KNews.id – Jakarta – Beberapa dekade, tidak banyak orang yang membayangkan bahwa negara-negara Asia akan menjadi pusat perkembangan teknologi dunia. Universitas-universitas Barat menjadi kiblat akademik yang nyaris tak tergantikan. Jika seseorang ingin mengikuti perkembangan sains mutakhir, ia harus membaca jurnal dari Amerika atau Eropa.
Hanya dalam satu generasi Iran (Asia Barat ) bangkit dari tekanan sanksi dan embargo dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipimpin oleh generasi peneliti dan ilmuwan muda mereka.
Tingkat pertumbuhan ilmu pengetahuan, 11 kali lebih cepat dari rata-rata dunia . Peringkat global no. 72 dalam laporan teknologi & inovasi 2025. Publikasi ilmiah meningkat 55 kali lipat pasca Revolusi Islam 1979. Kontribusi ilmu dunia meningkat 180 kali lipat sejak 1979.
Bidang teknologi unggulan, Nanoteknologi masuk jajaran 12 negara terpintar dunia. Kedirgantaraan & satelit mampu meluncurkan satelit tanpa pakar asing. Teknologi nuklir damai 5 negara besar dunia. Sel punca (stem cell),10 negara teratas dunia. Iran juga unggul pada kecerdasan buatan & robotika.
Dalam beberapa disiplin ilmu Iran masuk 5 negara teratas dunia, bidang lain 10 besar, bahkan beberapa sektor 3 negara terdepan. Salah satu ironi besar, kemajuan ini justru tumbuh dari keterbatasan embargo panjang.
Ayatullah Khamenei menegaskan, seluruh kemajuan Iran dicapai di masa sanksi. Generasi ilmuwan Iran berhasil mengembangkan teknologi kompleks secara mandiri meski akses teknologi Barat dibatasi
Bagaimana dengan Indonesia, mengalami lost generation selama 20 tahun lebih (sekitar 1 generasi). 20 tahun = 1 generasi (satu generasi biasanya 20-25 tahun).
Jika merujuk pada kemunduran ilmu dan teknologi secara keseluruhan, ada pernyataan bahwa dalam 80 tahun kemerdekaan Indonesia mengalami kemunduran, setara dengan sekitar 3-4 generasi.
90% penemuan teknologi di Indonesia rendah, bangsa terjebak dalam perangkap mengadopsi teknologi asing. Anggaran pemerintah untuk riset hanya 0,08% dari APK (masih sangat rendah). Wajar banyak potensi ilmuwan anak muda bisa berkembang di luar negeri.
Kompetensi guru rata-rata hanya 53,02% (2015), nilai uji kompetensi calon guru lebih rendah encore. Keterbatasan anggaran & fasilitas riset, insentif tidak menarik bagi peneliti. Kebijakan iptek belum menghasilkan kemajuan signifikan sangat jauh dibandingkan dengan Iran yang selama ini sekalipun dalam tekanan derita embargo.
Indonesia pernah menjadi pelopor teknologi di Asia Tenggara lewat Satelit Palapa dan pesawat karya BJ Habibie, namun kini mengalami kemunduran dibanding masa itu. Masalah ini kompleks dan multidimensi, melibatkan faktor pendidikan, budaya, anggaran, hingga kebijakan pemerintah apalagi di pimpin sekelas presiden boneka.
Indonesia belajarlah dari kemajuan Iran, kuat dalam aqidahnya unggul dalan ilmu dan teknologi, mutlak harus ada reformasi struktural menyeluruh, memberi ruang pada generasi yang lahir berkesempatan menjadi generasi unggul di negerinya sendiri mampu bersaing dalam keunggulan generasi ilmu dan teknologi di muka bumi, tetap berkepribadian Indonesia.
Iran melesat satu generasi sebagai Generasi IPTEK – Indonesia Mundur sebagai generasi tertinggal. Memalukan jangan lagi ada presiden dan wakil presiden sekelas Jokowi dan Gibran. Jangan juga lahir kembali presiden kalau hanya akan latihan jadi presiden.
(RD/NRS)





