KNews.id – Jakarta – Teknologi kecerdasan buatan (AI) dan instrumen robotik kini semakin lazim dimanfaatkan dalam prosedur pembedahan medis.
Kehadirannya memang membuat jalannya operasi saraf menjadi jauh lebih aman, tetapi kecanggihan mesin tersebut belum mampu mengambil alih peran ahli bedah secara penuh.
Menjelaskan batasan tersebut, Prof. Dr. dr. Julius July, SpBS (K), M.Kes, IFAANS dari Siloam Hospitals Lippo Village menuturkan bahwa bedah saraf menangani organ yang sangat berkaitan dengan fungsi vital manusia.
Oleh karena itu, berbagai alat canggih yang mengelilingi dokter di ruang operasi murni diposisikan sebagai pendamping untuk memastikan pengobatan berjalan sempurna, bukan menggantikan kendali dan nalar manusia.
“Kita menyadari bahwa teknologi itu penting kalau kita bandingkan dengan apa yang ingin kita capai,” tutur dr. Julius secara eksklusif kepada Kompas.com di sela-sela “The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026” di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel, Sabtu (19/9/2026).
Peran dan batasan teknologi di ruang operasi bedah saraf
Evolusi presisi dan sayatan yang mengecil
Dahulu, para tenaga medis tidak memiliki ukuran pasti terkait posisi kelainan di bawah kulit kepala. Proses pembedahan bertumpu pada hasil pemindaian yang dicocokkan secara manual di meja operasi.
Seiring berjalannya waktu, kehadiran teknologi navigasi mengubah situasi tersebut menjadi sangat akurat.
“Jadi kita mengekstrapolasi gambar MRI atau CT scan dengan kenyataan asli. Kadang-kadang selisih. Bisa selisih satu senti, bisa selisih dua senti,” kata dr. Julius.
Tingkat presisi dari alat baru ini membawa dampak positif langsung bagi pasien, terutama karena luka sayatan dapat diperkecil. Bukaan tulang tengkorak yang sebelumnya sangat lebar, kini bisa menyusut hanya sebatas letak kelainan yang dituju.
“Kalau kita bisa luka hanya dua senti, kenapa harus 15 senti? Proses penyembuhannya lebih cepat. Kemudian kerusakan yang terjadi di sekitarnya lebih sedikit,” ungkap dr. Julius.
Anatomi otak yang selalu berdenyut
Meski metode pembedahan yang minim luka tersebut sudah diterapkan, instrumen canggih tetap memiliki celah yang belum sanggup meniru ketangkasan tangan dokter.
Beredar anggapan di media sosial bahwa dokter bedah masa kini sekadar mengatur komputer, lalu membiarkan robot mengeksekusi operasi dengan sendirinya.
Faktanya tidak demikian, terutama jika diterapkan pada beberapa organ tertentu, seperti otak dan jentung, karena mereka terus berdenyut.
“Kalau organ itu diam, misal prostat, enggak gerak dia sama sekali, kita bisa operasi di console,” papar dr. Julius.
Pergerakan konstan inilah yang membuat dokter belum bisa menyerahkan alat bedah sepenuhnya kepada robot. Risiko penundaan sinyal listrik pada mesin bisa berakibat fatal.
Ia menambahkan bahwa pergerakan organ yang dinamis mengharuskan dokter melakukan penyesuaian gerakan halus secara langsung.
Apalagi, benang jahit yang digunakan untuk merekatkan pembuluh darah ukurannya hanya sepertiga helai rambut.
“Jadi sejauh ini belum bisa AI itu menggantikan semuanya, belum bisa. Jadi masih butuh presisi (dari manusia),” sebut dr. Julius.
Dokter harus terus belajar sepanjang hayat
Pada akhirnya, sehebat apa pun kecanggihan instrumen bedah, keberhasilannya bergantung pada nalar dokter yang mengendalikannya.
Menghadapi instrumen baru ibarat memakai mobil keluaran terkini dengan rangkaian tombol rumit yang harus dipelajari agar penggunaannya tidak justru menyusahkan.
“Kita enggak bisa berhenti nih jadi dokter nih. Makanya ada istilahnya itu doctor is a long life study. Apalagi kalau kaitannya sama fungsi ya. Jadi, ndak bisa main-main kita,” tegas dr. Julius.
Selisih sayatan sekecil satu milimeter di area otak ketika dioperasi menggunakan alat canggih, berpotensi memengaruhi kondisi pasien ke depannya.
Oleh sebab itu, dokter bedah diwajibkan untuk terus memperbarui ilmu mereka agar teknologi tersebut benar-benar berfungsi sebagai perpanjangan tangan yang aman.
“Alat itu baru menjadi alat yang membantu kita kalau memudahkan. Nah, jadi kita perlu luangkan waktu untuk mendalami,” pungkas dr. Julius.






