KNews.id – Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini lebih sering dibaca dari sisi konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah. Padahal, ada satu komponen lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan, yaitu net export atau ekspor bersih.
“Sebagai komponen yang diharapkan menjadi motor penggerak Produk Domestik Bruto (PDB) yang menjadi dasar perhitungan kinerja perekonomian nasional, ekspor bersih justru memperlihatkan tren yang kian melemah,” ungkap Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko di Jakarta, Minggu (31/05/2026)
Christiantoko memaparkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan kontribusi ekspor bersih terhadap PDB kini berada di posisi terendah dalam lima tahun terakhir (Maret 2022-Maret 2026). Jika pada Maret 2022 kontribusinya masih mampu menopang sekitar 2,47% terhadap perekonomian nasional atau PDB, memasuki Maret 2026 angka tersebut menyusut hingga tersisa 0,93%.
Merosotnya kontribusi ekspor bersih ini dipicu oleh ketimpangan yang masif antara laju pertumbuhan ekspor nasional yang berjalan di tempat dan lonjakan impor industri yang melesat. Pada triwulan-I 2026, ekspor riil nasional tercatat hanya tumbuh tipis 0,90%, sementara laju impor justru melesat hingga 7,18%. Akibatnya, pertumbuhan ekspor bersih secara riil kembali mengalami kontraksi dan tumbuh minus hingga 24,3%.
“Kinerja ekspor seperti ini tentu jadi beban bagi perekonomian nasional yang diharapkan melesat menuju di atas 6%. Kinerja ekspor yang masih berjalan lambat ini berpotensi menjadi batu sandungan pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Kinerja Ekspor RI Tertinggal dari Malaysia dan Vietnam
Melihat anomali data tersebut, Christiantoko memberikan catatan kritis terkait struktur perdagangan Indonesia yang masih sangat bertumpu pada momentum harga komoditas global dan dinamika impor domestik.
“Ketika harga komoditas global melonjak atau impor melemah, ekspor bersih kita memang akan terlihat impresif sebagai penopang PDB. Namun, begitu harga komoditas balik turun dan kebutuhan aktivitas industri dalam negeri meningkat, kontribusinya langsung menyempit drastis. Kita belum memiliki mesin pertumbuhan eksternal yang stabil ,” ujar Christiantoko.
Jika melihat data Bank Dunia sepanjang 10 tahun (2015-2024), Indonesia selama ini cenderung lebih bertumpu pada pasar domestik dan komoditas, hal ini tercermin dari kontribusi ekspor Indonesia terhadap PDB umumnya hanya bergerak konstan di kisaran 17-22% saja.
Kondisi tersebut berbeda dengan Malaysia yang telah lama mapan membangun basis ekspor manufaktur kuat, khususnya di sektor Electrical & Electronics (E&E). Rasio ekspor Malaysia terhadap PDB berada jauh di atas Indonesia, yakni di kisaran 66-71%.
Sementara Vietnam menyajikan performa yang jauh lebih agresif di pasar internasional. Melalui integrasi rantai pasok global berbasis foreign direct investment (FDI) pada sektor elektronik, tekstil, dan alas kaki. Rasio ekspor terhadap PDB Vietnam meroket dari 72,92% pada 2015 menjadi 90,15% pada 2024.
“Di sisi lain, data Bank Dunia di tahun 2024 menunjukkan, kontribusi ekspor bersih (net export) Indonesia terhadap PDB hanya sebesar 1,79%, jauh di bawah Malaysia yang mencatatkan angka 5,32%, serta Vietnam yang mencapai 6,45%,” papar Christiantoko ketika membandingkan ketiga negara.
Dinamika Tekanan Ekspor dan Impor Pesawat yang Melesat
Mengacu pada data TradeMap, lonjakan impor tertinggi Indonesia pada triwulan I-2026 terjadi pada komoditas pesawat terbang, pesawat ruang angkasa, dan bagiannya yang tumbuh 546,5% secara tahunan (year-on-year, yoy) dari US$132,99 juta pada triwulan I-2025 menjadi US$859,86 juta pada triwulan I-2026.
Sementara komoditas impor lain yang mencatatkan kenaikan signifikan adalah garam, belerang, tanah, dan batu yang naik 71,95% yoy, disusul oleh bijih logam, terak, dan abu yang tumbuh 60,64% yoy.
“Kenaikan pada komoditas-komoditas ini menjadi sinyal bahwa aktivitas industri domestik sedang bergerak. Namun di sisi lain, tingginya impor bijih logam mengindikasikan pasokan domestik belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan industri pengolahan dalam negeri,” ucap Christiantoko.
Christiantoko menilai kondisi peningkatan impor ini sayangnya tidak diimbangi oleh kinerja ekspor yang solid. Tekanan berat justru mendera sektor ekspor manufaktur dan produk bernilai tambah pada triwulan I-2026.
Penurunan ekspor paling tajam terjadi pada kelompok ikan, krustasea, dan moluska yang anjlok 14,8% yoy. Penurunan ini disusul oleh komoditas karet dan barang karet yang merosot 13,6% yoy, serta kayu dan barang kayu yang turun 13,25% yoy.
Secara khusus, anjloknya ekspor sektor perikanan dipengaruhi kuat oleh hambatan akses pasar ke Amerika Serikat (AS). Penolakan terjadi setelah Food and Drug Administration (FDA) AS menemukan kandungan cesium-137 (Cs-137) pada 18 peti kemas udang asal Indonesia.
“Kasus ini menjadi alarm keras bagi pelaku industri bahwa pembenahan standar keamanan pangan dan mutu mutlak diperlukan jika tidak ingin kehilangan pasar utama yang bernilai miliaran dolar,” tegasnya.
Menghadapi situasi ini, NEXT Indonesia Center mendorong pemerintah dan pelaku usaha untuk melihat pelemahan ekspor bersih bukan sekadar persoalan naik-turunnya angka perdagangan jangka pendek. Agenda memperkuat ekspor bersih harus ditempatkan sebagai bagian mendasar dari transformasi ekonomi yang lebih luas.
“Langkah penguatan ke depan perlu difokuskan pada perluasan basis ekspor, penguatan hilirisasi, memperdalam rantai pasok industri di dalam negeri, serta memastikan impor benar-benar menjadi input produktif bernilai tambah, bukan sekadar menggerus neraca belanja negara,” tutup Christiantoko.
(NS/NRS)





