KNews.id – Jakarta – Kematian merupakan sesuatu yang pasti akan dialami setiap manusia, tetapi manusia pada dasarnya memiliki tabiat untuk membencinya. Rasa cinta terhadap kehidupan dan keengganan terhadap kematian merupakan naluri yang diberikan Allah SWT, yang kemudian diarahkan agar manusia dapat menjalani kehidupan sekaligus mempersiapkan bekal untuk akhirat.
Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shuffi dalam bukunya Al-Mautu wa alamul barzakh, al-hisab wal aidhu alal-latu al-mizan-al-mushaf -ashshirath-anwa’us syafa’ah menerangkan bahwa Allah SWT menciptakan manusia dengan tabiat membenci kematian.
Kebencian minimal adalah manusia tidak mementingkan kematian daripada kehidupan. Dalam hadis riwayat Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Allah telah berfirman dalam hadits qudsi:
أَنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ
“Aku tidak pernah ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku perbuat, seperti keraguan-Ku untuk mewafatkan (mencabut nyawa) seorang Muslim. Ia pasti membenci kematian, padahal Aku tidak ingin menyakitinya.” (HR Imam Ahmad, Al-Hakim, Ath-Thabrani dan Abu Na’im)
Agar manusia bisa memakmurkan alam semesta dan mengisi kehidupannya, Allah memberikan mereka rasa cinta hidup. Allah pun memberikan rezeki dan anak dalam kehidupan ini, sehingga mereka semakin senang untuk hidup dan terus berusaha mencari rezeki untuk anak mereka.
Allah telah menjadikan usaha manusia sebagai sebuah keharusan. Manusia harus mencari makan, tempat tinggal yang bisa melindungi dari panas dan dingin, serta menjaga tubuh agar tidak terserang penyakit. Di samping itu, Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan manusia agar selalu berusaha di dunia tanpa merasa pesimis dan sedih.






