KNews.id – Jakarta 23 Januari 2026 – Dalam Islam, silaturahmi (shilaturrahim) bukan sekadar tradisi sosial, melainkan ibadah yang berdimensi spiritual dan sosial. Kata silaturahmi berasal dari bahasa Arab shilah (menyambung) dan rahim (kasih sayang, rahim).
Secara istilah, silaturahmi dimaknai sebagai upaya menyambungkan hubungan kekerabatan dan persaudaraan yang terputus, baik secara fisik maupun emosional.
Merujuk Jurnal Konsep Silaturahim Dalam Alquran Dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Agama Islam di Sekolah, oleh Utami Dewi, dkk, secara istilah, Al-Qur’an dan hadis menegaskan bahwa silaturahmi merupakan ciri orang beriman. Dalam QS. An-Nisa’ [4]: 1, Allah berfirman: “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi.”
Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis riwayat Bukhari: “Tidaklah orang yang mengadakan silaturahmi itu orang yang membalas, tetapi ia adalah jika diputus hubungan rahimnya maka ia menyambungnya.” (HR. Bukhari).
Dari kedua dalil ini dapat dipahami bahwa hakikat silaturahmi justru teruji ketika hubungan sedang renggang atau terputus. Berikut adalah cara memperbaiki hubungan silaturahmi yang renggang menurut Islam.
Langkah-Langkah Praktis Memperbaiki Silaturahmi yang Renggang
Menurut jurnal Shilaturrahim sebagai Upaya Menyambungkan Tali yang Terputus (Istianah, 2016), berikut ini adalah langkah praksis untuk memperbaiki silaturahmi yang renggang menurut Islam.
Langkah-langkah praktis memperbaiki silaturahmi yang renggang:
- Mulai dengan Niat Ikhlas karena Allah
Silaturahmi harus dilandasi keikhlasan, bukan karena ingin dibalas atau tujuan duniawi. Niat yang tulus akan memudarkan ego dan mempermudah proses rekonsiliasi.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya…” (HR. Bukhari-Muslim).
- Jadilah Washil (Penyambung/penghubung)
Ada tiga tingkatan pelaku silaturahmi, yakni:
Washil: menyambung hubungan meski pihak lain memutus.
Mukafi: membalas kebaikan seimbang.
Qathi’: memutus hubungan.Orang yang pertama kali menyambung hubungan (washil) adalah yang paling utama di mata Allah.
- Utamakan Pendekatan Personal dan Komunikasi Langsung
Silaturahmi adalah bentuk komunikasi yang humanis. Mulailah dengan mengunjungi atau menelpon, atau mengucapkan salam dan senyuman. Bisa juga dengan bertanya kabar dengan tulus. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari).
- Berikan Bantuan sesuai Kemampuan
Bantuan tidak harus material. Memberi perhatian, doa, atau sekadar mendengarkan keluh kesah sudah termasuk silaturahmi.
Hal ini terkatub dalam QS. Al-Baqarah [2]: 267: “Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik…”Penjelasan ulama:Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebut bahwa silaturahmi termasuk ibadah hati yang melahirkan ketenteraman.
- Maafkan dan Jauhi Sikap Pilih Kasih
Meminta maaf dan memaafkan adalah inti dari menyambung hubungan. Jangan membeda-bedakan orang berdasarkan status sosial. Hal ini berdasar QS. Ali Imran [3]: 134: “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain.”
Silaturahmi dalam Perspektif Ulama Tafsir
Merujuk studi di atas, beberapa kitab tafsir terkemuka memberikan penjelasan mendalam mengenai urgensi dan cara menjaga hubungan ini:
- Tafsir Al-Qurthubi (Syaikh Imam Al-Qurthubi)
Dalam menafsirkan QS. Muhammad ayat 22, Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kekeluargaan (al-rahim) terbagi dua: umum (sesama agama) dan khusus (kekerabatan darah). Beliau menekankan bahwa memperbaiki hubungan harus dimulai dari kerabat yang paling dekat, dengan memberikan hak-hak mereka secara materi maupun moral.
Memutuskan hubungan ini dianggap sebagai kemaksiatan yang besar dan pelakunya diancam dengan azab.
- Tafsir Al-Mishbah (M. Quraish Shihab)
Silaturahmi dipandang sebagai bentuk komunikasi manusia yang paling mendasar yang memungkinkan terjadinya pertukaran jasa dan tolong-menolong. Quraish Shihab menggarisbawahi bahwa silaturahmi adalah komunikasi tingkat tinggi yang berlandaskan iman, bukan sekadar basa-basi sosial.
- Tafsir Fi Zhilalil Qur’an (Sayyid Quthb)
Menjaga hubungan kekerabatan adalah bagian dari perjanjian suci kepada Allah. Sayyid Quthb menjelaskan bahwa orang yang memelihara silaturahmi sebenarnya sedang membangun “fondasi besar” bagi seluruh bangunan kehidupan sosialnya.
Prioritas Silaturahmi, dari Keluarga Inti hingga Masyarakat
Dalam Islam, silaturahmi memiliki skala prioritas yang jelas. Merujuk pada QS. Muhammad [47]: 22 yang menegaskan kewajiban menjaga hubungan dengan keluarga sedarah (rahim khusus). Ini mencakup orang tua, anak, saudara kandung, dan kerabat dekat yang terhubung secara nasab.
Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kerabat memiliki hak yang lebih utama, baik dalam hal bantuan material, perhatian, maupun warisan.
Setelah hubungan dengan keluarga inti terbina, silaturahmi diperluas kepada sesama muslim (rahim umum) sebagaimana dalam QS. Al-Hujurat [49]: 10 yang menyatakan bahwa orang beriman itu bersaudara.
Selanjutnya, lingkaran ini meluas kepada seluruh manusia, termasuk non-muslim, dengan tetap menjaga etika dan prinsip kebaikan universal. Urutan ini bukan berarti mengabaikan yang jauh, tetapi mengajarkan bahwa kebaikan dimulai dari yang terdekat. Rasulullah SAW bersabda: “Mulailah dari dirimu sendiri, lalu keluargamu.”
Dengan memprioritaskan keluarga terdekat, kita membangun pondasi sosial yang kuat sebelum memperluas kepedulian kepada tetangga, teman, dan masyarakat luas.
Waspada Penyebab Putusnya Silaturahmi
Dalam pandangan Islam, silaturahmi dapat putus karena berbagai hal. Berikut ini adalah beberapa faktor yang menyebabkan putusnya silaturahmi. Oleh karena itu, umat Islam wajib menghindarinya.
- Ego dan Gengsi
Keangkuhan dan harga diri yang berlebihan menghalangi seseorang untuk memulai rekonsiliasi. Islam mengajarkan tawadhu (rendah hati) sebagai lawan dari ego.
- Kesalahpahaman yang Tidak Dikomunikasikan
Masalah kecil sering membesar karena tidak segera dibicarakan dengan baik. Rasulullah SAW menganjurkan dialog langsung (ishlah) untuk menyelesaikan perselisihan.
- Sikap Tidak Peduli (Acuh Tak Acuh)
Mengabaikan hubungan dan tidak menjaga komunikasi perlahan-lahan memutuskan ikatan. Hadis menekankan bahwa menyambung silaturahmi adalah kewajiban yang aktif.
- Dendam dan Iri Hati
Perasaan negatif ini meracini hati, menghalangi niat untuk berbaik. Allah memerintahkan untuk membersihkan hati dan memaafkan (QS. Ali Imran: 134).
Allah secara tegas mengancam pelaku pemutusan hubungan dalam QS. Muhammad [47]: 22-23, menggolongkannya sebagai perusak di muka bumi yang berhak mendapat laknat. Ini menunjukkan betapa seriusnya menjaga persaudaraan dalam Islam.
Hikmah Menyambung Silaturahmi yang Renggang
- Dilapangkan Rezeki dan Dipanjangkan Umur
Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah menyambung silaturahmi (HR. Bukhari). Ini mencakup keberkahan dalam harta, kesehatan, dan hubungan sosial yang membuka pintu rezeki.
- Pengampunan Dosa
Silaturahmi termasuk amal shaleh yang dapat menghapuskan kesalahan. Allah berfirman: “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud [11]: 114).
- Mendapat Rahmat dan Perlindungan Allah
Dengan menjaga silaturahmi, seseorang mendapatkan kasih sayang Allah dan dijauhkan dari laknat-Nya. QS. Ar-Ra’d [13]: 21 menjanjikan tempat terbaik di akhirat bagi mereka yang menyambung apa yang Allah perintahkan.
- Memperkuat Persatuan dan Keharmonisan Sosial
Silaturahmi menciptakan ikatan solidaritas, mencegah konflik, dan membangun masyarakat yang saling mendukung, sesuai dengan prinsip ukhuwah dalam Islam.




