spot_img

Benarkah Suami Istri Dipertemukan Kembali di Surga? Simak Penjelasannya

KNews.id – Jakarta – Kehilangan pasangan hidup menjadi ujian berat bagi banyak orang. Tidak sedikit yang kemudian bertanya-tanya tentang kondisi orang yang telah wafat, termasuk apakah mereka mengetahui keadaan orang yang masih hidup dan apakah kelak akan dipertemukan kembali di akhirat.

Menjawab pertanyaan ini, pendakwah Maen Khalifa menjelaskan dalam ajaran Islam tidak terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa arwah orang yang telah meninggal dapat melihat atau mengetahui secara langsung apa yang dilakukan orang yang masih hidup, seperti tangisan atau kerinduan yang dirasakan.

- Advertisement -

Namun demikian, dia menegaskan bahwa jiwa-jiwa bisa saja bertemu, baik dalam mimpi maupun di akhirat. “Namun, jiwa-jiwa bisa bertemu satu sama lain dalam mimpi dan di Akhirat,” ujarnya dikutip dari Aboutislam, Senin (30/3/2026).

Dalam pandangan mayoritas ulama, seorang wanita akan bersama suami terakhirnya di Surga.

- Advertisement -

Hal ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Thabrani dan Ibnu Asakir, bahwa wanita yang menikah kembali setelah suaminya wafat akan bersama suami terakhirnya di akhirat.

Rasulullah SAW bersabda:

أيما امرأة توفى عنها زوجها فتزوجت بعده فهى لآخر أزواجها

Artinya: “Perempuan yang ditinggal mati suaminya, lalu menikah lagi sepeninggal suaminya, maka ia (di akhirat) adalah bagian dari suami terakhirnya di dunia.” (HR At-Thabrani).

Sahabat Nabi, Hudzaifah ibn al-Yaman, juga pernah menyatakan bahwa karena seorang istri akan menjadi pasangan terakhir suaminya di akhirat, maka istri-istri Nabi tidak diperbolehkan menikah lagi setelah wafatnya Rasulullah SAW.

Berikut hadits yang dikutip As-Sya’rani:

- Advertisement -

عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ لاِمْرَأَتِهِ : إِنْ سَرَّكِ أَنْ تَكُونِى زَوْجَتِى فِى الْجَنَّةِ فَلاَ تَزَوَّجِى بَعْدِى فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِى الْجَنَّةِ لآخِرِ أَزْوَاجِهَا فِى الدُّنْيَا فَلِذَلِكَ حَرُمَ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يَنْكِحْنَ بَعْدَهُ لأَنَّهُنَّ أَزْوَاجُهُ فِى الْجَنَّةِ

Artinya: “Hudzaifah bin al-Yaman mengatakan kepada istrinya, ‘Jika kau ingin aku menjadi suamimu di surga, jangan kau menikah sepeninggalku karena perempuan di surga adalah bagian dari suami terakhirnya di dunia.’”

Meski demikian, terdapat pula pendapat lain dari kalangan ulama. Ibn Qayyim al-Jawziyah cenderung pada pandangan bahwa seorang wanita akan bersama suami yang paling baik akhlaknya.

Pendapat ini merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Daruqutni, ketika Ummu Salamah bertanya kepada Nabi SAW tentang wanita yang menikah lebih dari sekali. Nabi menjawab bahwa ia akan bersama suami yang paling baik akhlaknya.

Alam Barzakh dan pertemuan jiwa

Setelah kematian, manusia memasuki alam barzakh sebelum Hari Kiamat dan kehidupan akhirat. Pengetahuan manusia tentang fase ini sangat terbatas karena termasuk perkara gaib.

Meski demikian, terdapat penjelasan bahwa jiwa orang hidup dan orang yang telah meninggal dapat bertemu dalam mimpi. Hal ini merujuk pada firman Allah dalam Aluran surat Az-Zumar ayat 42, yang menjelaskan bahwa Allah menahan jiwa orang yang telah ditetapkan kematiannya dan mengembalikan jiwa lainnya ke tubuhnya.

Sejumlah ulama tafsir seperti Ibnu Abbas menjelaskan dalam kondisi tidur, jiwa orang hidup dapat bertemu dengan jiwa orang yang telah wafat, saling bertanya, lalu kembali ke jasad masing-masing sesuai ketetapan Allah.

Bahkan, menurut sejumlah riwayat, orang yang telah meninggal dapat menyampaikan kabar kepada orang yang masih hidup melalui mimpi, termasuk informasi yang sebelumnya tidak diketahui.

Apakah pasti bertemu di Akhirat?

Pada akhirnya, pertemuan kembali di akhirat bergantung pada takdir Allah SWT. Jiwa-jiwa akan berkumpul kembali jika mereka berada di tempat yang sama, baik di Surga maupun di Neraka.

Karena itu, para ulama menekankan pentingnya berpegang pada dalil dari Alquran dan Sunnah dalam memahami perkara gaib seperti kehidupan setelah kematian.

“Secara umum, kehidupan al-Barzakh adalah urusan gaib (al-Ghaib) , dan kita harus percaya bahwa apa yang tercatat dalam Alquran dan Sunnah sudah cukup sebagai bukti. Dan Allah Maha Mengetahui,” jelas Maen Khalifa.

(RD/RPK)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini