KNews.id – Jakarta – Bank Dunia membunyikan peringatan terhadap kondisi kelas menengah Indonesia. Meski pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan tetap berada di kisaran 5% dalam beberapa tahun ke depan, lembaga tersebut menilai kualitas pekerjaan dan perkembangan pendapatan masyarakat masih menjadi tantangan yang dapat menghambat perluasan kelompok kelas menengah.
Dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, Bank Dunia menyebut bahwa risiko domestik berpotensi memperburuk tekanan eksternal yang sedang dihadapi perekonomian Indonesia. Salah satu risiko yang mendapat perhatian adalah lemahnya kualitas lapangan kerja dan menurunnya upah riil pekerja berkeahlian menengah hingga tinggi.
Menurut Bank Dunia, kondisi tersebut dapat membatasi kemampuan rumah tangga untuk meningkatkan konsumsi dan menghambat mobilitas ekonomi masyarakat menuju kelas menengah yang lebih kuat.
“Kualitas pekerjaan yang lemah serta penurunan upah riil di kalangan pekerja berkeahlian menengah dan tinggi juga dapat membatasi konsumsi rumah tangga dan menghambat perluasan kelas menengah,” tulis Bank Dunia dalam laporannya, Kamis (11/6/2026).
Bank Dunia menyebut tren tersebut menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyusutan kelas menengah di Indonesia. Dalam laporan itu dijelaskan, sepanjang periode 2018-2025, upah riil pekerja berkeahlian menengah turun sekitar 1% per tahun, sedangkan pekerja berkeahlian tinggi mengalami penurunan sekitar 2% per tahun.
Penurunan tersebut ikut menekan tren upah secara keseluruhan hingga sekitar 0,5% per tahun berdasarkan pertumbuhan tahunan gabungan (compound annual growth rate/CAGR) median upah riil. Sebaliknya, pekerja berkeahlian rendah justru mencatat kenaikan upah rata-rata sekitar 1,7% per tahun.
“Perbedaan tren tersebut secara bertahap mengurangi proporsi pekerja kelas menengah,” katanya. Akibat tekanan tersebut, porsi pekerja kelas menengah turun drastis dari 14,5% pada 2018 menjadi hanya 7,1% pada 2025. Bank Dunia menilai terbatasnya penciptaan lapangan kerja formal berkualitas menjadi masalah utama. Kondisi ini membuat semakin banyak pekerja berpendidikan tinggi beralih ke sektor informal.
Data Bank Dunia menunjukkan porsi lulusan perguruan tinggi yang bekerja sebagai pekerja formal bergaji turun dari 74,1% pada 2018 menjadi 67,8% pada 2025. Sementara itu, lulusan pendidikan menengah atas mengalami penurunan hampir 7 poin persentase dalam pekerjaan formal bergaji selama periode yang sama.
Meski demikian, sebagian lulusan perguruan tinggi masih mampu masuk ke kelompok pekerjaan informal tingkat atas. Proporsinya meningkat dari 6,7% pada 2018 menjadi 8,9% pada 2025. Namun, pekerja dengan tingkat pendidikan lebih rendah tidak memiliki alternatif serupa dan sebagian besar terserap ke pekerjaan informal tingkat bawah.
Menurut Bank Dunia, fenomena ini menunjukkan terjadinya pembalikan dari pola yang selama ini berlaku, di mana pendidikan yang lebih tinggi umumnya meningkatkan peluang memperoleh pekerjaan formal dan pendapatan yang lebih baik. Lembaga tersebut menilai lemahnya permintaan tenaga kerja dari dunia usaha menyebabkan banyak pekerja terdidik harus menerima pekerjaan yang tidak sesuai dengan tingkat keterampilan yang dimiliki.
Lebih jauh, meningkatnya penyerapan tenaga kerja terdidik ke sektor informal dinilai berpotensi menekan kesejahteraan jangka panjang. Pekerjaan informal umumnya menawarkan tingkat keamanan kerja yang lebih rendah, perlindungan sosial yang terbatas, serta peluang peningkatan pendapatan yang lebih kecil.
“Pola ini sejalan dengan semakin tergerusnya upah kelas menengah dan stagnasi perekrutan tenaga kerja di sektor jasa bernilai tambah tinggi,” tulis Bank Dunia.





