KNews.id – Jakarta – Berolahraga hingga pakaian basah kuyup oleh keringat sering dianggap sebagai tanda tubuh sudah bekerja keras. Tak sedikit orang yang merasa sesi olahraga mereka lebih efektif ketika keringat mengucur deras setelah berlari, bersepeda, atau mengikuti kelas olahraga.
Padahal, banyaknya keringat tidak selalu menunjukkan seberapa efektif olahraga yang dilakukan. Keringat pada dasarnya merupakan respons tubuh untuk menjaga suhu tetap aman, bukan ukuran langsung dari jumlah kalori yang terbakar, peningkatan kekuatan, maupun kualitas latihan.
Ahli fisiologi olahraga dan spesialis performa manusia Mark Kovacs, PhD, FACSM, CSCS, mengatakan keringat tidak bisa dijadikan patokan utama untuk menilai keberhasilan olahraga.
“Dalam banyak kasus, banyaknya keringat bukanlah ukuran efektivitas olahraga,” ujar Kovacs.
Keringat Merupakan Cara Tubuh Mendinginkan Diri
Saat berolahraga, otot menghasilkan panas sebagai bagian dari proses penggunaan energi. Ketika suhu tubuh meningkat, sistem saraf akan merespons dengan mengaktifkan kelenjar keringat.
Pelatih kebugaran bersertifikat Brooke Taylor, CPT, menjelaskan bahwa keringat berfungsi terutama untuk membantu tubuh mengatur suhu.
“Keringat adalah sistem pendingin tubuh, bukan sistem kebugaran tubuh,” kata Taylor. Keringat yang keluar ke permukaan kulit kemudian menguap dan membawa panas sehingga tubuh menjadi lebih dingin.
Dengan demikian, banyaknya keringat lebih berkaitan dengan seberapa banyak panas yang perlu dilepaskan tubuh, bukan seberapa berat latihan yang dilakukan.
Kovacs juga menegaskan, keringat bukan penanda seberapa keras seseorang berolahraga. Menurut dia, keringat menunjukkan seberapa banyak panas yang perlu dilepaskan tubuh untuk mempertahankan suhu inti pada tingkat yang aman.
Bukan Berarti Banyak Kalori Terbakar
Anggapan bahwa keringat lebih banyak berarti kalori yang terbakar lebih banyak juga tidak sepenuhnya benar. Tingkat keringat tidak dapat digunakan untuk mengukur pembakaran kalori, beban otot, intensitas latihan, maupun kualitas olahraga.
Taylor menjelaskan bahwa pembakaran kalori dipengaruhi berbagai faktor, seperti detak jantung, total pekerjaan fisik, konsumsi oksigen, beban dan resistansi, serta efisiensi gerakan.
“Pembakaran kalori yang sebenarnya dipengaruhi oleh berbagai faktor kebugaran, seperti variabilitas detak jantung, total beban kerja, konsumsi oksigen, beban dan resistansi, serta efisiensi gerakan,” ujar Taylor.
Itulah sebabnya seseorang bisa berkeringat deras saat mengikuti kelas yoga dalam ruangan panas, tetapi belum tentu membakar lebih banyak kalori dibandingkan orang yang melakukan latihan kekuatan di ruangan yang lebih sejuk.
“Keringat mencerminkan tekanan panas, bukan rangsangan latihan,” kata Taylor. Kondisi lingkungan juga dapat membuat olahraga terasa lebih berat. Dalam suhu panas, tubuh mengalihkan lebih banyak aliran darah ke kulit untuk membantu melepaskan panas.
Kondisi tersebut bahkan dapat membuat olahraga terasa lebih berat tanpa otomatis meningkatkan manfaat pembentukan otot atau pembakaran lemak.
Bagaimana Menilai Olahraga Efektif?
Jika bukan dari banyaknya keringat, efektivitas olahraga dapat dilihat melalui indikator lain yang lebih relevan. Salah satunya adalah perkembangan kemampuan tubuh dari waktu ke waktu.
Misalnya, seseorang mampu mengangkat beban yang lebih berat, melakukan lebih banyak repetisi, atau berlari dengan waktu yang lebih cepat dibandingkan beberapa minggu sebelumnya. Kemajuan yang konsisten dapat menjadi tanda tubuh beradaptasi dan mengalami peningkatan kekuatan maupun daya tahan.
Detak jantung juga dapat menjadi indikator. Detak jantung istirahat yang lebih rendah serta kemampuan tubuh kembali pulih lebih cepat setelah latihan intens dapat menunjukkan adanya peningkatan kebugaran aerobik.
Selain itu, tingkat persepsi terhadap aktivitas atau rate of perceived exertion (RPE) dapat digunakan untuk menilai seberapa berat latihan terasa. Skala ini berkisar dari 1 hingga 10, dengan angka 1 menunjukkan hampir tidak ada usaha dan 10 berarti usaha maksimal.
Kondisi tubuh setelah latihan juga penting diperhatikan. Tidur yang berkualitas, energi yang stabil, suasana hati yang baik, dan rasa pegal yang masih dapat dikelola merupakan sejumlah tanda bahwa program olahraga berjalan selaras dengan kemampuan tubuh.
Jadi, jangan buru-buru menganggap olahraga lebih efektif hanya karena tubuh lebih banyak berkeringat. Keringat merupakan cara tubuh mendinginkan diri, sedangkan perkembangan performa dan kemampuan tubuh dari waktu ke waktu lebih bisa menggambarkan hasil latihan.






