spot_img
Jumat, Februari 20, 2026
spot_img
spot_img

Mantapkan Hati, Perintah Allah SWT Untuk Bertebaran di Muka Bumi Setelah Sholat Jumat

KNews.id – Jakarta 12 Januari 2026 – Setiap perintah yang Allah turunkan dalam Alquran tidak pernah bersifat sia-sia, melainkan selalu menyimpan rahasia dan hikmah yang mendalam bagi kehidupan setiap insan.

Perintah tersebut bukan sekadar ritual formalitas, melainkan sebuah desain hidup yang menyeimbangkan antara kebutuhan ruhani dan jasmani. Ketika Allah menetapkan suatu syariat, di dalamnya terkandung kasih sayang yang bertujuan untuk memuliakan manusia, memastikan kesejahteraan mereka, serta memberikan arah agar setiap langkah yang diambil di dunia ini berbuah pahala dan keberkahan yang nyata.

- Advertisement -

Perintah untuk bergerak ini tertuang secara spesifik dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 10 yang berbunyi:

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

- Advertisement -

Fa idza qudhiyatish-sholatu fantasyiru fil-ardhi wabtaghu min fadhllillahi wadzkurullaha katsiran la’allakum tuflihun.

“Apabila sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”

Dalam membedah frasa fantasyiru fil-ardhi (bertebaranlah kamu di muka bumi), Tafsir Al-Kabir karya Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan bahwa perintah ini menunjukkan kebolehan (ibahah) untuk kembali beraktivitas mencari nafkah setelah sebelumnya dilarang saat azan berkumandang.

Sementara itu, Tafsir At-Thabari menekankan bahwa makna “bertebaran” bukan sekadar berjalan tanpa tujuan, melainkan bergerak aktif mencari rezeki dan memenuhi kebutuhan hidup sebagai bentuk ketaatan setelah menunaikan kewajiban ibadah kepada-Nya.

Hikmah besar di balik perintah ini adalah penegasan bahwa Islam adalah agama yang sangat menghargai etos kerja dan produktivitas. Allah tidak menginginkan hamba-Nya hanya berdiam diri di dalam masjid setelah sholat usai, melainkan mendorong mereka untuk menjadi penggerak ekonomi dan peradaban. Dengan bertebaran di muka bumi, manusia diajarkan untuk menjemput takdir kesuksesannya melalui usaha yang sungguh-sungguh.

Ini merupakan pesan kuat bahwa spiritualitas yang tinggi harus dibarengi dengan aksi nyata di lapangan, sehingga seorang Muslim bisa menjadi tangan di atas yang mampu memberi manfaat luas bagi sesama.

- Advertisement -

Selain itu, perintah ini mengandung rahasia tentang pentingnya manajemen waktu dan keseimbangan hidup. Allah mengatur ritme kehidupan kita dengan sangat indah: ada waktu khusus untuk berhenti total dari urusan dunia demi menghadap-Nya, dan ada waktu untuk bekerja keras menjemput karunia-Nya.

Hal ini mendidik jiwa agar tidak menjadi hamba materi yang lupa penciptanya, namun juga tidak menjadi pribadi yang pasif secara sosial-ekonomi. Bertebaran setelah sholat Jumat adalah simbol dari integrasi antara ketaatan vertikal (kepada Allah) dan kebermanfaatan horizontal (kepada makhluk).

Kekhasan Hari Jumat

Lantas, apa yang membedakan hari Jumat dengan hari-hari lainnya dalam kalender Islam? Jumat adalah Sayyidul Ayyam atau penghulu segala hari yang memiliki kemuliaan khusus yang tidak dimiliki hari lain. Pada hari ini, pintu langit terbuka lebar dan terdapat waktu-waktu mustajab untuk berdoa.

Namun, keistimewaan yang paling mencolok adalah adanya kewajiban sholat Jumat yang menjadi momentum persatuan umat. Jika pada hari biasa kita bekerja secara rutin, pada hari Jumat ritme kerja tersebut diinterupsi oleh panggilan agung yang menyatukan seluruh strata sosial dalam satu shaf yang sama.

Perbedaan lainnya terletak pada dimensi keberkahan rezeki yang dicari pada hari Jumat. Aktivitas ekonomi yang dilakukan setelah sholat Jumat dipandang sebagai kelanjutan dari ibadah itu sendiri.

Jika hari-hari lain mungkin terasa sebagai rutinitas biasa, maka “bertebaran” di hari Jumat memiliki aura spritual yang lebih kental karena dilakukan tepat setelah batin dibersihkan melalui khutbah dan sholat jamaah. Semangat yang dibawa ke pasar, kantor, atau ladang adalah semangat kesucian, sehingga diharapkan cara mencari rezekinya pun tetap terjaga dalam koridor yang halal.

Lebih jauh lagi, hari Jumat adalah momentum bagi setiap Muslim untuk melakukan “reset” mingguan terhadap orientasi hidupnya. Perintah bertebaran setelah sholat memberikan kesempatan bagi kita untuk mengaplikasikan nilai-nilai kejujuran dan amanah yang baru saja didengar dari mimbar Jumat ke dalam transaksi nyata di dunia luar. Inilah yang membedakan aktivitas ekonomi Muslim dengan sistem lainnya; yakni adanya keterikatan batin dengan sang Pencipta dalam setiap derap langkah pencarian karunia-Nya.

Rahasia lain dari perintah ini adalah untuk menunjukkan eksistensi dan kekuatan umat Islam di ruang publik. Dengan bertebaran di muka bumi secara serentak setelah sholat, umat Islam menunjukkan bahwa mereka adalah entitas yang hidup, dinamis, dan mandiri secara ekonomi. Hal ini menciptakan kesan positif bahwa rumah ibadah bukanlah tempat pelarian dari realitas, melainkan pusat energi untuk menaklukkan tantangan dunia dengan cara yang beradab dan penuh berkah.

Allah juga menyertakan syarat “ingatlah Allah banyak-banyak” di tengah perintah bertebaran tersebut. Ini adalah kunci agar kesibukan duniawi tidak menyeret manusia ke dalam kelalaian. Hikmahnya adalah agar setiap Muslim memiliki kesadaran ketuhanan yang melekat (God-consciousness) di mana pun mereka berada. Dengan demikian, pasar dan kantor pun bisa berubah menjadi “masjid” dalam arti luas, tempat di mana asma Allah diagungkan melalui integritas kerja dan akhlak yang mulia.

Sebagai penutup, perintah bertebaran di muka bumi setelah sholat Jumat adalah manifestasi dari konsep falah atau keberuntungan sejati. Keberuntungan ini bukan hanya soal angka di rekening bank, melainkan ketenangan hati karena bekerja di bawah naungan rida Allah.

Dengan memahami rahasia ini, kita tidak lagi memandang kerja sebagai beban, melainkan sebagai bagian utuh dari rangkaian ibadah yang akan membawa kita pada kesuksesan dunia sekaligus kebahagiaan di akhirat kelak sebagaimana yang dijanjikan dalam Alquran.

(FHD/Rpk)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini