spot_img
Selasa, Maret 17, 2026
spot_img
spot_img

Amalan Utama di Bulan Dzulhijjah: Dari Puasa hingga Haji, Ini Dalil dan Keutamaannya

KNews.id – Jakarta – Melakukan berbagai amalan bulan Dzulhijjah menjadi salah satu cara untuk bisa meraih pahala yang berlipat-lipat di hadapan Allah SWT.

Tidak hanya terbatas pada ibadah haji, amalan bulan Dzulhijjah juga mencakup berbagai bentuk ibadah lainnya, yang memiliki keutamaan khusus, yang tidak dapat ditemukan di bulan-bulan lainnya.

- Advertisement -

Keutamaan amalan bulan Dzulhijjah dikatakan terletak pada sepuluh hari pertama yang dikenal sebagai periode mulia, berdasarkan berbagai hadis sahih. Jadi amalan ibadah yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah memiliki nilai yang sangat tinggi, melebihi jihad fisabilillah dengan keberkahan yang luar biasa.

Lantas amalan-amalan apa saja yang bisa dilakukan selama bulan Dzulhijjah? Untuk referensi Anda, berikut ini rangkum daftar amalan bulan Dzulhijjah dan dalilnya.

- Advertisement -

Keutamaan Amalan Bulan Dzulhijjah dalam Islam

Menurut para ulama, konsep “haram” dalam konteks ini tidak bermakna terlarang, melainkan suci dan mulia, di mana setiap perbuatan baik akan mendapat pahala berlipat dan setiap kemaksiatan akan mendapat dosa yang lebih berat.

Imam Ar-Razi dalam Tafsir Mafatihul Ghaib memberikan penjelasan yang sangat komprehensif tentang keistimewaan bulan-bulan haram ini. Beliau menegaskan bahwa perbedaan antara bulan-bulan haram dengan bulan-bulan lainnya bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan syariat, melainkan merupakan penetapan Allah SWT untuk memberikan kesempatan khusus bagi hamba-Nya dalam meraih keutamaan. Berikut ini adalah daftar amalan bulan Dzulhijjah yang bisa dilakukan:

1. Berpuasa pada Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Puasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan berdasarkan hadis sahih. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menyatakan bahwa para fuqaha (ahli fiqih) menjadikan hadis ini sebagai dalil yang kuat untuk disunnahkannya berpuasa pada periode tersebut, karena puasa merupakan salah satu amal ibadah yang paling lazim dan mulia.

Pelaksanaan puasa ini dapat dilakukan secara berturut-turut atau terpisah, sesuai dengan kemampuan masing-masing individu, dengan yang terpenting adalah niat yang ikhlas dan konsistensi dalam melaksanakannya.

Dalil:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِىِّ أَنَّهُ قَالَ: مَا الْعَمَلُ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ أَفْضَلَ مِنَ الْعَمَلِ فِى هَذِهِ قَالُوا وَلاَ الْجِهَادُ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَىْءٍ

- Advertisement -

Artinya: “Dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda: ‘Tidak ada amal ibadah yang lebih utama selain yang dikerjakan pada sepuluh hari ini (maksudnya sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah)’. Para sahabat bertanya: ‘Apakah sekalipun jihad di jalan Allah?’. Rasulullah saw menjawab: ‘Sekalipun dari jihad. Kecuali seseorang yang keluar untuk berjihad dengan diri dan hartanya, lalu tidak ada sedikitpun yang pulang dari padanya'” (HR. Bukhari).

2. Menghidupkan Malam Sepuluh Hari Pertama

Menghidupkan malam-malam pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah juga merupakan amalan yang sangat dianjurkan dengan keutamaan yang luar biasa. Qiyamul lail pada periode ini dapat dilaksanakan dengan berbagai bentuk ibadah, seperti shalat tahajjud, membaca Al-Quran, berdzikir, berdoa, atau melakukan ibadah-ibadah sunnah lainnya.

Hal penting yang harus diperhatikan adalah konsistensi dan keikhlasan dalam melaksanakannya, dengan membagi waktu malam menjadi beberapa bagian untuk istirahat, shalat, dan membaca Al-Quran serta berdzikir.

Dalil:

عن قتادة، عن ابن المسيب، عن أبي هريرة عن النبي ﷺ قال: ما من أيام أحب إلى الله أن يتعبد له فيها من عشر ذي الحجة، يعدل صيام كل يوم منها ، وقيام كل ليلة منها بقيام ليلة القدر

Artinya: “Dari Qatadah, dari Ibnu Al-Musayyib, dari Abi Hurairah dari Nabi Muhammad saw bersabda: Sepuluh hari pertama dalam Dzulhijjah merupakan hari yang sangat disenangi oleh Allah, karenanya beribadahlah pada-Nya, dirikanlah puasa dan hidupkanlah malam seperti menghidupi Lailatul Qadar.” (HR. Imam Tirmidzi).

3. Memperbanyak Dzikir (Tahlil, Tahmid, Takbir)

Memperbanyak dzikir pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan amalan yang sangat dianjurkan, mencakup tahlil (La ilaha illallah), tahmid (Alhamdulillahi rabbil alamiin), dan takbir (Allahu akbar). Ketiga bentuk dzikir ini memiliki makna yang sangat mendalam dan merupakan bentuk pengagungan kepada Allah SWT.

Tahlil menegaskan keesaan Allah SWT, tahmid adalah ungkapan syukur dan pujian, sementara takbir merupakan pengagungan terhadap kebesaran Allah SWT yang tidak terbatas. Pelaksanaan dzikir dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, baik secara individu maupun berjamaah.

Dalil:

عن ابن عمرعن النبي ﷺ، قال: ما من أيام أعظم [عند الله] ولا أحب إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر، فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

Artinya: “Dari Ibnu Umar dari Nabi Muhammad saw bersabda: Sepuluh hari pertama dalam Dzulhijjah merupakan hari yang sangat diagungkan dan disenangi oleh Allah, karenanya perbanyak ucapan tahlil, takbir, tahmid.” (HR. Imam Ahmad).

4. Beramal Saleh Secara Umum

Beramal shaleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah mencakup berbagai macam perbuatan baik yang tidak terbatas pada ibadah-ibadah ritual tertentu saja. Ibnu Abbas berpendapat bahwa amal saleh yang dimaksud adalah amal saleh secara umum, melainkan mencakup seluruh aspek kehidupan yang dilakukan dengan niat ibadah kepada Allah SWT.

Amal saleh yang dilakukan bisa dalam bentuk bersedekah, membantu sesama, berbakti kepada orang tua, menjaga silaturahmi, menuntut ilmu, mengajarkan kebaikan, dan berbagai perbuatan baik lainnya yang dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah SWT.

Dalil:

قوله ﷺ: ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام

Artinya: “Nabi Muhammad saw bersabda: beramal shalih di saat sepuluh hari pertama merupakan amal yang sangat disukai oleh Allah.” (HR. Imam Ahmad).

5. Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah)

Puasa Tarwiyah yang dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah memiliki keutamaan khusus dengan pahala yang setara dengan puasa selama satu tahun penuh. Nama “Tarwiyah” berasal dari kata Arab yang berarti “mempertimbangkan” atau “memikirkan”, di mana para jamaah haji mempersiapkan diri secara fisik dan mental untuk melaksanakan wukuf di Arafah pada hari berikutnya.

Untuk umat muslim yang tidak bisa melaksanakan haji, puasa Tarwiyah dapat menjadi sarana untuk merasakan spiritualitas yang sama dengan para jamaah haji dan memperoleh keutamaan yang luar biasa.

Dalil:

وفي الجواهر يستحب صوم تاسوعاء ويوم التروية وقد ورد صوم يوم التروية كصيام سنة وصوم الأشهر الحرم وشعبان وعشر ذي الحجة وقد روي أن صيام كل يوم منها يعدل سنة

Artinya: “Menurut pendapat ulama mayoritas, berpuasa pada hari Tasu’a dan Tarwiyah disunnahkan. Sesungguhnya sudah disebutkan bahwa berpuasa pada hari Tarwiyah sama dengan puasa satu tahun, berpuasa pada bulan Haram dan Sya’ban, Dzulhijjah. Dan sesungguhnya diriwayatkan bahwa berpuasa pada hari-hari tersebut setara dengan setahun.” (Al-Qarafi, Adzakhirah Lil Qarafi).

6. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah)

Puasa Arafah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah merupakan salah satu amalan yang memiliki keutamaan paling luar biasa, yaitu dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Hari Arafah merupakan puncak dari rangkaian ibadah haji, namun bagi mereka yang tidak melaksanakan haji, puasa Arafah menjadi kesempatan untuk merasakan spiritualitas yang sama dan memperoleh keutamaan yang tidak kalah besar.

Dalil:

عن أبي قتادة، قال: سئل رسول الله ﷺ: عن صوم يوم عرفة؟ قال:”يكفر السنة الماضية والباقية” رواه مسلم

Artinya: “Dari Abi Qatadah, berkata suatu ketika Nabi saw ditanya: bagaimana pendapatmu wahai Nabi mengenai puasa hari Arafah? Nabi menjawab: Puasa tersebut akan melebur dosa yang lampau maupun akan datang.” (HR. Imam Muslim).

Ibadah haji merupakan puncak dari seluruh amalan bulan Dzulhijjah dan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan bagi mereka yang mampu. Menurut Ibnu Rajab Al-Hanbali, ibadah haji memiliki keutamaan yang bahkan melebihi jihad, karena haji merupakan ibadah yang secara khusus dilaksanakan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang merupakan periode paling mulia dalam setahun.

Haji bukan hanya sekadar ritual ibadah, tetapi juga merupakan perjalanan spiritual yang mengubah kehidupan seseorang secara menyeluruh melalui pembersihan jiwa, peningkatan ketakwaan, dan pemahaman yang lebih mendalam tentang makna ketauhidan.

Dalil:

فينبغي أن يكون الحج أفضل من الجهاد؛ لأن الحج مخصوص بالعشر، وهو من أفضل ما عمل في العشر، أو أفضل ما عمل فيه

Artinya: “Sudah sewajarnya bahwa haji lebih utama dari jihad, sebab peribadatan haji terkhususkan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Adapun ibadah haji merupakan amal yang paling utama dilaksanakan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.” (Ibnu Rajab Al-Hanbali, Lathaiful Ma’arif).

Hikmah dan Manfaat Amalan Bulan Dzulhijjah

Melaksanakan amalan-amalan pada bulan Dzulhijjah memberikan berbagai hikmah dan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan spiritual dan duniawi seorang Muslim.

Secara spiritual, amalan-amalan ini dapat meningkatkan ketakwaan, memperkuat iman, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tidak hanya itu, secara psikologis, ibadah-ibadah seperti puasa dan qiyamul lail dapat memberikan ketenangan jiwa, kedamaian batin, dan melatih pengendalian diri. Secara sosial, amalan-amalan seperti beramal saleh dan bersedekah dapat memperkuat ikatan silaturahmi dan membangun solidaritas umat.

Sedangkan dari aspek kesehatan, puasa pada bulan Dzulhijjah memberikan manfaat detoksifikasi tubuh, meningkatkan sistem imun, dan memperbaiki metabolisme.

Qiyamul lail atau bangun malam untuk beribadah juga terbukti dapat meningkatkan kualitas tidur dan memberikan waktu refleksi yang berkualitas. Dzikir dan doa yang diperbanyak pada periode ini dapat mengurangi stress, meningkatkan fokus, dan memberikan ketenangan mental.

Terakhir  ekonomi dan sosial, bulan Dzulhijjah mengajarkan pentingnya berbagi dan peduli sesama melalui sedekah, zakat, dan qurban. Hal ini tidak hanya membantu mereka yang membutuhkan, tetapi juga membersihkan harta dan jiwa dari sifat kikir serta materialistis.

Ibadah haji sendiri merupakan bentuk persatuan umat Islam sedunia yang menghapus perbedaan ras, suku, dan status sosial.

(ns/lpt)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini