KNews.id – Jakarta – Penggunaan headset tidak berbahaya jika dilakukan dengan bijak. Namun, penggunaan terlalu lama dengan volume tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran permanen.
Menurut dokter spesialis telinga, hidung, tenggorokan, bedah kepala dan leher Rumah Sakit Hermina, Muhammad Ade Rahman, kesadaran dan kebiasaan yang sehat menjadi kunci utama dalam menjaga fungsi pendengaran.
“Menikmati audio boleh saja, tetapi kesehatan pendengaran tetap harus menjadi prioritas. Jika Anda mengalami keluhan seperti telinga berdenging atau penurunan pendengaran, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis THT. Deteksi dini dapat mencegah kerusakan yang lebih berat di kemudian hari,” terang Rahman dicuplik dari laman Rumah Sakit Hermina, Bandung, Jumat (20/3/2026).
Rahman mengatakan penggunaan headset sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari pada masa kini. Banyak orang menggunakan headset untuk bekerja, belajar, bermain gim, hingga menikmati musik dan podcast.
Namun jika penggunaan headset terlalu lama dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Terutama jika digunakan dalam durasi lama dengan volume suara yang tinggi.
“Menurut berbagai penelitian, paparan suara di atas 85 desibel dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran. Volume maksimal pada beberapa perangkat audio bahkan bisa mencapai lebih dari 100 desibel, terutama jika digunakan dengan headset tertutup (in-ear),” jelas Rahman.
Rahman menyebut telinga manusia memiliki struktur yang sangat sensitif, terutama bagian koklea di telinga dalam yang berisi sel-sel rambut halus.
Sel-sel rambut ini berfungsi mengubah getaran suara menjadi sinyal listrik yang kemudian diteruskan ke otak. Paparan suara dengan intensitas tinggi dalam waktu lama dapat merusak sel-sel rambut tersebut.
“Sayangnya, sel rambut di telinga tidak dapat beregenerasi. Artinya, jika sudah rusak, gangguan pendengaran bisa bersifat permanen,” ungkap Rahman.
Gejala Awal dan Gangguan Pendengaran Akibat Headset
Rahman menerangkan gangguan pendengaran akibat kebisingan biasanya tidak langsung terasa. Namun, beberapa tanda awal yang perlu diperhatikan meliputi:
- Telinga berdenging (tinnitus)
- Pendengaran terasa berkurang setelah memakai headset
- Sulit mendengar percakapan dalam suasana ramai
- Perlu menaikkan volume lebih tinggi dari biasanya.
Jika gejala ini muncul berulang, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter THT untuk evaluasi lebih lanjut.
Terdapat 6 faktor risiko gangguan pendengaran akibat headset, antara lain:
1. Volume terlalu tinggi (lebih dari 60 persen volume maksimal).
2. Durasi penggunaan lebih dari 1–2 jam tanpa jeda.
3. Penggunaan headset tipe in-ear yang langsung masuk ke liang telinga.
4. Kebiasaan mendengarkan musik di lingkungan bising sehingga volume dinaikkan lebih keras.
5. Tidak memberi waktu istirahat bagi telinga.
6. Semakin tinggi volume dan semakin lama durasi pemakaian, semakin besar risiko kerusakan.
Cara Aman Pakai Headset
Rahman menuturkan agar tetap aman, Anda dapat menerapkan aturan berikut saat menggunakan headset:
- Gunakan aturan 60/60: maksimal 60 persen volume selama 60 menit, lalu istirahatkan telinga.
- Beri jeda minimal 5–10 menit setiap 1 jam pemakaian.
- Gunakan headset dengan fitur noise-cancelling agar tidak perlu menaikkan volume terlalu tinggi.
- Hindari penggunaan saat tidur.
- Lakukan pemeriksaan pendengaran berkala jika sering menggunakan headset.
Maka diperlukan kebijaksanaan Anda dalam menggunakan headset, apapun tipe dan jenisnya. Tetap diingat batas maksimal waktu penggunaan adalah dua jam dengan volume dibawah 60 persen dari maksimal tersedia





