KNews.id – Jakarta – Umat Islam di seluruh dunia sebentar lagi akan menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriyah yang diperkirakan jatuh pada 16 Juni 2026. Momentum pergantian tahun Hijriyah ini tidak sekadar menjadi penanda pergantian kalender, tetapi juga mengingatkan kembali pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW yang menjadi titik awal kebangkitan peradaban Islam.
Dalam sejarah Islam, 1 Muharam diperingati sebagai awal tahun baru Hijriyah. Peringatan ini pada hakikatnya merupakan upaya mengenang perjalanan hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah sekaligus mengambil pelajaran dari makna hijrah dalam kehidupan saat ini.
Dalam buku “Di Balik 7 Hari Besar Islam: Sejarah, Makna dan Amaliah” dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Setelah sekitar 13 tahun berdakwah di Makkah, Rasulullah memutuskan hijrah karena tekanan dan ancaman yang terus dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap umat Islam.
Para ahli sejarah memandang peristiwa hijrah sebagai titik balik kebangkitan peradaban Islam atau the starting point of the Islamic era. Sebelum berangkat, Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin untuk terlebih dahulu menuju Madinah tanpa membawa harta benda mereka. Sementara beliau bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq dan sejumlah sahabat menjadi rombongan terakhir yang meninggalkan Makkah.
Abu Bakar juga menyewa seorang penunjuk jalan bernama Abdullah bin Uraiqith. Meski belum memeluk Islam, ia tetap menjaga amanah dan tidak membocorkan rencana hijrah kepada kaum Quraisy. Padahal, saat itu kaum Quraisy menjanjikan hadiah 100 ekor unta bagi siapa saja yang berhasil membunuh Rasulullah.
Dalam perjalanan menuju Madinah, Rasulullah memilih jalur pesisir Laut Merah yang lebih jauh dari rute utama Makkah-Madinah. Beliau sempat singgah di Quba dan mendirikan Masjid Quba, yang menjadi masjid pertama dalam sejarah Islam.
Empat hari kemudian, Rasulullah melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Di perkampungan Bani Salim bin Auf, beliau kembali membangun masjid dan melaksanakan Shalat Jumat untuk pertama kalinya.
Pada Senin, 10 Rabiul Awal, Rasulullah bersama rombongannya akhirnya tiba di Madinah. Kedatangan beliau disambut hangat oleh kaum Muhajirin yang telah lebih dahulu datang dan kaum Ansar yang menyambut dengan lantunan syair dan shalawat.
Peristiwa hijrah Rasulullah dan kaum Muhajirin tersebut kemudian menjadi tonggak penting perkembangan dan penyebaran Islam ke berbagai penjuru dunia. Karena besarnya makna hijrah itu, Khalifah Umar bin Khattab menjadikannya sebagai awal penanggalan kalender Hijriyah.
Sebagaimana kalender Masehi, kalender Hijriyah juga terdiri atas 12 bulan, yakni Muharam, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadal Ula, Jumadal Akhir, Rajab, Syaban, Ramadhan, Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah diharapkan menjadi sarana muhasabah bagi umat Islam untuk memperbaiki diri dan meneladani semangat hijrah Rasulullah SAW dalam membangun kehidupan yang lebih baik.





