KNews.id – Jakarta – Presiden Tiongkok Xi Jinping kembali mengguncang lingkaran kekuasaan Partai Komunis Tiongkok (CCP) dengan menyingkirkan 33 pejabat senior dalam kampanye pemberantasan korupsi.
Salah satu tokoh paling berpengaruh yang ikut tersingkir adalah Zhang Youxia, jenderal senior yang sebelumnya menjabat Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) dan menjadi orang kedua dalam hierarki militer Tiongkok.
Pemecatan Zhang menjadi perhatian karena selama ini dia dikenal sebagai salah satu figur penting dalam kepemimpinan militer Tiongkok. Posisinya yang strategis membuat pencopotannya tidak sekadar menjadi persoalan penegakan disiplin, tetapi juga menandai perubahan besar dalam struktur kekuasaan militer di bawah kendali Xi.
Zhang disingkirkan setelah menjalani penyelidikan korupsi selama beberapa bulan. Dia termasuk dalam daftar 33 anggota Partai Komunis Tiongkok yang terkena pembersihan terbaru. Dari jumlah tersebut, 16 orang berasal dari lingkungan militer.
Selain Zhang Youxia, nama Liu Zhenli juga masuk dalam daftar. Liu sebelumnya menjabat Kepala Staf Departemen Staf Gabungan Komisi Militer Pusat.
Pembersihan ini memperlihatkan bahwa tidak ada jaminan keamanan bagi pejabat yang memiliki posisi tinggi sekalipun. Bahkan, mereka yang sebelumnya dianggap dekat dengan pusat kekuasaan Xi Jinping tetap bisa tersingkir.
Tersingkirnya Zhang Youxia semakin memperkuat kendali Xi Jinping atas militer Tiongkok. Dalam beberapa tahun terakhir, presiden tersebut telah menyingkirkan hampir seluruh anggota Komisi Militer Pusat, kecuali dirinya sendiri dan Zhang Shengmin.
Zhang Shengmin saat ini masih bertahan sebagai wakil ketua CMC sekaligus memimpin kampanye pemberantasan korupsi di lingkungan militer.
Di tengah gelombang pemecatan, Zhang Shengmin justru mendapatkan promosi penting. Dia diangkat menjadi anggota Politbiro, badan pengambil keputusan tertinggi dalam Partai Komunis Tiongkok.
Pengangkatan tersebut tergolong tidak biasa. Promosi anggota Politbiro di luar momentum kongres partai terakhir kali terjadi pada 1994.
Dengan tersingkirnya sejumlah pejabat militer senior, Xi semakin memiliki ruang untuk menata ulang kepemimpinan angkatan bersenjata sesuai arah kebijakan pemerintahannya.
Pejabat yang Dekat dengan Xi Juga Tidak Aman
Pembersihan tidak hanya menyasar kalangan militer. Sejumlah pejabat sipil yang sebelumnya dianggap memiliki hubungan dekat dengan Xi Jinping juga ikut tersingkir.
Salah satunya Ma Xingrui, mantan Sekretaris Partai di wilayah Xinjiang. Dia diberhentikan dari seluruh jabatannya menyusul dugaan keterlibatan dalam praktik korupsi.
Tuduhan terhadap Ma mencakup nepotisme, suap, hingga pembayaran untuk layanan seksual.
Ma sebelumnya dipandang sebagai bagian dari lingkaran dalam Xi. Hubungannya dengan keluarga presiden juga sempat menjadi perhatian karena dia disebut memiliki kedekatan dengan Peng Liyuan, istri Xi Jinping. Keduanya sama-sama berasal dari Provinsi Shandong.
Tersingkirnya Ma memperlihatkan bahwa kampanye antikorupsi Xi tidak terbatas pada pejabat yang berada di luar lingkaran kekuasaannya.
Sejak mulai memimpin Tiongkok pada 2012, Xi menjadikan pemberantasan korupsi sebagai salah satu agenda utama pemerintahannya. Jutaan pejabat telah dijatuhi sanksi disiplin, dicopot dari jabatan, atau dipenjara.
Wakil Sekretaris Komisi Pusat untuk Inspeksi Disiplin (CCDI), Zhang Fuhai, mengungkapkan bahwa lembaganya telah menjatuhkan hukuman kepada 7,9 juta orang sejak 2012.
Dalam konferensi pers, Zhang menyebut Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok di bawah kepemimpinan Xi telah berhasil menghilangkan ancaman serius dari dalam partai, negara, dan militer.
“Kami lebih baik menyinggung ribuan orang daripada mengecewakan 1,4 miliar rakyat,” kata Zhang dikutip Telegraph.
Dia juga memastikan pemberantasan korupsi akan diperluas, terutama di sektor-sektor yang memiliki konsentrasi kekuasaan tinggi, aliran dana besar, dan penguasaan sumber daya strategis.
“Kami akan memprioritaskan penyelidikan terhadap persoalan ketika masalah politik dan ekonomi saling terkait, kolusi antara pemerintah dan dunia usaha, serta masuknya modal ke dalam ranah politik,” ujarnya.
97 Anggota Komite Sentral Tidak Hadir dalam Pleno
Besarnya dampak pembersihan internal partai juga terlihat dalam pertemuan pleno kelima Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok yang berlangsung di Beijing.
Dari 376 anggota yang tercatat setelah kongres partai pada 2022, hanya 279 orang yang hadir dalam pertemuan tersebut. Artinya, terdapat 97 anggota yang tidak mengisi kursi dalam forum penting itu.
Jumlah kehadiran tersebut menjadi yang terendah sepanjang kepemimpinan Xi Jinping. Untuk pertama kalinya sejak Xi berkuasa, jumlah peserta pleno bahkan berada di bawah 300 orang.
Dalam pernyataan resminya, partai mengakui masih menghadapi persoalan serius dalam tata kelola internal. Masalah tersebut antara lain kepemimpinan yang melemah, pengawasan internal yang tidak efektif, serta berbagai pelanggaran di dalam organisasi.
Sementara itu, Xi Jinping diperkirakan akan kembali menjadi pusat perhatian menjelang Kongres Partai Komunis Tiongkok ke-21 pada paruh kedua 2027.
Sejumlah pengamat menilai gelombang pembersihan pejabat saat ini berkaitan dengan persiapan menuju kongres tersebut. Xi diperkirakan berupaya mengamankan masa jabatan keempat sebagai pemimpin Tiongkok.
Jika kembali terpilih, Xi berpotensi menjadi pemimpin dengan masa kekuasaan terlama sejak Mao Zedong, pendiri Tiongkok modern.
Data pemecatan anggota partai menunjukkan peningkatan selama masa kepemimpinannya. Pada periode ketiga yang dimulai Maret 2023, sebanyak 51 anggota partai telah dipecat. Angka itu meningkat dibandingkan 35 orang pada periode kedua dan hanya lima orang pada periode pertama.
Dengan semakin banyaknya pejabat senior yang tersingkir, termasuk jenderal yang sebelumnya menduduki posisi strategis, Xi Jinping tampaknya sedang memperkuat kendali atas dua pilar utama kekuasaan Tiongkok: partai dan militer.






