KNews.id – Jakarta – Gula tersembunyi atau hidden sugar kerap menjadi salah satu ‘jebakan Batman’ yang membuat banyak orang tanpa sadar mengonsumsi gula berlebih setiap hari.
Padahal, asupan gula yang berlebihan dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan meningkatkan risiko berbagai penyakit metabolik.
Fenomena tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam detikcom Leaders Forum bertajuk ‘Jebakan Hidden Sugar: Ada di Mana-mana, Diam-diam Bikin Gendut’, Jumat (5/6/2026).
Health communicator Kalbe Nutritionals, dr Laurencia Ardi, M.Gizi, AIFO-K mengingatkan untuk lebih cermat membaca label nutrisi pada makanan dan minuman kemasan. Menurutnya, langkah sederhana ini dapat membantu masyarakat mengontrol asupan gula harian.
Jangan Hanya Lihat Gula Total
Menurut dr Laurencia, salah satu hal yang perlu diperhatikan saat membaca label nutrisi adalah kandungan gula per sajian. Ia mengingatkan bahwa batas konsumsi gula harian yang dianjurkan setara dengan sekitar 50 gram atau kurang lebih lima sendok makan.
“5 sendok makan itu kurang lebih sekitar hampir 50 gram,” ujarnya.
Tidak sedikit produk yang mengandung gula hingga 20-29 gram per sajian. Dengan batas konsumsi gula harian sekitar 50 gram, jumlah tersebut kerap dianggap sudah mendekati setengah dari asupan harian yang dianjurkan.
Namun, masyarakat tidak cukup hanya melihat angka “gula total” yang tercantum pada label nutrisi. Informasi yang lebih penting adalah memahami jenis gula yang terkandung dalam produk tersebut.
“Di label sendiri itu kita juga harus baca, biasanya ada tulisan gula total. Habis dari gula total, di bawahnya akan di-breakdown. Ada sukrosa,” jelas dr Laurencia.
Ia menerangkan sukrosa merupakan gula pasir atau gula tambahan yang perlu menjadi perhatian utama saat seseorang ingin membatasi konsumsi gula.
Health communicator Kalbe Nutritionals, dr Laurencia Ardi, M.Gizi, AIFO-K. Foto: Andhika Prasetia/DetikFoto
Bedakan Gula Tambahan dan Gula Alami
Selain sukrosa, label nutrisi juga kerap mencantumkan laktosa. Berbeda dengan sukrosa, laktosa merupakan gula alami yang berasal dari susu.
Menurut dr Laurencia, baik sukrosa maupun laktosa sama-sama termasuk bagian dari karbohidrat yang nantinya akan diubah menjadi energi oleh tubuh. Namun, bagi yang ingin mengurangi konsumsi gula tambahan, kandungan sukrosa perlu lebih diperhatikan.
“Yang harus kita khawatirkan adalah sukrosanya,” katanya.
Ia menambahkan, masyarakat yang tetap ingin menikmati rasa manis tanpa menambah banyak kalori dapat mempertimbangkan penggunaan pemanis non-kalori.
Pemanis tersebut dapat berasal dari bahan alami seperti stevia maupun pemanis buatan seperti sukralosa pemanis buatan non-kalori yang dibuat dari modifikasi gula pasir (sukrosa). Namun, informasi mengenai pemanis biasanya lebih sering ditemukan pada daftar komposisi produk dibandingkan pada label nutrisi.
Karena itu, masyarakat dianjurkan tidak hanya melihat tabel informasi nilai gizi, tetapi juga membaca daftar komposisi secara menyeluruh agar dapat mengetahui jenis pemanis yang digunakan dalam suatu produk.





