KNews.id – Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Selasa (20/10/2026), naik 54 poin atau sekitar 0,30% ke level Rp17.992 per dolar AS atau meninggalkan level Rp18.000.
Tren pemulihan kurs rupiah juga terlihat pada data JISDOR BI, dimana hari ini bertengger di peringkat Rp18.006.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni perintah eksekutif yang diterbitkan oleh President Trump pada Jumat malam mencabut sanksi dan tarif utama AS yang berkaitan dengan Rusia, termasuk bea atas barang-barang dari negara tersebut serta penalti bagi pihak yang membeli minyak dan gas Rusia.
“Namun, pada hari Sabtu, Trump menyatakan bahwa ia belum mengambil keputusan akhir terkait masalah ini. Sementara Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan bahwa para pejabat memerlukan lebih banyak waktu untuk mengevaluasi situasi tersebut,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Realisasi investasi selama sembilan bulan pertama 2026 terdiri atas penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp777,8 triliun atau 50,5% dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp761,4 triliun atau 49,5%.
Dari sisi sektor, industri logam dasar serta barang logam yang bukan mesin dan peralatannya menjadi penyumbang terbesar PMA, dengan nilai Rp216,6 triliun atau 31,7%. Sementara itu, sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi mendominasi PMDN dengan realisasi Rp117,8 triliun atau 15,5%.
Secara kumulatif, realisasi investasi selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang dihitung sejak triwulan IV 2024 hingga triwulan III 2026, mencapai Rp3.923,2 triliun. Investasi tersebut menyerap 5.485.944 tenaga kerja, dengan kontribusi wilayah Jawa sebesar Rp1.892,2 triliun atau 48,2% dan luar Jawa Rp2.031 triliun atau 51,8%.
Pemerintah menetapkan target investasi sebesar Rp13.032,8 triliun untuk periode 2024-2029 guna mendukung sasaran pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029. Dari total investasi kumulatif tersebut, PMDN mencapai Rp1.998,7 triliun atau 50,9%, sedangkan PMA sebesar Rp1.924,5 triliun atau 49,1%.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.900-Rp18.040 per dolar AS.






