KNews.id – Jakarta – Menemukan benjolan baru di leher dapat membuat seseorang khawatir, terlebih ketika langsung dikaitkan dengan kanker. Padahal, benjolan di leher tidak selalu merupakan tanda kanker dan perlu diperiksa untuk mengetahui penyebabnya. Salah satu penyebab benjolan di leher adalah pembesaran atau nodul pada kelenjar tiroid yang bersifat jinak (non-cancerous).
Perkembangan teknologi medis memungkinkan sejumlah benjolan tiroid ditangani tanpa operasi konvensional atau sayatan besar. Salah satunya melalui ablasi radiofrekuensi tiroid atau thyroid radiofrequency ablation (RFA), yakni prosedur minimal invasif untuk mengecilkan benjolan tiroid dengan menggunakan energi panas dari gelombang radio.
Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Onkologi (Konsultan) Mayapada Hospital Jakarta Selatan dr Randi Dwiyanto mengatakan, RFA dilakukan jika benjolan membesar, mengganggu proses menelan atau bernapas, menimbulkan rasa tidak nyaman, atau memengaruhi penampilan leher.
Sebelum menjalani RFA, pasien akan menjalani pemeriksaan untuk memastikan kondisi dan karakteristik benjolan.
“Pemeriksaan dapat meliputi tes darah, ultrasonografi (USG) tiroid, serta fine needle aspiration biopsy (FNAB) bila diperlukan,” kata dr Randi, Senin (28/9/2026).
Setelah dinyatakan memenuhi indikasi, lanjut dia, tindakan RFA dilakukan dengan panduan USG dan anestesi lokal. Prosedur tersebut berlangsung sekitar 30–60 menit dan tidak memerlukan sayatan besar. Pasien umumnya tidak membutuhkan rawat inap dan dapat pulang pada hari yang sama.
“(Setelah tindakan), benjolan akan mengecil secara bertahap dalam beberapa minggu hingga bulan,” jelas dr Randi.
Pemeriksaan untuk mengetahui kondisi tiroid
Pada sebagian kasus, benjolan di leher dapat berkaitan dengan gangguan pada kelenjar tiroid sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab dan karakteristiknya. Selain USG tiroid dan pemeriksaan darah, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lain sesuai dengan kondisi pasien. Salah satunya adalah sidik kelenjar tiroid menggunakan zat radioaktif technetium-99m pertechnetate (Tc-99m pertechnetate).
Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir Mayapada Hospital Jakarta Selatan dr Lim Andreas menjelaskan, pemeriksaan tersebut membantu dokter melihat aktivitas dan fungsi jaringan tiroid. Pemeriksaan itu juga dapat menunjukkan bagian kelenjar atau benjolan yang memiliki aktivitas lebih tinggi maupun lebih rendah.
“Informasi ini kemudian dipadukan dengan hasil pemeriksaan lainnya untuk membantu menentukan langkah penanganan yang sesuai,” terang dr Andreas.
Pada pasien dengan kanker tiroid yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut, pemeriksaan kedokteran nuklir juga dapat dilakukan menggunakan radioiodine scan yang dapat dilengkapi dengan single-photon emission computed tomography-computed tomography (SPECT-CT) scan.
Dr Andreas menjelaskan, pemeriksaan tersebut membantu menunjukkan lokasi jaringan tiroid atau sel kanker yang masih mampu menyerap iodin secara lebih jelas.
“Dengan begitu, dokter dapat memahami kondisi pasien dan merencanakan penanganan selanjutnya,” papar dr Andreas.
Evaluasi setelah operasi kanker tiroid
Pada pasien kanker tiroid yang telah menjalani operasi pengangkatan kelenjar tiroid atau thyroidectomy, pemeriksaan kedokteran nuklir dapat menjadi bagian dari evaluasi lanjutan.
Salah satunya melalui kombinasi radioiodine scan dan terapi iodin radioaktif atau radioactive iodine (RAI), sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien.
Setelah terapi RAI, pemeriksaan lanjutan dapat membantu dokter mengetahui apakah masih terdapat jaringan tiroid atau sel kanker yang menyerap iodin di dalam tubuh sekaligus mengetahui lokasinya.
Bila diperlukan, pemeriksaan SPECT-CT dapat memberikan gambaran lokasi temuan secara lebih jelas.
“Informasi ini membantu dokter menentukan pemantauan atau penanganan berikutnya,” ucap dr Andreas.
Setiap pasien memerlukan penanganan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Evaluasi secara berkala juga diperlukan untuk memantau respons terhadap terapi sekaligus mendeteksi kemungkinan kekambuhan.
Layanan kedokteran nuklir terpadu
Untuk mendukung kebutuhan pemeriksaan pasien, Mayapada Hospital Jakarta Selatan menyediakan layanan Nuclear Medicine and Molecular Theranostic Center dengan dukungan teknologi positron emission tomography-computed tomography (PET-CT) dan SPECT-CT.
Teknologi tersebut memungkinkan pemeriksaan dengan gambaran kondisi tubuh secara menyeluruh atau whole-body imaging, sesuai dengan kebutuhan medis pasien.
SPECT-CT dan PET-CT juga dapat mendukung rangkaian evaluasi pasien yang membutuhkan pemeriksaan secara berkala. Saat ini, teknologi itu disebut baru tersedia di kurang dari 10 rumah sakit di Indonesia.
Ketersediaan teknologi tersebut menjadi salah satu pilihan bagi pasien yang membutuhkan evaluasi secara berulang sebagai bagian dari pemantauan kondisi dan penanganan penyakit. Layanan kedokteran nuklir menjadi bagian dari penanganan pasien kanker yang melibatkan berbagai disiplin ilmu.
Evaluasi dan pemilihan pemeriksaan dilakukan berdasarkan kondisi serta kebutuhan masing-masing pasien. Pasien yang membutuhkan konsultasi mengenai benjolan tiroid maupun pemeriksaan terkait kanker dapat menghubungi Mayapada Hospital melalui call center 150770 atau aplikasi MyCare.
Untuk kondisi kegawatdaruratan medis, layanan emergency Mayapada Hospital dapat dihubungi melalui call center 150990 atau fitur emergency call button pada aplikasi MyCare.
Aplikasi MyCare juga menyediakan fitur Health Articles & Tips yang memuat informasi kesehatan dari dokter Mayapada Hospital serta fitur Personal Health untuk membantu pengguna memantau sejumlah indikator kebugaran, seperti detak jantung, jumlah langkah, kalori yang terbakar, dan body mass index (BMI).






