KNews.id – Jakarta – Serangan Houthi terhadap Arab Saudi bukan semata-mata berkaitan dengan Yaman. Dengan menargetkan infrastruktur dan mengganggu acara investasi yang menjadi bagian penting dari ambisi ekonomi Arab Saudi, kelompok tersebut berupaya menekan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS).
Hal itu dilakukan agar sang pangeran memenuhi tuntutan Houthi di Yaman sekaligus membujuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk melonggarkan blokade Amerika yang mencekik perekonomian Iran. Sejumlah sumber dari Arab Saudi, Iran, dan kawasan mengamininya, sebagaimana dimuat Reuters, Jumat (16/10/2026).
Kepentingan Iran
“Kampanye” serangan tersebut mencerminkan perhitungan Iran dan Houthi bahwa kemakmuran Arab Saudi, ambisi investasinya, serta kerentanannya terhadap gangguan menjadikan negara itu “titik tekanan” yang rentan dalam konfrontasi yang membentang dari Selat Hormuz di mulut Teluk hingga Bab el-Mandeb di Laut Merah. Iran sendiri menghadapi tekanan ekonomi dan militer yang semakin besar setelah perang yang dilancarkan AS dan Israel pada 28 Februari dan tengah berupaya meningkatkan “biaya strategi Washington” dengan menargetkan mitra-mitranya di kawasan.
“Iran sedang berada dalam cengkeraman yang mencekik,” kata pengamat dari lembaga penasihat strategis Horizon Engage, Michael Knights.
“Karena tidak mampu memaksa Washington mengubah arah kebijakannya secara langsung, Teheran dan Houthi justru menghantam Arab Saudi, mereka menghantam titik lemahnya. Dengan memanfaatkan kerentanan ekonomi kerajaan tersebut dan keinginannya untuk menjaga stabilitas,” tambahnya.
Houthi memiliki kepentingan langsung dalam pelonggaran blokade AS terhadap Iran, yang merupakan pendukung utama mereka di kawasan. Berkurangnya tekanan terhadap Teheran kemungkinan akan memperkuat kemampuannya untuk mempertahankan dukungan politik, keuangan, dan militer, serta aliran senjata dan uang yang menurut AS menjadi sandaran kelompok tersebut.
Namun, Houthi juga memiliki tuntutan mereka sendiri. Masih merujuk laman yang sama, dua sumber Saudi dan tiga sumber regional yang memahami pemikiran pemerintah Saudi, menegaskan itu.
Tuntutan Houthi mencakup penghentian operasi militer Saudi dan pembatasan terhadap pelabuhan serta bandara Yaman, penerbangan reguler ke Iran, pemulihan pembayaran gaji, kompensasi perang, serta penghentian dukungan Riyadh terhadap pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Jika dipenuhi, tuntutan tersebut akan memperkuat kekuasaan Houthi atas sebagian besar wilayah Yaman.
Membentuk Keseimbangan
Seorang pejabat senior Iran mengatakan serangan Houthi merupakan bagian dari strategi yang lebih luas oleh Iran dan sekutu-sekutunya. Hal tersebut untuk membentuk kembali keseimbangan kekuatan regional dengan menargetkan infrastruktur energi dan jalur pelayaran utama.
Ia mengatakan Riyadh tidak dapat mengandalkan perlindungan AS dan harus memilih jalur negosiasi. Ia menambahkan bahwa serangan Houthi akan terus berlanjut kecuali pembatasan oleh Arab Saudi dicabut.
“Namun, strategi tersebut menempatkan MBS dalam posisi dilematis,” menurut sumber-sumber yang memahami pemikiran pemerintah Saudi.
Eskalasi berisiko memicu perang yang lebih luas dan dapat merusak agenda transformasinya. Sebaliknya, memberikan konsesi berisiko memperkuat kelompok yang telah menantang kekuatan Arab Saudi selama bertahun-tahun.
Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar pula ancaman terhadap keamanan Saudi dan kepercayaan investor. Pada akhirnya, ini memengaruhi proyek gilanya, dengan program Visi 2030.
Meski demikian, juru bicara Houthi Mohammed Abdulsalam membantah bahwa kelompoknya bertindak atas perintah Iran. Ia mengatakan tuntutan Houthi berpusat pada persoalan kemanusiaan yang telah lama berkaitan dengan Arab Saudi, termasuk pencabutan pembatasan terhadap pelabuhan dan bandara Yaman, pelonggaran pembatasan ekonomi, serta pembayaran gaji pegawai negeri menggunakan sumber daya Yaman sendiri.
“Tuntutan kemanusiaan kami tidak ada hubungannya dengan Iran atau pihak lain,” ujarnya.
Perang Satu-satunya Cara
Sebelumnya, Arab Saudi menghadapi gelombang serangan Houthi yang semakin meluas selama sepekan terakhir. Serangan tersebut mencakup serangan mematikan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan serangan terhadap Saudi Aramco, eksportir minyak terbesar di dunia sekaligus tulang punggung perekonomian kerajaan, yang memicu kebakaran hingga menjalar ke beberapa lantai bangunan.
Serangan-serangan tersebut mengganggu konferensi minyak utama di Riyadh dan mendorong sejumlah eksekutif perusahaan minyak papan atas membatalkan kehadiran mereka. Serangan itu juga memaksa penyelenggara Future Investment Initiative (FII), forum investasi global tahunan, menawarkan partisipasi jarak jauh.
Houthi memiliki rekam jejak melancarkan serangan jauh ke dalam wilayah Arab Saudi. Pada 2019, serangan terhadap fasilitas Aramco sempat mengganggu sekitar 5% pasokan minyak global.
Serangan tersebut terjadi setelah Riyadh melakukan intervensi militer di Yaman pada 2015, menyusul pengambilalihan ibu kota Sanaa oleh Houthi. Perang kemudian berubah menjadi kebuntuan berdarah sebelum gencatan senjata tercapai pada 2022.
“Namun, para pemimpin Saudi kini memandang tekanan militer sebagai satu-satunya pilihan yang layak,” kata Ketua Gulf Research Center yang berbasis di Arab Saudi, Abdulaziz Sager.
“Mereka telah mencapai titik TIDAK ADA NEGOSIASI,” ujarnya.
“Mereka tidak memiliki pilihan lain selain tindakan militer.”
Ke Mana Sekutu Saudi Amerika Serikat?
Pada awal kampanye serangan Houthi, MBS dilaporkan meminta bantuan Trump untuk memerangi kelompok tersebut. Namun, Trump tidak menyetujui serangan AS, menurut sejumlah sumber yang berbicara kepada Reuters bulan lalu.
Sebagai gantinya, Washington menawarkan bantuan penentuan target dan berbagi intelijen. Trump kemudian mengatakan sedang mempertimbangkan kemungkinan tindakan terhadap Houthi, tetapi tampak menunda respons hingga pemilihan paruh waktu AS selesai.
Departemen Luar Negeri AS merujuk pada pernyataan Trump sebelumnya dan pernyataan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, yang mengecam serangan Houthi terhadap Arab Saudi. Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Persatuan Negara-Negara Teluk
Dengan pesawat nirawak dan rudal yang mengungkap kerentanan pertahanan Arab Saudi, para analis memperingatkan bahwa konflik berisiko berubah menjadi perang atrisi, yakni perang yang mengandalkan pengurasan sumber daya lawan. Houthi meyakini waktu dan kondisi geografis menguntungkan mereka.
Mantan negosiator AS Aaron David Miller mengatakan keunggulan kelompok tersebut tidak hanya terletak pada posisinya di dekat titik sempit pelayaran Bab el-Mandeb, tetapi juga pada ketimpangan besarnya kepentingan yang dipertaruhkan oleh kedua belah pihak.
“Infrastruktur Arab Saudi jauh lebih berharga dibandingkan infrastruktur Houthi,” ujarnya.
“Mereka memiliki jauh lebih sedikit hal yang bisa hilang dibandingkan Arab Saudi,” tambahnya.
Analis Yaman Farea al-Muslimi mengatakan kampanye Houthi terhadap Riyadh merupakan upaya untuk menegaskan dominasi regional, sekaligus berisiko memicu konflik yang jauh lebih luas di seluruh Semenanjung Arab. Menurutnya, inti krisis ini adalah runtuhnya peta jalan perdamaian yang didukung Arab Saudi pada 2023.
Berdasarkan peta jalan itu, Riyadh dijadwalkan membantu mendanai gaji pegawai sektor publik dan pembangunan kembali Yaman. Namun, konflik di Laut Merah telah menggagalkan proses tersebut, sementara Houthi semakin mempererat hubungan dengan Iran.
“Kita sedang menuju hasil terburuk yang bisa dibayangkan,” kata al-Muslimi.
“Perang yang lebih buruk daripada pada 2015. Kali ini, perang akan lebih berdarah, dan Arab Saudi akan memasukinya dengan jumlah sekutu yang lebih sedikit,” tambahnya.
Ia mengatakan tidak ada kampanye yang berhasil melawan Houthi tanpa persatuan negara-negara Teluk, terutama antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).
“Houthi bukan hanya ancaman bagi Arab Saudi,” ujarnya.
“Mereka mengancam seluruh kawasan Teluk dan wilayah yang lebih luas. Ini bukan sekadar perang Arab Saudi. Ini adalah perang Teluk,” tegasnya.






