spot_img

Rocky Gerung: MBG dan Koperasi Desa Merah Putih Tak Bisa Dibatalkan

KNews.id – Jakarta – Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Rocky Gerung kembali berbicara mengenai arah komunikasi pemerintah, khususnya dalam menghadapi persepsi publik terhadap sejumlah program Presiden Prabowo Subianto.

Dikutip dari Youtube KOMPASTV pada 7 Oktober 2026, Rocky menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih dalam acara serah terima jabatan (sertijab) Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI dari Muhammad Qodari kepada Syahganda Nainggolan di Jakarta.

- Advertisement -

Acara tersebut berlangsung pada Selasa, 6 Oktober 2026. Syahganda resmi menggantikan Qodari sebagai Kepala Bakom RI, sementara Rocky hadir dan memberikan sambutan dalam kegiatan tersebut. Dalam kesempatan itu, Rocky menegaskan bahwa MBG dan program koperasi merupakan bagian dari janji kampanye Presiden Prabowo yang menurutnya harus tetap dijalankan.

“MBG dan koperasi itu kan janji kampanye. Bagaimana dibatalkan? Kalau dibatalkan berarti presiden enggak akan ada yang dia kerjain, kan?”

- Advertisement -

Menurut Rocky, persoalan yang perlu menjadi perhatian pemerintah bukan semata-mata apakah program tersebut dilaksanakan atau tidak, melainkan bagaimana pemerintah menghitung dan menghadapi konsekuensi dari pelaksanaannya.

“Janji presiden, mesti dia kerjakan. Konsekuensinya yang dihitung itu, karena itu Bakom akan siapkan mitigasi terhadap konsekuensi itu,” kata Rocky.

Rocky Soroti Persepsi Publik soal Koperasi

Dalam paparannya, Rocky juga menyoroti tantangan komunikasi pemerintah ketika berhadapan dengan informasi yang sudah telanjur membentuk persepsi di tengah masyarakat. Ia mencontohkan isu mengenai koperasi yang disebut salah lokasi.

Rocky menggambarkan bagaimana informasi yang menurutnya keliru dapat berulang kali disebarkan hingga akhirnya dianggap sebagai sebuah fakta oleh publik. Rocky menyebut muncul informasi mengenai ribuan koperasi yang diklaim berada di lokasi yang tidak semestinya, mulai dari hutan, kuburan hingga laut.

Menurut dia, persoalan komunikasi menjadi lebih rumit ketika sebuah informasi yang keliru sudah berulang kali dikutip. Dalam kondisi seperti itu, kata Rocky, pemerintah tidak cukup hanya membantah menggunakan angka atau data.

“Padahal cuma tujuh yang salah tempat. Nah, bagian ini enggak mungkin kita bantai dengan data cuma tujuh. Tidak. Sudah terbentuk persepsi di situ,” ujarnya.

- Advertisement -

Rocky menilai komunikasi pemerintah perlu mengedepankan logika ketika menghadapi persepsi yang sudah telanjur berkembang. Ia menyebut pendekatan tersebut penting terutama untuk masyarakat yang terbiasa menguji informasi menggunakan nalar dan data.

“Kita ingin ada satu komunikasi yang betul-betul attacking the data by putting logics first,” ujar Rocky.

Rocky: Komunikator Pemerintah Harus Berdampak

Rocky juga menekankan bahwa komunikator pemerintah memiliki tanggung jawab lebih dari sekadar menyampaikan informasi. Menurut dia, setiap pernyataan pejabat atau komunikator pemerintah seharusnya memberikan dampak terhadap cara berpikir dan sikap masyarakat.

“Apapun yang diucapkan oleh seorang pejabat komunikator, dia mesti jadi impact terhadap perubahan cara berpikir, perubahan sikap,” katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan Rocky ketika memberikan pandangan mengenai pergantian Kepala Bakom dari Muhammad Qodari kepada Syahganda Nainggolan. Rocky menilai gaya komunikasi keduanya berbeda. Ia menggambarkan Qodari sebagai sosok yang lebih konfrontatif, sementara Syahganda dinilainya memiliki pembawaan yang lebih tenang ketika berhadapan dengan publik.

Rocky bahkan sempat berseloroh bahwa Qodari lebih cocok menjadi “komandan Brimob” karena karakter komunikasinya yang menurutnya lebih menyerang. Meski disampaikan dengan nada bercanda, Rocky mengatakan perbedaan karakter tersebut dapat menjadi bagian dari evaluasi mengenai siapa yang paling sesuai menempati posisi tertentu dalam strategi komunikasi pemerintah.

Rocky Bicara soal Pilihannya Masuk Lingkaran Istana

Dalam kesempatan yang sama, Rocky juga berbicara mengenai keputusannya menjadi bagian dari lingkungan Istana setelah sebelumnya dikenal sebagai salah satu figur yang kerap menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Rocky mengaku menyadari bahwa keputusannya tersebut membuat dirinya menjadi sasaran kritik dari sejumlah pihak.

Ia bahkan menyebut ada pihak yang berusaha membangun narasi bahwa dirinya telah mengkhianati perjuangan yang selama ini dibawanya. Rocky membantah anggapan bahwa dirinya masuk ke lingkungan Istana karena menukar reputasi dengan fasilitas.

“Saya enggak pernah tukar tambah reputasi saya dengan fasilitas dari awal,” tegasnya.

Rocky mengatakan, alasan dirinya memilih berada di lingkungan pemerintahan adalah agar gagasan dan argumentasinya dapat disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo.

“Saya menginginkan pikiran saya tiba dua detik sebelum kejadian ke kuping presiden,” ujar Rocky.

Ia juga mengatakan ingin memperpendek jarak penyampaian argumentasi sehingga tidak selalu harus melalui ruang perdebatan publik.

“Saya inginkan jarak argumentasi saya tidak lagi melalui ILC,” katanya.

Rocky kemudian menyederhanakan pilihannya tersebut dengan kalimat yang sebelumnya juga ia sampaikan setelah masuk ke lingkungan Istana.

“Saya hanya pindah dari luar ke dalam,” ujarnya.

Tegaskan Tetap Independen

Rocky menegaskan bahwa keberadaannya di lingkungan Istana tidak membuat dirinya menyerahkan independensi pemikirannya. Ia mengatakan keputusan tersebut merupakan pilihan moral dan intelektual yang harus dipertanggungjawabkan oleh dirinya sendiri.

“Saya memilih jadi konkrit karena pilihan moral saya, karena pilihan akal pikiran saya,” katanya.

Rocky kemudian menegaskan: “I am an independent.” Menurut Rocky, seseorang yang independen memiliki hak untuk menentukan sendiri pilihan dan targetnya, sekaligus bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Ia juga menyinggung kritik yang muncul setelah dirinya masuk ke lingkungan pemerintahan. Rocky menganggap kritik tersebut sebagai konsekuensi dari keputusan yang telah dipilihnya.

Syahganda Diminta Siapkan Mitigasi

Rocky juga menyampaikan keyakinannya terhadap Syahganda sebagai Kepala Bakom yang baru. Menurut dia, tugas Bakom bukan hanya mempromosikan program pemerintah, tetapi juga mengantisipasi konsekuensi yang mungkin muncul dari kebijakan-kebijakan tersebut.

Hal itu termasuk menghadapi persepsi publik terhadap program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih. Rocky kembali menegaskan bahwa kedua program tersebut merupakan janji kampanye Prabowo sehingga pelaksanaannya harus tetap diperhitungkan konsekuensinya.

“MBG dan koperasi itu kan janji kampanye. Bagaimana dibatalkan?” kata Rocky.

Ia kemudian menekankan bahwa Bakom memiliki peran dalam menyiapkan strategi komunikasi untuk menghadapi berbagai konsekuensi tersebut. Pandangan Rocky itu sejalan dengan pernyataan Syahganda setelah menerima jabatan Kepala Bakom.

Syahganda mengatakan strategi komunikasi pemerintah ke depan akan lebih banyak mendengar suara masyarakat dan menjangkau publik dengan bahasa yang mudah dipahami.

Dengan demikian, pergantian pimpinan Bakom dari Qodari kepada Syahganda tidak hanya menjadi pergantian jabatan, tetapi juga menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat strategi komunikasi publik, terutama dalam menghadapi persepsi masyarakat terhadap program-program pemerintahan Prabowo.

Rocky sendiri menempatkan dirinya sebagai salah satu pihak yang berada di dalam lingkaran pemerintahan, tetapi tetap ingin mempertahankan ruang bagi argumentasi kritis yang menurutnya diperlukan dalam proses pengambilan kebijakan.

(NS/TRB)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini