spot_img
Selasa, Februari 17, 2026
spot_img
spot_img

Rekaman Dokumen Predator Seksual, Rencana Epstein dan Ehud Barak Bawa Sejuta Warga Rusia ke Israel

KNews.id – Jakarta 6 Februari 2026 – Rekaman dari dokumen terkait predator seksual Jeffrey Epstein mengungkapkan rencana mantan perdana menteri Israel Ehud Barak menerima sejuta warga berbahasa Rusia ke Israel. Rencana itu bagian dari upaya rasis mengimbangi imigran Yahudi dari Timur Tengah.

Dalam rekaman suara tersebut, Barak mengatakan banyak yang akan mengajukan permohonan dan beradaptasi di bawah “tekanan sosial,” dan menambahkan bahwa pihak berwenang bisa lebih “selektif” dibandingkan gelombang aliyah sebelumnya.

- Advertisement -

“(Dulu) mereka menerima siapapun yang datang hanya untuk menyelamatkan orang. Sekarang kita bisa selektif,” katanya dilansir Jerusalem Post, Rabu. Barak menyatakan bahwa Israel dapat “mengendalikan kualitas” pendatang baru dengan lebih efektif dibandingkan dekade-dekade sebelumnya dan berpendapat bahwa kebutuhan dapat menciptakan “fleksibilitas.”

Rekaman tak bertanggal tersebut mengungkapkan bahwa Barak berbicara terus terang kepada Epstein tentang kebutuhan Israel akan “satu juta orang Rusia tambahan untuk membawa perubahan dalam struktur negara.” Barak berpendapat bahwa jumlah ini akan membawa perubahan yang “sangat dramatis” di Israel, tidak hanya secara demografis, tetapi juga dalam struktur ekonomi dan budaya masyarakat Israel.

- Advertisement -

Berdasarkan bocoran tersebut, Barak menekankan selama pembicaraan bahwa Israel dapat menyerap jumlah ini dengan “mudah”. Namun ia menekankan perlunya pihak berwenang untuk “lebih selektif” dibandingkan pada gelombang imigrasi sebelumnya, dan mencatat bahwa keadaan saat ini sangat berbeda dari gelombang imigrasi sebelumnya.

Barak menambahkan, Israel, tidak seperti dulu ketika tujuan mendatangkan imigran adalah untuk “menyelamatkan orang” dan menerima semua orang yang datang, kini bisa lebih selektif dan mengontrol apa yang disebutnya “kualitas” imigran baru.

Rekaman yang bocor mengungkapkan Barak mengatakan kepada Epstein bahwa kebutuhan demografi Israel dapat menciptakan “fleksibilitas” dalam standar penentuan siapa yang bisa menjadi warga Israel. Selama ini, negara apartheid itu hanya menerima imigran yang bisa membuktikan memiliki darah Yahudi sebagai warga negaranya.

Menurut rekaman yang bocor tersebut, Barak mengatakan bahwa “tekanan sosial akan mempercepat integrasi para imigran ini,” dan menekankan perlunya menunjukkan lebih banyak toleransi dalam mendefinisikan siapa seorang Yahudi.

Barak mengisyaratkan perlunya memperluas kriteria afiliasi keagamaan untuk memfasilitasi asimilasi massa manusia ini, bahkan jika hal itu memerlukan perpindahan agama ke Yudaisme, dengan mengutip tokoh-tokoh Alkitab untuk membenarkan usulan ini.

Barak juga menuturkan soal percakapannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Ia mengatakan berulang kali mengatakan kepada Putin bahwa Israel “tidak hanya membutuhkan satu juta orang.” Ia mengenang pengalaman imigrasi besar-besaran pada tahun 1990-an dari bekas Uni Soviet, yang mendatangkan hampir satu juta imigran berbahasa Rusia dan, dalam kata-katanya, berkontribusi dalam membentuk kembali perekonomian Israel dan lanskap budayanya.

- Advertisement -

Sebagai reaksi langsung pertama, mantan Kepala Rabi Moskow Pinchas Goldschmidt menulis melalui platform X, “Saya bangga, ketika saya menjadi Kepala Rabi Moskow kami menghentikan inisiatif gila ini.”

Aljazirah mengutip para analis melaporkan, kebocoran ini akan mempunyai dampak yang luas dan mendalam dalam masyarakat Israel. Yang pertama berkaitan dengan krisis identitas, karena hal ini membuka kembali perdebatan mengenai definisi siapakah seorang Yahudi. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru tentang ke-Yahudi-an beberapa imigran yang berasal dari bekas Uni Soviet, dan apakah pertimbangan imigrasi lebih bersifat demografis dan politis daripada agama.

Tingkat kedua berkaitan dengan memburuknya perpecahan sektarian, karena pembicaraan Ehud Barak tentang selektivitas dan kualitas imigran dibandingkan dengan gelombang sebelumnya. Ini dipandang meremehkan imigrasi orang Yahudi dari negara-negara Arab dan Afrika Utara, yang dipindahkan ke Israel dalam kondisi yang sulit dan penuh tekanan setelah berdirinya negara tersebut.

Hal ini memunculkan kembali ketegangan historis antara Yahudi Ashkenazi, asal Eropa, dan Yahudi Sephardic dan Mizrahi dari Timur Tengah dan Afrika Utara.

Para pengamat menyatakan bahwa bahaya dari kebocoran ini dapat tersebut memperkuat narasi yang sudah ada mengenai superioritas budaya dan sosial dari elit Ashkenazi yang mendirikan negara tersebut. Hal itu juga dapat menguatkan marginalisasi historis kalangan Yahudi Timur, dan merupakan salah satu pendorong utama perdebatan politik dan sosial di Israel saat ini.

Barak adalah salah satu tokoh elit Ashkenazi yang mendirikan Israel. Ia dilahirkan pada tahun 1942 di Kibbutz Mishmar HaSharon di Palestina, dari sebuah keluarga Yahudi yang berimigrasi dari Eropa Timur sebelum berdirinya Israel. Ayahnya, Yisrael Brog, berimigrasi dari Lituania, sedangkan ibunya, Esther Godin, berasal dari Polandia, keduanya dianggap sebagai benteng sejarah Yahudi Eropa Timur (Ashkenazim).

(FHD/Rpk)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini