spot_img

Putin Peringatkan Trump: Konflik Baru Bisa Picu Konsekuensi Mengerikan

KNews.id – Jakarta – Presiden Rusia Vladimir Putin melontarkan peringatan keras kepada Presiden Donald Trump. Kremlin memperingatkan akan adanya “konsekuensi mengerikan” jika pertempuran kembali pecah di tengah masa gencatan senjata yang sangat rapuh saat ini.

Mengutip laporan Newsweek, penasihat kebijakan luar negeri Kremlin Yuri Ushakov mengungkapkan bahwa Putin telah menghubungi Trump secara langsung melalui sambungan telepon. Dalam percakapan tersebut, Putin menegaskan bahwa dimulainya kembali permusuhan akan menjadi langkah yang sangat berbahaya bagi stabilitas global.

- Advertisement -

“Putin mengatakan kepada Trump bahwa permusuhan yang diperbarui akan menjadi ‘berbahaya dan tidak dapat diterima’, terutama operasi darat apa pun di wilayah Iran,” kata Ushakov kepada kantor berita negara Rusia, TASS, dikutip Kamis (30/4/2026).

Peringatan ini muncul setelah Trump secara resmi menolak proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang berarti blokade laut AS tetap berlaku. Meski demikian, Putin menilai keputusan untuk memperpanjang gencatan senjata adalah langkah yang tepat guna memberikan kesempatan bagi jalur negosiasi.

- Advertisement -

Di sisi lain, Trump memberikan pernyataan mengejutkan saat ditemui di Oval Office pada Rabu, (29/04/2026) sore waktu setempat. Ia menyebut bahwa Putin sempat menawarkan bantuan terkait isu pengayaan uranium Iran, namun Trump justru mendesak Rusia untuk fokus pada hal lain.

“Saya katakan kepada Putin, ‘Saya jauh lebih suka Anda terlibat dalam mengakhiri perang dengan Ukraina’,” ujar Trump kepada wartawan.

Sementara itu, di dalam negeri AS, tekanan terhadap anggaran militer semakin memanas setelah biaya perang Iran diperkirakan telah menelan biaya fantastis sebesar US$ 25 miliar (Rp 431,32 triliun). Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine harus berhadapan dengan kritik tajam dari Kongres terkait efektivitas serangan tersebut.

“Fasilitas nuklir Iran telah ‘dilenyapkan’,” klaim Hegseth dalam dengar pendapat dengan Komite Angkatan Bersenjata DPR.

Israel Tiba-Tiba Panas ke Ukraina: Dituduh ‘Maling’-Ungkit Rusia
Pernyataan Hegseth tersebut langsung memicu perdebatan sengit, terutama karena pemerintahan Trump tengah mengusulkan anggaran pertahanan tahun 2027 yang mencetak rekor sebesar US$ 1,5 triliun (Rp 25,87 kuadriliun). Anggota parlemen dari kedua partai mempertanyakan tujuan jangka panjang konflik ini dan beban yang ditanggung oleh pasukan serta stok amunisi AS.

Menanggapi skeptisisme para anggota dewan, Hegseth melontarkan serangan balik dengan menyebut kritik tersebut justru merusak upaya militer di lapangan. Ia menuding kata-kata yang keluar dari Kongres sebagai hambatan terbesar saat ini.

- Advertisement -

“Tantangan terbesar, musuh terbesar yang kita hadapi saat ini adalah kata-kata sembrono, lemah, dan berjiwa kalah dari Demokrat di Kongres dan beberapa Republikan,” tegas Hegseth di hadapan komite.

Hingga saat ini, AS dan Iran masih terjebak dalam kebuntuan diplomatik yang belum menemui titik temu. Trump bersikeras tidak akan mengakhiri perang selama Iran tidak melepaskan ambisi nuklirnya, sementara Teheran tetap enggan menyerah meskipun berada di bawah tekanan blokade laut yang melumpuhkan ekonomi mereka.

(RD/CNBC)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini