Oleh : Sutoyo AbadiĀ
KNews.id – Jakarta 7 April 2026 – Himbauan Jenderal Gatot Nurmantyo agar kita mengambil sikap lebih keras muncul dalam konteks peringatan serius tentang ancaman disintegrasi bangsa akibat krisis kepemimpinan nasional.
Gatot menegaskan bahwa Indonesia sedang menghadapi “pengkhianat bangsa” dan upaya sistematis yang bisa memecah belah negara jika rakyat tidak segera bangkit.
Sikap keras yang dimaksud, Ia tidak mengajak untuk melawan aparat TNI/Polri, melainkan sejak awal 2024 mendesak rakyat untuk bergerak aktif mengawal demokrasi melalui pembentukan “Posko Indonesia Siaga” di seluruh daerah untuk mencegah perpecahan dan disintegrasi bangsa, yang potensial sudah didepan kita.
Gatot menyoroti bahwa parlemen gagal menjadi penyeimbang kekuasaan eksekutif, sehingga kontrol sosial harus datang langsung dari rakyat yang terorganisir.
Gatot kembali memberikan peringatan keras terkait pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyatakan bahwa “Indonesia sedang gelap” dan memberi batas waktu terbatas bagi pemerintahan untuk menunjukkan perbaikan nyata. Jika tidak ada perubahan, ia mendesak masyarakat untuk bersuara lantang dan memberikan solusi demi keselamatan bangsa.
Sikap Gatot secara konsisten menekankan bahwa diam saja sama dengan membiarkan kehancuran. Sikap “keras” yang ia maksud adalah,
kawal Proses Demokrasi, jangan pasif terhadap indikasi kecurangan atau penyimpangan konstitusi.
Bentuk posko-posko kawalan rakyat yang damai namun tegas. Pastikan aksi tidak memicu konflik horizontal atau melawan aparat, karena mereka juga bagian dari rakyat.
Gatot mengajak kita beralih dari sekadar “waspada” menjadi aksi kolektif terorganisir untuk menyelamatkan NKRI dari ancaman perpecahan dan kegagalan kepemimpinan yang telah lepas dari kiblat bangsa.
(FHD/NRS)




