KNews.id – Jakarta – Militer Rusia berhasil melakukan uji tembak rudal balistik antarbenua canggih RS-28 Sarmat. Komandan Pasukan Rudal Strategis, Jenderal Sergey Karakaev, telah melaporkan kepada Presiden Vladimir Putin. Pengembangan ini akan memungkinkan militer untuk melengkapi resimen rudal pertama dengan sistem senjata baru pada akhir tahun, kata Karakaev.
Rusia Uji Tembak Rudal Antarbenua RS-28 Sarmat, Ini 3 Kelebihannya
1. Mampu Menembus Sistem Pertahanan Rudal
RS-28 Sarmat yang berbahan bakar cair dan berat dirancang untuk menggantikan rudal berbasis silo paling ampuh di dunia, RS-20V Voevoda (SS-18 Satan menurut klasifikasi NATO). Rudal ini diyakini mampu membawa hingga sepuluh hulu ledak berat dengan kemampuan masuk kembali ke atmosfer berkali-kali.
Menurut Karakaev, sistem rudal baru ini menunjukkan kemampuan yang melebihi pendahulunya, terutama dalam hal jangkauan dan muatan. Sistem onboard-nya juga memungkinkan rudal ini untuk “menembus sistem pertahanan rudal yang ada dan yang sedang berkembang dengan aman,” kata jenderal tersebut.
2. Memiliki Jangkauan 35.000 Km
Putin mengucapkan selamat kepada militer atas keberhasilan uji coba tersebut, menyebut Sarmat sebagai “sistem rudal paling ampuh di dunia.” Menurut presiden, rudal ini mampu mengirimkan muatan empat kali lebih besar daripada rudal Barat mana pun.
Rudal ini juga memiliki jangkauan lebih dari 35.000 kilometer dan dua kali lebih presisi daripada pendahulunya, tambahnya. Rudal ini dilaporkan kompatibel dengan peluncur hipersonik yang digunakan dalam sistem rudal Rusia lainnya yang disebut Avangard. Jenis hulu ledak ini dapat mendekati target di atmosfer dengan kecepatan tinggi sambil mempertahankan kemampuan manuver untuk menghindari sistem rudal anti-balistik (ABM). Militer Rusia sebelumnya menyatakan bahwa jangkauan Sarmat memungkinkan rudal tersebut ditembakkan dari Rusia ke target di AS melalui Kutub Selatan, menghindari situs ABM Amerika di Alaska.
2. Menjaga Keseimbangan Strategis
Menurut Putin, Moskow meluncurkan program pengembangan rudal yang berfokus pada penembusan dan pertahanan rudal setelah penarikan sepihak AS dari Perjanjian Rudal Anti-Balistik (ABM) pada tahun 2022 di bawah George W. Bush.
“Kami terpaksa memikirkan cara memastikan keamanan strategis kami dalam realitas baru,” kata presiden, dilansir RT. Dia menambahkan bahwa tindakan Moskow bertujuan untuk “mempertahankan keseimbangan kekuatan strategis.”
Dua sistem senjata canggih lainnya juga berada dalam tahap pengembangan akhir: rudal jelajah Burevestnik dengan jangkauan tak terbatas dan drone bawah air Poseidon, keduanya ditenagai oleh reaktor nuklir mini, kata Putin.




