Oleh : Damai Hari Lubis
KNews.id – Jakarta 16 Maret 2026 – Pola atau teori objektifitas dalam arti luas adalah metode kajian dijalan yang benar, sementara nyinyir terhadap praktik memantau diakhir perjuangan demi ego pribadi, wujud parameter analogi terhadap pola ego komentator disetiap rumah yang tidak mempengaruhi kebijakan sebuah mesin kepemimpinan dan pastinya tidak merubah score pertandingan bola yang on going apalagi pasca pluit pertandingan selesai.
Maka para nalar hidup mau bantu aktivis pejuang di jalan yang dianggap benar dan on going ideal turut serta sebagai aktor pemantik perjuangan lalu membersamainya… *atau mau dijalan lekas kesal ala ego lukas ? komentator barang bekas*
Lukasologi implementasi ilmu kepribadian, metode edukasi baru namun penganut terbanyak di tanah air hampir 99 persen lebih, ilmu tentang tridimensi Kritikusoklogis-Diktatoris- Sosiologis.
Ilmu tentang metode diktator terhadap kesimpulan atau pemaksa terhadap akhir cerita, ilmu yang peminat dan penganut yang mayoritas dan rata rata sick player dari sisi mentally ill. Imu khayal mayoritas tingkat dewa egosentris diktatoris yang melucu dan memuakkan dari sisi pandang ‘aktivis pegiat juang” bukan peselancar (penikmat barang jadi).
Dan pastinya ilmu ala lukasologis adalah jenis ilmu yang penganutnya terbanyak ditanah air, walau tanpa lukas lahir, ilmu ini tetap bakal on going .
Sehingga tipikal aktivis nyinyir metode perjuangan Lukas jauh lebih rendah dari Rismon yang jenuh memperhatikan dan merasakan model Lukasologi yang hingar bingar di setiap trotoar serta menyesaki isi rumah.
Namun hukum alam tetap saja pengumpat terus bakal zonk prestasi.
(FHD/NRS)




