KNews.id – Jakarta – Operasi SAR gabungan untuk mencari delapan orang yang hilang bersama speedboat Arupadhatu 1 di sekitar Gunung Anak Krakatau, resmi dihentikan pada Kamis (17/9/2026). Lima jurnalis dan tiga kru speedboat hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten, Senin (7/9/2026).
Kedelapan orang tersebut dilaporkan hilang kontak saat hendak melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Identitas kelima jurnalis tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas jurnalis Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, serta Donal yang merupakan jurnalis freelance.
Sementara, tiga ABK yakni Warta (55) selaku kapten kapal, Surakman (60) sebagai ABK, dan Heriyanto (49) selaku guide. Operasi SAR gabungan dihentikan setelah proses pencarian berlangsung selama 10 hari, termasuk masa perpanjangan selama tiga hari.
Hingga operasi berakhir, tim SAR belum menemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun delapan orang yang berada di dalamnya. Selama proses pencarian, tim SAR telah menemukan 13 material atau objek yang diduga berpotensi berkaitan dengan kapal yang hilang.
Seluruh temuan tersebut kemudian diperiksa dan dikonfirmasi oleh Ditpolairud Polda Banten. Setelah dilakukan pengecekan dan penelitian, 13 temuan tersebut dinyatakan tidak memiliki keterkaitan dengan Arupadhatu 1 yang ditumpangi rombongan jurnalis dan kru kapal.
Sinyal HP Jurnalis Sempat Terdeteksi
Kabid Humas Polda Banten, Kombes Maruli Ahiles Hutapea, menyampaikan sinyal handphone (HP) milik jurnalis Anadolu Agency bernama Daus, sempat terdeteksi saat dilaporkan hilang kontak.
“Nomor handphone penumpang hasil pengecekan dari Polda Banten yang masih terdeteksi di hari pertama dinyatakan hilang itu adalah milik Bang Daus atau jurnalis Anadolu,” ujar Kombes Maruli Ahiles Hutapea dalam konferensi pers, Kamis.
“Kartunya Telkomsel kartu Halo. Handphone-nya Apple iPhone 14. Terdeteksi itu di wilayah Lampung, Kabupaten Lampung Selatan, Rajabasa, Tejang, Pulau Sebesi.”
“Artinya sebelum dinyatakan hilang kontak, masih ditemukan adanya transaksi elektronik di handphone tersebut. Berarti itu di hari Senin, melalui telepon atau telepon WA atau SMS atau chat WA yang terecord di tower BTS di daerah Pulau Sebesi,” jelas Maruli.
Ia menyatakan saat ini handphone tersebut sudah dalam kondisi off atau tidak aktif. Tower BTS di Pulau Sebesi disebutkan memiliki jangkauan radius sekitar 3 km untuk menangkap sinyal tersebut.
“Handphone tersebut sampai dengan hari ini dinyatakan off, tidak ada menyala. Artinya tower BTS di Sebesi tersebut mampu menangkap sinyal handphone dari yang kami sampaikan di atas. Jarak radiusnya lebih kurang untuk menangkap itu lebih kurang 3 km,” papar Maruli.
Alasan Basarnas Hentikan Operasi Pencarian
Kepala Basarnas Banten, Al Amrad, mengatakan belum ditemukan tanda-tanda keberadaan delapan orang tersebut setelah dilakukan 10 hari proses pencarian. Selama operasi berlangsung, tim SAR gabungan telah melakukan pencarian melalui berbagai metode, mulai dari jalur laut, udara, hingga darat.
Pencarian tersebut dilakukan secara maksimal dengan melibatkan berbagai unsur SAR dan peralatan pendukung.
“Teman-teman juga sudah menyaksikan langsung upaya-upaya tim SAR gabungan,” kata Al Amrad usai menggelar rapat koordinasi, Kamis.
Al Amrad menegaskan, penghentian operasi pencarian bukan berarti seluruh upaya untuk menemukan para korban berhenti. Tim SAR bersama unsur terkait akan tetap melakukan pemantauan dan patroli di sekitar lokasi kejadian.
Ia juga meminta kapal-kapal yang melintas di perairan Selat Sunda untuk segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan benda atau tanda-tanda yang diduga berkaitan dengan delapan orang yang hilang.
“Apabila ada tanda-tanda, operasi SAR akan dibuka kembali,” terangnya.
Pernyataan Gubernur Banten
Gubernur Banten, Andra Soni, menyampaikan operasi pencarian tidak diperpanjang dan secara resmi dihentikan karena pelaksanaan pencarian dinilai sudah tidak memungkinkan untuk dilanjutkan.
Meski operasi pencarian resmi dihentikan, Andra menyebut pencarian masih dapat ditindaklanjuti apabila terdapat informasi atau petunjuk baru dari masyarakat. Informasi tersebut bisa berasal dari nelayan maupun kapal yang melintas di sekitar perairan Selat Sunda.
“Maka dengan berat hati pencarian ini oleh pihak yang memiliki kewenangan dinyatakan dihentikan,” tegas Andra, Kamis, dikutip dari TribunBanten.com.
“Bila ada penemuan, petunjuk baru yang bisa dibuka kembali sampai proses evakuasi atau upaya evakuasi,” imbuhnya.






