Oleh : Sutoyo Abadi
KNews.id – Yogyakarta 11 Januari 2026 – Fenomena Egi Sujana dan Joko Widodo bukan sekadar episode personal, tetapi potret telanjang sebuah ibrah atau resonansi perlawanan untuk kebenaran dan keadilan dipaksa harus menyerah.
Ketika kebenaran dan keadilan telah menjadi milik kekuasaan, rakyat yang bertanya tentang kebohongan menjadi wilayah yang terlarang. Kejahatan Jokowi yang masih dilindungi kekuasaan seperti personal yang sakral dan dilarang untuk digugat.
Sosok Jokowi yang selama 10 tahun berkuasa tidak lebih hanya sebagai boneka dari kekuatan di luar dirinya, telah menjual kedaulatan negara berujung negara jatuh pada kendali kapitalis oligarki hitam.
Yang terjadi justru tercipta seolah olah Jokowi sangat mengagumkan ( admiratif) seakan akan memiliki kehebatan yang luar biasa, lebih parah sebagian masyarakat terinspirasi rasa kagum ( awe-inspiring atau formidable ) gambaran imajinasi campuran rasa hormat yang mendalam, kekaguman, dan rasa takut atau ketakutan.
Terjadi proses formidable menggambarkan seseorang yang hebat, kuat, atau tangguh, sehingga sulit dikalahkan atau ditangani, dan karenanya bisa menakutkan atau mengintimidasi.
Sekalipun Jokowi telah menyandang stigma pembohong dan penipuan tetap dianggap sebagai wilayah paling sensitif, memperkarakan dugaan keabsahan ijazah Presiden yang kala itu masih menjabat atau baru saja lengser.
Bisa diterjemahkan kedatangan Egi Sujana ke rumah Jokowi bukan sekadar gestur personal. Dalam konteks perjuangan membela kebenaran dan keadilan, tindakan itu sarat simbol kekalahan dan ketertundukan seorang yang selama ini dianggap personifikasi sebagai pemberani jatuh tersungkur sebagai pengecut bahkan ada stigma sebagai penghianat.
Jokowi yang sudah menjadi bebek lumpuh apa benar masih dianggap sebagai figur sakti dan tak tersentuh. Ternyata ada rahasia dibalik semua bayangan yang tampak hebat adalah Jokowi selama berkuasa hanya jadi boneka telah menjelma menjadi salah satu imperium pemilik Angpao sebagai magnit sentralnya.
Ketertundukan Eggi Sudjana merapat ke Jokowi patut diduga bukan semata soal permintaan maaf atas perlawanannya selama ini menggugat dugaan ijazah palsu Jokowi, ada negosiasi lain dengan sosok atau figur imperium pemilik Angpao.
Semua harus waspada karena sergapan _angpoa oleh oligarki sudah menjamah semua pejabat negara, bahkan mereka tega menjual kedaulatan negara.
Sejarah akan mencatat mereka yang tetap berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan seperti memegang bara api, itu nash ilahiyah.Tetapi justru dari merekalah, wajah asli kekuasaan akan terlihat dengan jelas jahiliahnya.
Terkait dengan Eggi Sudjana ucapan Cerdas, Berani, Militan didepan Jokowi adalah anding Eggi Sudjana sudah berakhir tidak diperlukan penjelasan lagi. Semua dampak menyangkut reputasinya biar ditanggung sendiri.
(FHD/NRS)




