KNews.id – Jakarta – Sejumlah pengamat menilai permintaan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar negara-negara Arab-Muslim meneken Abraham Accords sebagai syarat negosiasi damai dengan Iran mustahil dilakukan.
Trump pada Senin (25/5) meminta agar negara-negara Muslim yang terlibat negosiasi damai AS-Iran bergabung dengan Abraham Accords jika ingin kesepakatan tercapai.
Abraham Accords adalah perjanjian rekonsiliasi hubungan diplomatik antara negara Arab dengan Israel, yang dicetuskan Trump di masa jabatan pertamanya.
Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Maroko telah meneken perjanjian ini. Sudan, yang juga telah bergabung, belum secara resmi menjalin hubungan dengan Israel.
Trump secara khusus meminta agar Arab Saudi, Qatar, Mesir, Yordania, Pakistan, dan Turki ikut gabung dengan inisiatif ini.
Menurut pengamat senior di Royal United Services Institute and Center for American Progress, H.A. Hellyer, sentimen Arab terhadap pemerintah Israel memburuk setelah Negeri Zionis meluncurkan agresi brutal ke Jalur Gaza, Palestina, pada 7 Oktober 2023. Agresi militer itu menewaskan lebih dari 70.000 warga Palestina.
“Bagi mayoritas negara yang disebutkan, biaya politik yang dibayar untuk kondisi saat ini sangat mahal,” kata Hellyer, seperti dikutip AFP.
“Konflik di Gaza masih berlangsung, aneksasi di Tepi Barat semakin cepat, pasukan Israel masih berada di Lebanon selatan, dan Dataran Tinggi Golan diduduki,” lanjutnya.
Yossi Mekelberg, pengamat Timur Tengah di lembaga think-tank Chatham House, juga mengatakan tak ada lagi sikap lembut dari negara Muslim ke Israel buntut aksinya di Gaza selama ini. Karenanya, ia tak yakin negara-negara Muslim mau melakukannya.
“Ini sekadar iming-iming bagi Israel, dan kemungkinan besar tidak akan terjadi,” ujar Mekelberg.
“Kenapa juga mereka repot-repot memberikan penghargaan kepada (Perdana Menteri Benjamin) Netanyahu setelah banyaknya kerusakan yang dia timbulkan di kawasan dan terhadap kepentingan mereka?” ucapnya.
Pada 2023, Saudi sebetulnya sudah terlibat pembicaraan intens mengenai prospek bergabung Abraham Accords. Namun, pembicaraan itu tak lanjut setelah Israel menyerang Gaza.
Saudi menegaskan tak akan menormalisasi hubungan dengan Israel tanpa kemerdekaan Palestina.
Menurut Hellyer, sikap Saudi saat ini masih sama dengan awal, mengingat betapa kejinya Israel di Jalur Gaza dan bagaimana pandangan dunia terhadap negara tersebut.
“Jika mereka akhirnya memutuskan normalisasi, kemungkinan akan dilakukan atas kemauan mereka sendiri,” papar Hellyer.
Mantan diplomat AS, Barbara A. Leaf, juga sangsi bahwa negara-negara Arab dan Muslim bakal setuju dengan permintaan Trump karena kondisi global sekarang.
Lihat Juga :
Trump Beri Iran Opsi soal Uranium: Serahkan ke AS atau Dihancurkan
“Saya tidak merasa negara-negara Arab-Muslim yang pemimpinnya bicara kepada Presiden Trump pada 23 Mei akan menyetujui permintaannya untuk normalisasi dengan Israel sekarang,” kata Leaf.
Menurut sejumlah analis, permintaan Trump akan Abraham Accords sendiri tampaknya tak sungguh-sungguh. Mereka menilai Trump sepertinya hanya ingin menenangkan Israel selagi ia membuat kesepakatan dengan Iran, yang notabene musuh terbesar Negeri Zionis.





