KNews.id – Jakarta – Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengisyaratkan peluang bagi Malaysia untuk bernegosiasi dengan Rusia guna memperoleh pasokan minyak mentah, seiring dinamika geopolitik dan kebutuhan energi global yang terus berubah.
Dalam sambutannya saat meresmikan Bandara Sultan Ismail Petra di Kelantan, Sabtu (18/4), Anwar menyebut pemerintah Malaysia, termasuk perusahaan energi nasional Petronas, terbuka menjajaki kerja sama dengan Rusia untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar domestik.
“Dalam situasi saat ini, pemerintah, termasuk dari Petronas, dapat bernegosiasi dengan Rusia untuk memenuhi beberapa kebutuhan Malaysia sebagai negara sahabat,” ujar Anwar, sebagaimana dikutip dari keterangan resmi di Kuala Lumpur, Ahad (19/4).
Anwar menyoroti perubahan sikap negara-negara Barat terhadap minyak Rusia. Jika sebelumnya Eropa dan Amerika Serikat memberlakukan sanksi dan pembatasan impor, kini realitas geopolitik dan tekanan ekonomi global memaksa adanya ruang penyesuaian.
Menurut dia, kondisi tersebut menciptakan dinamika baru di pasar energi global, di mana banyak negara kini berlomba melakukan negosiasi untuk mendapatkan pasokan minyak dari Rusia.
“Sekarang ini, banyak negara berebut, berunding, dan memohon untuk membeli minyak dari Rusia. Itu menarik,” katanya.
Ia menegaskan, Malaysia berada pada posisi yang relatif diuntungkan karena memiliki hubungan bilateral yang baik dengan Moskow. Hal ini dinilai membuka peluang bagi Kuala Lumpur untuk mengamankan pasokan energi di tengah ketidakpastian global.
Sebelumnya, Anwar juga telah mengemukakan kemungkinan pembelian minyak mentah Rusia dalam pernyataan bersama dengan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese seusai pertemuan bilateral di Malaysia, Kamis (16/4).
Dalam kesempatan tersebut, Anwar menekankan bahwa kebijakan luar negeri Malaysia tetap bersifat terbuka dan pragmatis, dengan menjalin hubungan baik dengan berbagai negara demi melindungi kepentingan nasional.
“Sebagai sebuah negara, kami menjalin hubungan dengan banyak pihak. Investasi perdagangan terbesar masih dari Amerika Serikat. Meskipun demikian, kami memiliki hubungan bilateral yang baik dengan Rusia,” ujarnya.
Langkah Malaysia membuka peluang negosiasi dengan Rusia mencerminkan pergeseran pendekatan negara-negara berkembang dalam menghadapi krisis energi global. Ketika tekanan harga energi meningkat, pertimbangan pragmatis cenderung mengemuka dibandingkan kalkulasi politik semata.
Di kawasan Asia Tenggara, dinamika ini juga menunjukkan bagaimana negara-negara ASEAN mulai mengambil posisi yang lebih fleksibel dalam menjaga ketahanan energi. Diversifikasi sumber pasokan menjadi strategi utama untuk mengurangi ketergantungan pada satu blok geopolitik tertentu.
Rusia, sebagai salah satu produsen minyak terbesar dunia, dalam beberapa tahun terakhir memang mengalihkan fokus ekspornya ke Asia setelah pasar Eropa menyusut akibat sanksi. Kondisi ini membuka peluang bagi negara-negara Asia untuk mendapatkan minyak dengan harga yang relatif lebih kompetitif.
Sejumlah negara seperti India dan China sebelumnya telah meningkatkan impor minyak Rusia secara signifikan. Mereka memanfaatkan diskon harga yang diberikan Moskow untuk menjaga stabilitas energi domestik sekaligus menekan inflasi.
Bagi Malaysia, potensi kerja sama ini bukan hanya soal harga, tetapi juga berkaitan dengan keamanan pasokan jangka panjang. Dengan permintaan energi yang terus meningkat, stabilitas suplai menjadi faktor krusial dalam menjaga pertumbuhan ekonomi.
Namun demikian, langkah ini tidak lepas dari risiko geopolitik. Hubungan Malaysia dengan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat sebagai mitra dagang utama, tetap menjadi variabel penting yang harus diperhitungkan secara hati-hati.
Di sisi lain, perusahaan seperti Petronas memiliki pengalaman dalam mengelola kerja sama lintas negara dengan berbagai rezim politik. Hal ini memberi ruang bagi Malaysia untuk menavigasi kompleksitas hubungan internasional tanpa harus terjebak dalam satu poros kekuatan.
Analis energi menilai, jika negosiasi ini terealisasi, Malaysia berpotensi mendapatkan keuntungan dari sisi biaya energi, terutama jika Rusia tetap menawarkan skema harga diskon seperti yang diberikan kepada negara-negara Asia lainnya.
Meski begitu, implementasi kerja sama tersebut akan sangat bergantung pada mekanisme pembayaran, logistik pengiriman, serta kepatuhan terhadap rezim sanksi internasional yang masih berlaku dalam berbagai bentuk.
Dalam konteks yang lebih luas, langkah Malaysia ini mencerminkan realitas baru dalam tata energi global, di mana batas antara politik dan ekonomi semakin cair, dan negara-negara berupaya mencari titik keseimbangan antara kepentingan nasional dan tekanan global.




