Oleh: Adityo Fajar DH, Kepala Bidang Ideologi & Kaderisasi Partai Buruh
KNews.id-RIUH helatan Piala Dunia U-20 membawa publik kembali kepada perdebatan klasik: relasi sepak bola dan politik. Tema ini mencuat seiring arus deras penolakan kedatangan timnas Israel ke Indonesia. Sebagian orang, -termaksud saya-, mustahil bersikap lain kecuali menolak delegasi negara zionis itu. Sebagian menyatakan, ‘sepak bola terpisah dengan politik’.
Pernyataan ‘sepak bola terpisah dari politik’ mungkin terdengar merdu, tapi a historis dan menipu. Pernyataan itu tidak disokong kompetensi dalam melihat sepak bola sebagai produk sosial, oleh karenanya politik tak terpisah darinya. Pesepakbola legendaris Uruguay Luis Suarez bilang, “Di Amerika Latin batas antara politik dan sepak bola begitu samar”. Penyerang haus gol ini bahkan memahami realitas lebih baik dari sekelompok pengamat sepak bola tanah air.
Ketika dahulu kala PSSI didirikan oleh Soeratin, beliau sendiri menyatakan, “Jika kita bisa mengalahkan Belanda di lapangan sepak bola, kita juga akan bisa mengalahkan Belanda di lapangan politik”. Itu pernyataan yang sepenuhnya politis. Bagi Soeratin, sepak bola di tempatkan tidak hanya sebagai permainan belaka, tetapi di dalam tubuhnya mengandung misi besar: kemerdekaan sebuah bangsa.




