spot_img
Selasa, Februari 17, 2026
spot_img
spot_img

Kenapa Anies Baswedan Tidak Memposisikan Diri Sebagai Ketua Umum Partai Gerakan Rakyat?

Oleh : Sutoyo AbadiĀ 

KNews.id – Jakarta 20 Januari 2026 – Gerakan Rakyat, sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas) pendukung Anies Baswedan, mendeklarasikan diri menjadi partai politik bernama Partai Gerakan Rakyat pada 18 Januari 2026. Deklarasi ini dilakukan melalui Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I di Jakarta, dengan Sahrin Hamid ditetapkan sebagai Ketua Umum untuk periode 2026-2031.

- Advertisement -

Selamat semoga setelah menjadi partaiĀ  pada Pilpres mendatang bisa menopang Anies Baswedan maju kembali dalam kontestasi Pilpres 2029.

Sekedar referensi berdasarkan pengalaman Tim Sukses yang tiba waktunya akan muncul memiliki kualifikasi dan kepekaan psikologi dan politik yang tinggi dengan situasi dan kondisi politik yang nyata masih hidup di Indonesia.

- Advertisement -

Referensi dari pakar politik telah memberikan rambu rambu ciri pemilih di Indonesia, memiliki perilaku aneh kadang tidak rasional tetapi benar benar terjadi.

Ciri mereka ( rakyat ) mentukan pilihannya tidak semata-mata kerena pertimbangam mendahulukan pemimpin yang cerdas, jujur dan adil, pidatonya rapi, idenya paling sistematis, visinya paling masuk akal, debatnya paling tajam, otomatisĀ  rakyat akan terpikat.

Pilihan justru selalu karena alasan yang tidak rasional yaituĀ  yang dimainkan psikologi masa,Ā  rasa kasihan, iba, kelihatan dizalimi, direndahkan, difitnah, kelihatan lemah.

Seolah olah merakyat,Ā  blusukan, masuk gorong – gorong, memangul beras, kelihatan sederhana, pesona jujur, penampilan dengan pakaian apa adanya. Semua dipermak politik pakai rasa, kesan, emosi, bukan kagum tetapi rasa kasihan.

Papan catur politik seperti ini nyata terjadi bisa menenggelamkan seorang capres selalu tampil rapi, konseptual, intelektual, kelihatan kelas atas, tampil sebagai intelektual, sebagai orang pintar, mejelaskan, membedah, menerangkan, akan dihindar,Ā  tidak dibutuhkan karena mereka akan pilih yang sehati. Bahkan kadang sangat sederhana, akan pilih orang yang susah dan di dzalimi, jadi siapa yang bisa memainkan perasaan rakyat.

Apalgi capres yang tampil sombong, galak, tegas, keras, akan menjadi figur yang ditakuti, bahkan sebagai ancaman.

- Advertisement -

Politik di Indonesia masih digerakkan oleh emosi, bukan oleh seorangĀ  intelektual, analisis, bukan oleh visi dan misi yang hebat, bukan oleh kompetensi,Ā  kapasitas dan kapabilitasnya tetapi siapa yang paling jago merekayasa akting Capresnya seolah – olah paling merakyat.

Apakah faktor diatas adalah variabel paling menentukan untuk kemenangan seorang Capres di Indonesia. Jawabannya pasti tidak.

Kekuatan modal untuk membeli suara, merekayasa / memanipulasi perolehan suara, mengubah dengan cepat perolehan suara, membeli dan mengendalikan semua aktor terkait Pilpres untuk bekerja dalam satu frekuensi Capresnya harus menang. Bahkan angka kemenangan sudah bisa ditentukan jauh hari sebelum pemilihan.

Dibalik sukses Rakernas, tersisa ada teka – teki dari sebagian anggota Ormas Gerakan Rakyat sebuah pertanyaan Kena apa Bung Anes Baswedan tidak memposisikan diri sebagai Ketua Umum Partai Gerakan Rakyat, yang memiliki historis dengan kakeknya bernama Abdurrahman Baswedan (AR Baswedan)Ā  seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2018 dan cukup kuat dengan masyarakat Jawa.

(FHD/NRS)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini