KNews.id – Jakarta 30 Januari 2026 – Setelah sempat mereda, Presiden AS Donald Trump kembali meningkatkan ancamannya terhadap Iran. Jika sebelumnya ancaman serangan terkait unjuk rasa di Iran, kali ini Trump memakai dalih perjanjian nuklir.
Donald Trump mengatakan kepada Teheran bahwa waktu hampir habis dan armada besar AS bergerak cepat menuju negara tersebut “dengan kekuatan, antusiasme, dan tujuan yang besar”. Melalui media sosial, presiden AS mengatakan pada Rabu bahwa armada yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln lebih besar daripada yang dikirim ke Venezuela sebelum penyingkiran Nicolás Maduro awal bulan ini dan “siap untuk segera memenuhi misinya dengan kecepatan dan kekerasan jika diperlukan”.
“Mudah-mudahan Iran akan segera ‘Datang ke Meja Perundingan’ dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan merata – TANPA SENJATA NUKLIR – yang baik bagi semua pihak. Waktu hampir habis, ini benar-benar penting!” tulis Trump lewat akun medsos Truth Social-nya.
Kepemilikan senjata nuklir Iran sejak lama dipermasalahkan Barat. Meskipun, Iran adalah negara penandatangan proliferasi nuklir dan fatwa ayatullah terdahulu melarang senjata pemusnah massal itu. Iran hingga saat ini mengeklaim tak sedang mengembangkan senjata nuklir. Namun, menurut pihak AS, negara tersebut telah berhasil memerkaya uranium yang selangkah lagi bisa dijadikan bom nuklir.
Iran sedianya telah bersedia ke meja perundingan, bahkan menyepakati kesepakatan dengan AS dan Eropa dengan imbalan pencabutan sebagian sanksi ekonomi pada 2015. Justru Trump pada pemerintahan pertamanya yang menarik AS keluar dari perjanjian nuklir tersebut.
Belakangan, kemampuan nuklir Iran kembali jadi sorotan seturut genosida yang dilakukan Israel di Gaza. Jika Iran berhasil memiliki senjata nuklir, Israel bakal jadi sasaran dengan kelakukan seperti saat ini. Pada Juni 2023 lalu, rudal-rudal Iran berhasil mencapai Tel Aviv sebagai balasan atas serangan negara Zionis. Proyektil dari Iran menghantam Tel Aviv, Israel, Sabtu dini hari, 14 Juni 2025.
AS akhirnya turun tangan mengebom tiga situs nuklir Iran. Bagaimanapun, belakangan kemampuan nuklir Iran menurut AS masih mengancam. Ancaman Trump kali ini agaknya mengonfirmasi kemampuan tersebut.
“Seperti yang pernah saya katakan kepada Iran sebelumnya, BUAT KESEPAKATAN! Mereka tidak melakukannya, dan terjadilah ‘Operasi Midnight Hammer’, sebuah kehancuran besar di Iran. Serangan selanjutnya akan jauh lebih buruk! Jangan sampai hal itu terjadi lagi.”
Ini merupakan indikasi paling jelas dari Trump bahwa ia bermaksud melancarkan serangan militer dalam waktu dekat jika Iran menolak untuk menegosiasikan kesepakatan mengenai masa depan program nuklirnya. Postingan tersebut juga mencerminkan perubahan luar biasa dalam alasan Gedung Putih untuk mengirimkan kelompok tempur kapal induk ke wilayah tersebut, beralih dari kemarahan atas kematian para pengunjuk rasa ke nasib program nuklir Teheran.
Trump mendesak warga Iran untuk terus melakukan protes awal bulan ini, dengan mengatakan kepada mereka “bantuan sedang dikirim”, namun ia kemudian menarik kembali alasan bahwa “pembunuhan telah berhenti”.
Ada spekulasi bahwa ia sebenarnya menahan diri karena tidak memiliki cukup aset militer di wilayah tersebut, negara-negara Teluk telah mendesak untuk menahan diri dan Israel telah menyarankan bahwa mereka memerlukan lebih banyak waktu untuk bersiap menghadapi kemungkinan pembalasan dari Iran.
Balasan ke Tel Aviv
Para pejabat Iran pada Rabu langsung mengeluarkan peringatan keras terhadap setiap serangan AS terhadap negara tersebut. Penasihat utama pemimpin tertinggi Iran mengancam bahwa Teheran akan menyerang Israel jika terjadi serangan dengan balasan yang “belum pernah terjadi sebelumnya”, termasuk “di jantung Tel Aviv.”
Dalam postingan ke X dalam bahasa Persia dan Ibrani, Ali Shamkhani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan: “Serangan terbatas [AS] adalah ilusi. Setiap tindakan militer yang dilakukan Amerika, dalam bentuk apa pun dan di tingkat mana pun, akan dianggap sebagai awal perang, dan responsnya akan bersifat segera, komprehensif, dan belum pernah terjadi sebelumnya, ditujukan kepada pihak agresor, di jantung Tel Aviv, dan kepada semua pihak yang mendukung penjajah.”
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga mengatakan mereka “memantau dengan cermat perilaku dan pergerakan musuh” dan memiliki rencana untuk semua “skenario musuh”. “Pengalaman perang 12 hari menunjukkan bahwa opsi militer terhadap Iran telah gagal,” kata juru bicara IRGC seperti dikutip oleh Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB).
“Intimidasi melalui pencitraan perang dan pengerahan kapal induk adalah taktik lama para pejabat Amerika. Kami memiliki pengalaman mengalahkan musuh dalam perang modern, bahkan dalam skala besar dan dalam situasi paling berbahaya dan kompleks.”
Menanggapi ancaman intervensi militer Trump, Misi Iran untuk PBB mengatakan mereka terbuka untuk “dialog berdasarkan rasa saling menghormati” tetapi akan melakukan pembalasan yang belum pernah terjadi sebelumnya jika diperlukan.
“Terakhir kali Amerika melakukan kesalahan dalam perang di Afghanistan dan Irak, mereka menghamburkan lebih dari $7 triliun dan kehilangan lebih dari 7.000 nyawa orang Amerika,” kata misi Iran dalam sebuah postingan di X.
“Iran siap berdialog berdasarkan rasa saling menghormati dan kepentingan – TETAPI JIKA DIDUKUNG, Iran AKAN MEMBELA DIRI DAN MERESPON TIDAK SEPERTI SEBELUMNYA!”.
Angkatan Laut AS telah mengerahkan Kelompok Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln yang kini berada di Laut Arab. Kapal induk ini mengoperasikan hingga 70 pesawat, termasuk jet tempur FA-18 dan pesawat pengintai.
Sistem bertenaga nuklirnya memungkinkan penyebaran jangka panjang tanpa perlu mengisi bahan bakar. Kapal ini juga disertai dengan tiga kapal perusak berpeluru kendali, yang mampu menyerang sasaran jauh di daratan dan mempertahankan kapal induk dari serangan udara atau laut.
Koresponden Aljazirah menganalisi, kali ini AS menetapkan tuntutan yang jelas: Mengurangi persediaan dan jangkauan rudal balistik Iran, terutama rudal yang dapat mencapai Israel, menghentikan sepenuhnya pengayaan nuklir, mengakhiri dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan, dan menghapus segala ancaman terhadap keamanan Israel.




