Lula” atau Exercito de Lula.
“Saya sudah merekrut 1,5 juta orang untuk sebuah kanal di Whatsapp,” kata Janones di X pada 7 Oktober, beberapa hari setelah putaran pertama.
Dia lalu berujar, “Ini adalah satu-satunya cara untuk menembus gelembung itu, karena algoritma hanya mengirim konten dari kalangan kanan secara organik.”
Di pemilu putaran pertama pada 4 Oktober, tak ada calon yang meraih ambang batas atau 50 persen plus satu. Kala itu, Lula meraih 47,03 persen dan lawannya politikus sayap kanan sekaligus anak eks presiden Jair Bolsonaro, Flavio Bolsonaro 45,16 persen.
Belum 24 jam dibentuk, Jonanes menerima banyak laporan soal kanal tersebut dengan tuduhan menyebar berita palsu padahal kanal ini belum digunakan untuk mengunggah apapun karena masih tahap mobilisasi.
“Mereka [pendukung Flavio] panik karena menang pemilu di dunia maya dan jika kanal itu mencapai 3 juta anggota, saya akan membalikkan pemilu untuk Lula,” ujar anggota parlemen itu.
Dalam ajakan bergabung itu, Jonanes meyakinkan netizen dia bisa memimpin strategi dan membuktikan mampu memenangkan kembali Lula seperti di pemilu 2022.
“Saya hanya butuh kalian masuk ke sana dan percaya pada saya. Saya tahu apa yang saya lakukan. Nama kanalnya adalah ‘Exercito do Lula’,” imbuh dia. Kanal tersebut kini punya 10 juta anggota.
Sebetulnya kanal Whatsapp itu sudah ada sejak April lalu. Namun, setelah hasil putaran pertama, Jonanes memanfaatkan betul saluran ini untuk melawan Flavio.
Anak Bolsonaro dan ayahnya sudah sejak lama menggunakan strategi semacam itu dalam pemilu. Strategi sayap kanan ini fokus menyebarkan konten dari beberapa tokoh berpengaruh utama, sementara “Pasukan Lula” memiliki komando terpusat.
Melalui kanal Pasukan Lula itu, Jonanes menginstruksikan para pengikutnya untuk mempromosikan tagar, mengomentari siaran langsung, membagikan video, menyukai unggahan yang semuanya berkaitan dengan Lula dan mempublikasikan foto dengan gerakan L yang diasosiasikan Lula.
Dia juga mendesak pendukungnya untuk tak berkomentar apapun di unggahan lawan, tak berinteraksi dengan konten buatan tim kampanye Flavio, sehingga konten-konten lawan bisa tenggelam dengan sendirinya.
Jonanes menyadari hanya dengan stay atau sekedar membaca atau menonton konten kelompok kanan akan dibaca algoritma sebagai bentuk ketertarikan terhadap konten serupa. Itu lah kenapa dia meminta pasukan Lula “mengabaikan” konten semacam itu.






