KNews.id – Jakarta – Genap satu tahun sejak kesepakatan gencatan senjata berlaku di Jalur Gaza, pada 10 Oktober 2025, masa depan penarikan pasukan militer Israel, pemulihan pemerintahan, hingga rekonstruksi wilayah yang dijanjikan bagi warga Palestina masih belum terwujud.
Meski seluruh tawanan Israel telah dibebaskan, serangan militer Israel terus berlanjut. Penarikan pasukan mengalami kemunduran, sementara jutaan warga Palestina masih hidup dalam pengungsian di tengah puing-puing reruntuhan.
Kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Mesir, Qatar, Turki, dan Amerika Serikat semula dirancang secara bertahap untuk menghentikan perang yang membara sejak 8 Oktober 2023.
Pada 13 Oktober 2025, Hamas membebaskan 20 tawanan Israel yang tersisa, bersamaan dengan dibebaskannya 1.968 tahanan Palestina oleh Israel. Proses pengembalian jenazah pun berakhir pada 26 Januari 2026.
Namun, di lapangan, serangan militer tak kunjung berhenti. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa pelanggaran gencatan senjata oleh Israel selama setahun terakhir telah menewaskan lebih dari 1.470 warga Palestina dan melukai 5.180 orang lainnya.
“Setahun berlalu, isu pembebasan tawanan memang telah selesai. Namun bagi warga Gaza yang terlunta-lunta, masa transisi yang dijanjikan dari perang menuju pemulihan sama sekali belum tiba,” tulis laporan OCHA, seperti dilansir Anadolu Agency.
Sebelum gencatan senjata, militer Israel menguasai sekitar 75 persen wilayah Gaza. Awalnya, kesepakatan menarik mundur pendudukan ke “garis kuning” hingga menguasai 53 persen wilayah.
Namun, laporan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) mengungkapkan bahwa sejak Juni lalu pasukan Israel justru kembali merangsek ke arah barat. Hingga Agustus 2026, hampir dua pertiga wilayah Gaza kembali berada di bawah kendali langsung atau pembatasan ketat militer Israel.
Pemerintahan transisi teknokratis yang dipimpin Ali Shaath, Komite Nasional Administrasi Gaza, yang dibentuk pada Januari lalu juga belum sepenuhnya memegang kendali tata kelola sipil, sementara pasukan stabilisasi internasional yang direncanakan tak kunjung dikerahkan.
Di sektor rekonstruksi, PBB, Uni Eropa, dan Bank Dunia memperkirakan Gaza membutuhkan dana sebesar US$71,4 miliar (sekitar sekitar Rp1.277,45 triliun) selama 10 tahun untuk pemulihan, dengan kebutuhan mendesak US$26,3 miliar pada 18 bulan pertama.
Hingga kini, pemblokiran pintu perbatasan oleh Israel masih menghambat masuknya bantuan tenda pengungsian dan material bangunan dasar.
Sejak Oktober 2023, data resmi Palestina mencatat lebih dari 74 ribu warga Palestina tewas, 175 ribu lainnya luka-luka, serta 90 persen infrastruktur di Jalur Gaza hancur total.






