KNews.id – Jakarta – Para praktisi teknologi informasi menyatakan, serangan siber semakin masif di Indonesia. Berdasarkan laporan yang di keluarkan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), terdapat lebih dari 3,5 miliar anomali trafik yang menargetkan infrastruktur digital Indonesia sepanjang 2025.
Anomali tersebut mencakup sektor Internet of Things (IoT), operational technology (OT), sistem pembayaran digital, hingga Application Programming Interface, yang dalam bahasa Indonesia disebut Antarmuka Pemrograman Aplikasi API).
Selain itu, Indonesia juga menghadapi tantangan struktural dalam kesiapan keamanan siber, termasuk kesenjangan talenta yang diperkirakan mencapai 0,6 hingga 1,5 juta tenaga profesional keaman siber di masa depan.
Di sisi lain, kompleksitas penggunaan tools juga menjadi tantangan tersendiri, di mana organisasi rata-rata menggunakan 10–20 tools keamanan (hingga 60–130 pada skala besar), yang berpotensi menimbulkan fragmentasi sistem keamanan.
“Keamanan siber bukan lagi sekadar pilihan teknis, melainkan komponen krusial dalam mitigasi risiko bisnis. Oleh karena itu, setiap institusi perlu mengantisipasi sejak dini dengan memperkuat keamanan aset digitalnya,” kata Buddy Restiady, Finance & Risk Management Director Digiserve di acara Media Gathering bertajuk “Strengthening Digiserve Cyber Security Services with Advanced Korean Technology” di Jakarta, baru-baru ini.
Kerugian Serangan Siber Rp8 Triliun Per Tahun
Buddy mengatakan, serangan siber membawa dampak finansial yang sangat besar bagi Indonesia dan nilainya semakin signifikan.
“Kerugian bisnis akibat serangan siber di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari Rp8 triliun per tahun, dengan rata-rata kerugian sekitar Rp4,7 miliar untuk setiap serangan ransomware,” sebutnya.
Menghadapi situasi ini Buddy menegaskan komitmen DIgiserve dalam memperkuat ekosistem keamanan siber di Indonesia melalui kolaborasi strategis dengan DBM Works Solusi Indonesia.
Kolaborasi ini menghadirkan teknologi keamanan siber unggulan dari Korea Selatan ke Indonesia sebagai respon atas meningkatnya kompleksitas serangan siber yang terjadi.
Melalui sinergi ini, Digiserve mengintegrasikan keunggulan teknologi cybersecurity Korea dengan kapabilitas managed services serta pemahaman mendalam terhadap kebutuhan dan dinamika pasar lokal.
Buddy Restiady menekankan pentingnya kolaborasi ini dalam menjaga keberlangsungan bisnis pelanggan.
“Transformasi digital yang berkelanjutan harus dibangun di atas fondasi keamanan siber yang kuat. Melalui kolaborasi dengan mitra teknologi cybersecurity asal Korea, kami menggunakan pendekatan advanced security analytics dan threat detection yang telah teruji secara global, namun tetap relevan dengan kebutuhan bisnis di Indonesia,” ujar Buddy Restiady.
Buddy menambahkan, aspek manajemen risiko kini menjadi prioritas utama bagi setiap organisasi. Seiring dengan akselerasi digital, potensi ancaman terhadap keamanan data juga semakin meningkat.
“Sebagai bagian inisiatif ini, Digiserve melengkapo solusi Managed Security Services (MSS) dengan SoCaaS (Security operation Center as a Service) yang memiliki scalable dan adaptif.




