KNews.id – Jakarta 5 Januari 2026 – Dalam khazanah hadis yang dikutip Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Banteni, terdapat penjelasan mendalam tentang keutamaan sabar menghadapi musibah. Rasulullah SAW menerangkan, tidak semua amal kelak ditimbang dengan mizan pada hari kiamat.
Ada golongan hamba yang justru memperoleh pahala tanpa hitungan, yakni mereka yang diuji dengan musibah di dunia dan menjalaninya dengan kesabaran penuh keimanan.
Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Banteni dalam Nashaihul Ibad meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda sebagai berikut:
“Apabila kiamat telah tiba, maka timbangan diletakkan, lalu ahli sholat didatangkan, maka dipenuhi pahala-pahala mereka sesuai perhitungan mizan. Lalu didatangkan orang-orang yang berpuasa dan diberikan pahala mereka sesuai dengan perhitungan mizan.”
“Akhirnya didatangkan orang-orang yang sewaktu hidup di dunia ditimpa musibah, untuk mereka tidak diperhitungkan dengan mizan dan tidak pula dibentangkan kepada mereka catatan amalnya, (mereka) diberi pahala sepenuhnya tanpa hitungan, sehingga orang-orang yang selamat mengharapkan mendapat kedudukan seperti mereka karena banyaknya pahala dari Allah SWT.”
Sabda Nabi Muhammad SAW tersebut menegaskan, amal sholat, puasa, dan haji akan diperhitungkan dalam timbangan amal. Meski demikian, ada amal perbuatan yang tidak diperhitungkan (tidak terhitung jumlahnya) sama sekali, yaitu orang-orang yang sewaktu hidup di dunia tertimpa suatu musibah kemudian mereka sabar menghadapinya.
Pada hari kiamat, orang-orang yang sewaktu di dunianya senantiasa berada dalam kesenangan, kemudahan, dan kekayaan, mereka mengharapkan dapat seperti orang-orang yang ditimpa musibah, karena banyaknya pahala yang diberikan oleh Allah kepada mereka.
Alquran juga mengingatkan Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin terhadap kisah kesabaran Nabi Ismail, Idris dan Zulkifli. Kesabaran dan kesalehan tiga Nabi ini menjadi contoh. Hal ini dijelaskan dalam Surah Al-Anbiya Ayat 85 dan tafsirnya.
وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِدْرِيْسَ وَذَا الْكِفْلِۗ كُلٌّ مِّنَ الصّٰبِرِيْنَ ۙ
(Ingatlah pula) Ismail, Idris, dan Zulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang sabar. (QS Al-Anbiya: 85)
Dalam penjelasan Tafsir Kementerian Agama, ayat ini menerangkan, Allah memperingatkan Rasulullah SAW dan kaum Muslimin dengan kisah Nabi Ismail, Idris dan Zulkifli, yang kesemuanya adalah orang-orang yang sabar dalam menghadapi musibah yang menimpa diri mereka masing-masing.
Berkat kesabaran dan kesalehan mereka maka Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada mereka. Nabi Ismail Alaihissalam, putra Nabi Ibrahim dari istrinya Siti Hajar, telah terbukti kesabarannya ketika ia hendak disembelih ayahnya sebagai korban atas perintah Allah.
Nabi Ismail juga sabar dan ulet untuk hidup di daerah tandus dan gersang. Setelah ayahnya menempatkan dia bersama ibunya di Makkah, di tengah-tengah jazirah Arab yang gersang. Nabi Ismail dengan sabar menunaikan tugasnya yang berat membangun Kabah dan Baitullah bersama ayahnya.
Allah SWT pun memberikan penghormatan dan kemulian yang tinggi kepada Nabi Ismail, yaitu dengan diangkatnya salah seorang keturunannya menjadi Nabi dan Rasul Allah yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW.
Adapun Nabi Idris, adalah juga seorang yang saleh dan sabar. Ia diutus menjadi Rasul sesudah Nabi Syis dan Nabi Adam Alaihissalam. Banyak orang mengatakan bahwa Nabi Idris ini yang mula-mula pandai menjahit pakaian, dan mula-mula memakai pakaian yang dijahit, sedang orang-orang yang sebelumnya hanya memakai pakaian dari kulit binatang dan tidak dijahit.
Mengenai Nabi Zulkifli, menurut pendapat kebanyakan ahli tafsir, dia adalah seorang Nabi pula, dan putra dari Nabi Ayyub Alaihissalam. Allah mengutusnya menjadi Nabi sesudah ayahnya.
Nabi Zulkifli menjalankan dakwahnya mengesakan Allah baik dalam aqidah maupun dalam ibadah. Selama hidupnya ia berdiam di negeri Syam, ia merupakan Nabi yang saleh dan sabar. Nabi Zulkifli dari kalangan Bani Israil.
Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa Nabi Ismail, Idris dan Zulkifli telah dimasukkan-Nya dalam lingkungan rahmat-Nya, dan ditempatkan-Nya dalam surga Jannatuna`im, sebagai balasan atas kesabaran dan kesalehan mereka.



